RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah mendorong perubahan posisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam sistem pendidikan nasional. PAUD tidak lagi dipandang sebagai pendidikan tambahan, melainkan fondasi utama untuk membangun kemampuan kognitif, karakter, dan budaya belajar anak sejak dini.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan, penguatan PAUD menjadi bagian dari pembahasan Rancangan Revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bersama Komisi X DPR RI.
Hal itu disampaikan Fajar dalam kegiatan Finalisasi Dokumen Perencanaan dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Revitalisasi PAUD Tahun 2026 di Batam, Selasa (11/8/2026).
“Kita di Kemendikdasmen ingin meletakkan PAUD sebagai satuan pendidikan yang terintegrasi dalam sistem pendidikan nasional. Sifatnya bukan lagi suplemen atau komplementer, tetapi adalah fondasi bagi pendidikan nasional,” ujar Fajar.
Menurutnya, penguatan tersebut juga mencakup posisi pendidik PAUD. Dalam pembahasan revisi UU Sisdiknas, pemerintah tengah mendiskusikan agar guru mencakup pendidik profesional pada jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
“Artinya, posisi PAUD meningkat dibandingkan dengan posisi hari ini,” katanya.
Revitalisasi Sekolah
Baca juga : Kunker Ke Bungo, Wamen Fajar: Revitalisasi Sekolah-PJJ Perluas Akses Pendidikan
Di sisi lain, Fajar mengatakan penguatan PAUD tidak hanya menyangkut kurikulum dan pembelajaran, tetapi juga kondisi sarana pendidikan.
Program revitalisasi PAUD merupakan bagian dari mandat Presiden Prabowo Subianto kepada Kemendikdasmen untuk membenahi infrastruktur pendidikan.
Pemerintah menargetkan tidak ada lagi sekolah dengan kondisi rusak berat pada 2028. Sementara program revitalisasi sekolah ditargetkan mencapai 100 ribu sekolah pada 2027.
Fajar mengatakan proses penentuan sekolah penerima bantuan juga melibatkan pemerintah daerah. Sekolah yang akan direvitalisasi diusulkan oleh dinas pendidikan kepada pemerintah pusat.
“Kami juga bekerja sama dengan Disdik bahwa sekolah-sekolah yang akan direvitalisasi memang diusulkan oleh daerah ke pusat. Tentu kami berharap Disdik bisa lebih peka dalam mengusulkan sekolah yang memang berhak mendapatkan bantuan,” ujarnya.
Namun, pembangunan fisik sekolah, kata Fajar, harus berjalan beriringan dengan pembangunan "infrastruktur kognitif" anak. Pendidikan pada usia dini harus mampu membentuk anak sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Bukan Sekadar Hafalan
Baca juga : Wamen Fajar: SNT Jadi Jembatan Emas Pendidikan Berkualitas
Untuk membangun fondasi tersebut, Fajar mendorong pembelajaran PAUD yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan budaya bertanya.
“Yang kedua adalah membangun budaya bertanya, yaitu memberikan ruang agar anak-anak penasaran dan bertanya. Maka dalam konteks pendidikan anak ini, yang ditekankan bukan lagi hafalan, tetapi menonjolkan budaya bertanya,” katanya.
Menurut Fajar, kemampuan bertanya merupakan bagian penting dalam membangun mentalitas anak sebagai pembelajar. Anak perlu diberi ruang untuk mengeksplorasi lingkungan dan menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya.
Selain kemampuan belajar, pendidikan juga memiliki fungsi membangun imajinasi dan mimpi anak. Fajar mengatakan, hal tersebut kerap ditemukannya ketika berdialog dengan anak-anak PAUD saat mengunjungi berbagai daerah.
“Fungsi pendidikan adalah membangun imajinasi dan mimpi bagi anak-anak kita. Kalau saya turun ke daerah, saya selalu menanyakan kepada anak-anak PAUD cita-cita mereka. Jadi tugas kita paling mudah adalah menanamkan mimpi mereka, minimal mereka tahu besok mau jadi apa,” ujarnya.
PAUD Harus Jadi Rumah Kedua
Fajar juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Menurutnya, PAUD harus menjadi rumah kedua bagi anak sehingga mereka dapat belajar dan mengembangkan potensinya secara optimal.
Baca juga : PERSIS-Kemendikdasmen Sinergi Pulihkan Akses Pendidikan Korban Banjir Sumatera
“PAUD adalah rumah kedua bagi anak-anak kita. Dengan suasana yang aman dan nyaman, anak-anak akan punya totalitas untuk belajar dan mengaktualisasikan potensi dirinya,” katanya.
Karena itu, dia mendorong agar anak-anak tetap memiliki banyak kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya di sekolah.
Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, kata Fajar, tidak boleh mengurangi ruang interaksi tersebut. Kehadiran Papan Interaktif Digital (PID) harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran guru maupun interaksi antaranak.
“Meski ada Papan Interaktif Digital (PID), jangan sampai mengambil alih waktu dan konsentrasi anak-anak kita di sekolah. PID hanya perangkat pendukung dalam proses pembelajaran, bukan pengganti guru,” tegasnya.
Untuk jenjang PAUD, penggunaan PID juga perlu dibatasi. Fajar menyebut penggunaannya cukup sekitar satu jam, sedangkan waktu lainnya digunakan anak untuk berinteraksi dan bermain bersama teman-temannya.
Sehari setelah kegiatan di Batam, Rabu (12/8), Fajar melanjutkan agenda dengan berdialog dan mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat bersama anak-anak TK Bhayangkara, TK Bugenvile, TK Hangtuah, TK Visi Kudus 10, dan TK Salsabila Mandiri di Pulau Belakang Padang, Batam.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.