RM.id Rakyat Merdeka - Suasana Rumah Sakit Umum (RSU) Pemasyarakatan Jakarta di Cipinang, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026), tampak ramai. Sejumlah pasien datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Di tengah aktivitas tersebut, petugas medis sibuk melayani masyarakat umum, warga binaan, hingga petugas pemasyarakatan.
Meski berada di lingkungan pemasyarakatan, suasana rumah sakit tidak terasa kaku. Penataan ruangan dan fasilitas yang tersedia memberikan kesan nyaman, bersih, dan wangi. Sekilas, rumah sakit yang berada di bawah pengelolaan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) itu bahkan terasa seperti hotel. Namun, aktivitas utamanya tetap pelayanan kesehatan.
Kesan tersebut turut dirasakan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Octavianus saat mengunjungi RSU Pemasyarakatan Jakarta. Benyamin bahkan mengaku terkejut setelah mengetahui rumah sakit tersebut ternyata terbuka bagi masyarakat umum.
"Oh, ini melayani umum juga?" tanya Benyamin kepada Kepala RSU Pemasyarakatan, Ummu Salamah.
"Iya, Pak," jawab Ummu.
Benyamin kemudian menanyakan kelengkapan fasilitas kesehatan, termasuk kapasitas kamar rawat inap. Ummu menjelaskan, RSU Pemasyarakatan Jakarta memiliki 26 tempat tidur untuk pasien umum dan 60 tempat tidur bagi warga binaan.
"Ada (fasilitas rawat inap), untuk umum dan warga binaan. Untuk umum 26 (ranjang), untuk warga binaan 60 ranjang," terang Ummu.
Benyamin menilai pelayanan kesehatan di RSU Pemasyarakatan cukup memadai. Salah satu indikatornya adalah dukungan tenaga kesehatan yang tersedia.
"Sangat luar biasa, ada 14 dokter spesialis, 60 dokter umum. Jadi kalau hanya untuk memenuhi pelayanan di sini, sangat cukup," ujar Benyamin.
Baca juga : BGN Perkuat Kolaborasi Bersama Kementerian Kesehatan dan Para Ahli
Yang lebih menarik perhatian Benyamin adalah tingginya kepercayaan masyarakat sekitar terhadap rumah sakit tersebut. Berdasarkan penjelasan pihak rumah sakit, sekitar 40 persen pasien setiap hari berasal dari masyarakat umum di sekitar lingkungan lapas.
"Yang saya kaget bahwa ternyata setiap hari ada masyarakat sekitar sini yang datang ke sini, berobat, cek kesehatan di sini, diobati di sini, sekitar 40 persen per hari. Buat saya suatu prestasi," ungkap Benyamin.
"Artinya pelayanan di rumah sakit ini diterima oleh masyarakat sekitar, bukan hanya untuk napi. Artinya pelayanannya pasti bagus. Kalau nggak bagus, orang pasti nggak akan mau ke sini," lanjutnya.
Kunjungan Wamenkes berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan bakti kesehatan yang digelar Kemenimipas bersama Kemenkes dan sejumlah pihak.
Menteri Imipas Agus Andrianto bersama Wamenkes Benyamin meninjau langsung pelaksanaan operasi katarak bagi masyarakat, warga binaan, dan petugas pemasyarakatan.
Sebanyak 81 orang mendapatkan layanan operasi katarak dalam kegiatan tersebut.
"Ini wujud kolaborasi antara kami, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia, serta seluruh tenaga medis dan relawan," kata Menteri Agus.
Bakti kesehatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan itu sekaligus menjadi bentuk kolaborasi Kemenimipas dan Kemenkes dengan berbagai pihak untuk memperluas akses pelayanan kesehatan.
"Sinergi ini langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan, sekaligus wujud komitmen nyata kita dalam menyukseskan program prioritas pemerintah terkait penyediaan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat," terang Agus.
Baca juga : 6 Pelabuhan ASDP Resmi Terapkan Standar Baru Keselamatan Nasional
Menurut Agus, pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti pada warga binaan maupun petugas pemasyarakatan. Masyarakat di sekitar lingkungan pemasyarakatan juga harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak.
Karena itu, keberadaan RSU Pemasyarakatan Jakarta yang melayani masyarakat umum menjadi bagian penting dari upaya memperluas manfaat fasilitas kesehatan milik Kemenimipas.
Rumah sakit tersebut menyediakan sejumlah layanan medis, antara lain rawat jalan, rawat inap, dan instalasi gawat darurat. Selain warga binaan, layanan juga dapat dimanfaatkan petugas pemasyarakatan, keluarga pegawai, dan masyarakat umum.
Selain operasi katarak, Kemenimipas bersama Kemenkes juga menjalankan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan rontgen dada untuk skrining Tuberkulosis (TBC).
Di Jakarta, CKG dan rontgen dada untuk skrining TBC dilaksanakan di Lapas Narkotika Kelas IIA Jakarta. Program tersebut menargetkan pemeriksaan terhadap 2.097 warga binaan, dengan target pemeriksaan mencapai 200 orang setiap hari.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan warga binaan secara lebih dini, termasuk mendeteksi potensi penyakit TBC sehingga dapat segera ditindaklanjuti.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya Kemenimipas bersama Kemenkes memperkuat pelayanan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan sekaligus mendukung program kesehatan nasional.
Secara nasional, CKG dan skrining TBC menyasar 81.000 orang yang terdiri atas warga binaan dan petugas pemasyarakatan.
Hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 29.376 orang telah menjalani pemeriksaan. Jumlah tersebut terdiri atas 26.910 warga binaan dan 2.466 petugas pemasyarakatan.
Baca juga : Imigrasi Perketat Cek Paspor Dan Pemeriksaan Keberangkatan
Bagi Menteri Agus, bakti kesehatan bukan sekadar memberikan pelayanan medis secara gratis. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
Menurut Agus, kesehatan merupakan hak dasar yang harus dapat dirasakan seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Karena itu, warga binaan, petugas pemasyarakatan, maupun masyarakat sekitar tetap harus memperoleh kesempatan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.
Kontribusi untuk Program Prioritas Presiden
Agus juga meminta seluruh jajaran Kemenimipas terus memberikan kontribusi terhadap berbagai program prioritas Presiden Prabowo Subianto, termasuk di bidang kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan, kontribusi tersebut tidak harus selalu dilakukan dalam skala besar. Hal terpenting adalah adanya manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
"Ini saya sampaikan terus kepada jajaran, walaupun (skala) kecil, kita harus bisa memberikan kontribusi nyata bagi apa yang menjadi target dan cita-cita Bapak Presiden," tegas mantan Wakapolri tersebut.
Bakti kesehatan yang digelar di Jakarta juga bukan yang pertama dilakukan Kemenimipas bersama Kemenkes. Sebelumnya, kedua kementerian telah melaksanakan pemeriksaan kesehatan gratis dan skrining TBC bagi warga binaan yang menjalani masa pidana di Pulau Nusakambangan.
Agus berharap kegiatan bakti sosial dan bakti kesehatan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurut dia, kesinambungan program membutuhkan kolaborasi antara kementerian dan lembaga, instansi, organisasi profesi, dunia usaha, serta sektor swasta.
"Untuk itu, saya berharap sekecil apa pun kontribusinya, kita dapat turut berperan dalam menyediakan fasilitas kesehatan gratis bagi masyarakat. Semoga kolaborasi ini dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh warga binaan beserta keluarganya, tetapi juga oleh masyarakat luas yang membutuhkan," pungkas Agus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.