BREAKING NEWS
 

AS Tawarkan Pesawat Senilai 28 Triliun

Prabowo Diingatkan Negara Lagi Tongpes

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Kamis, 9 Juli 2020 07:27 WIB
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. (Foto: Kemhan RI)

 Sebelumnya 
Jika rencana pembelian ini berjalan mulus, maka Indonesia akan menjadi negara ketiga di dunia yang mengoperasikan pesawat tersebut, selain AS dan Jepang. Pesawat yang dikembangkan oleh BellBoeing, perusahaan patungan (joint venture) antara Boeing dan Bell Helicopter Textron itu merupakan pesawat yang unik dengan perpaduan antara helikopter dan pesawat terbang baling-baling.

Adsense

Pesawat berteknologi tiltrotor ini dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal layaknya sebuah helikopter. Pesawat ini mampu mengangkut 24 personel, kargo internal 9 ton atau 6,8 ton kargo eksternal.

Selain dapat mengangkut penumpang dan barang muatan, pesawat berbobot 30 ton ini juga dapat menjalankan misi pencarian dan penyelamatan tempur, serta mendukung pengangkutan logistik armada dan menyediakan transportasi jarak jauh untuk operasi khusus.

Baca juga : Wow, Prabowo Sudah Nekat Pergi Ke Rusia

Pengamat Militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai, Indonesia memang perlu pesawat dengan spesifikasi kemampuan angkut, penye-lamatan, dan evakuasi semacam itu. “Tapi, pesawat ini cukup mahal untuk dibeli di saat anggaran kita sedang perlu dialokasikan untuk hal-hal yang lebih prioritas dan kemampuan negosiasi kita masih buruk,” ujar Fahmi kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Fahmi juga mengingatkan, pesawat itu dinilai kurang safety bagi penerbang dan penumpangnya. “Di Amerika sendiri, banyak opini negatif dari para pakar dan pemerhati penerbangan terkait Osprey ini,” imbuh dia.

Melansir Aviation Safety Network, jumlah kecelakaan yang melibatkan MV-22 Osprey mencapai 30 kali sejak tahun 1991. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, insiden yang melibatkan MV-22 Osprey mencapai 16 kali.

Baca juga : Awas, Garong BLBI - Century Bangkit Lagi

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal memandang, pembelian pesawat yang digunakan korps marinir AS itu, tak tepat dilakukan saat ini. Dia mengingatkan, negara saat ini sedang tongpes.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah dua kali merevisi APBN karena kebutuhan belanja negara terus membengkak akibat dampak pandemi virus corona.

Sekjen Kemenhan, Marsdya TNI Donny Ermawan mengatakan, Indonesia belum berencana mendatangkan pesawat angkut produk Amerika Serikat tersebut. “Belum, kita belum ada untuk merencanakan pesawat yang Osprey,” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhan Marsdya TNI Donny Ermawan Taufanto di Gesung DPR, kemarin.

Baca juga : Selama Hayat Dikandung Badan, Prabowo Siap Maju Nyapres Lagi

Donny mengatakan, keterangan yang disampaikan Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat sebagai bentuk penawaran. Pemerintah belum menanggapi tawaran tersebut. “Intinya kita belum ada mengarah pembelian ke sana,” ungkap dia.

Kepala Biro Humas Setjen Kemenhan, Brigjen Ignatius Eko Djoko Purwanto mengatakan, sampai saat ini kebutuhan alutsista masih dibahas. Belum ada yang terealisasi. “Jadi itu saja yang bisa saya kasih keterangan. Masih dibahas di angkatan mungkin,” tuturnya saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam. [OKT/MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense