RM.id Rakyat Merdeka - Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China menyasar mahasiswa China yang belajar atau ilmuwan mereka yang ada di AS. Pemerintahan Donald Trump mencurigai mereka menjadi mata-mata China. Media pemerintah, People's Daily menuding, Trump parno mahasiswa AS itu membuat China jauh lebih maju dari AS.
"AS takut bahwa China akan menguasai teknologi maju dan bahwa Cina akan berjalan ke depan," kata surat kabar utama Partai Komunis, People's Daily. Padahal berdasarkan Global Innovation Index 2018, berada di posisi enam sebagai negara dengan perkembangan teknologi maju. Sementara China masih tertinggal di urutan ke-17.
Kementerian Pendidikan China mengkritik AS yang menuduh mahasiswa menjadi mata-mata. "Tindakan AS jelas merusak hubungan di sektor pendidikan," ujar Direktur Departemen Kerja Sama Internasional dan Pertukaran Pelajar Kementerian Pendidikan China, Xu Yongji.
"Kami harap AS menghentikan aksinya inI secepatnya. Lebih baik kita memperbaiki kerja sama pendidikan," lanjutnya.
Baca juga : RI Berpeluang Jadi 5 Besar Negara Ekonomi Terkuat Di Dunia
Pemerintahan Donald Trump memantau identitas mahasiswa dan peneliti China yang berada di AS. Permohonan aplikasi visa mahasiswa dan visa bekerja bagi peneliti China bahkan dipersulit prosesnya. Akademisi dan mahasiswa China, kepada Bloomberg, mengatakan beberapa pekan terakhir merasakan atmosfir tak bersahabat di lingkungan pekerjaan dan kampus. Pada 3 Juni lalu, Kementerian Pendidikan China kemudian mengeluarkan peringatan besarnya resiko belajar ke AS seiring dengan banyaknya penolakan permohonan visa pelajar China ke AS.
"Saya khawatir, gugup dan sedih dengan konflik ini. Pembatasan cendikiawan China belajar dan mengajar sangat tidak rasional," ujar pendiri Harvard School of Public Health Liu Yuanli. "Pembatasan ini jelas bertolak belakanv dengan nilai yang dianut AS sebagai negara besar," sambung Liu.
Universitas Emory baru saja memulangkan dua profesor keturunan Amerika-China pada 16 Mei kemarin. Salah satunya Peneliti Genetik Li Xiao-jiang.
Sejak 2008, China membuat program untuk merekrut pemikir hebat China di AS agar bisa kembali ke negara asal dan membangun negara bersama generasi mudanya. Liu dan Li termasuk peserta program yang dinamai "Thousand Talents".
Baca juga : Selesai, Proses Evakuasi KMP Swarna Cakra
Sebelumnya, pendidikan adalah salah satu sektor kerja sama solid antara AS-China. Banyak mahasiswa China mengisi bangku-bangku di universitas, dan AS memberikan akses laboratorium kelas dunia kepada peneliti China.
Setidaknya lebih dari 360 ribu mahasiswa China belajar di AS tahun lalu. Angka itu, menurut Intitute of Infernational Education, adalah angka paling banyak dibanding negara lain. Namun, jauh menurun dari angka terdahulu yang bisa mencapai dua kali lipatnya. Penurunan ini akibat banyakmya penolakan visa pelajar China masuk ke AS. 13,5 persen pemohon visa pelajar ke AS ditolak hingga Juni 2019. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya menolak 3,2 persen pemohon.
Perpanjangan visa untuk pelajar China pun juga ikut lamban. Proses yang biasanya hanya memakan waktu tiga pekan, kini menjadi berbulan-bulan, menurut beberapa kandidat doktoral China di Massachusetts Institute of Technology, yang meminta namanya tidak disebutkan. Salah satu siswa mengatakan bahwa mereka cenderung kembali ke rumah setelah lulus, khawatir bahwa pengawasan terhadap para sarjana China dapat berlanjut selama bertahun-tahun.
Kecurigaan AS kepada China tetap bisa dirasakan meski Presiden Xi Jinping dan Donald Trump berdiskusi di sela-sela pertemuan G20 di Argentina tahun lalu.
Baca juga : Bekasi Fajar Bagi Dividen Rp 84 Miliar
Trump mengimbau pihak pengurus visa untuk menerapkan pemeriksaan mendetail pada peneliti dan mahasiswa China yang belajar di sektor teknologi, mekanik, matematika dan ilmu biologi. Juni tahun lalu, Departemen Dalam Negeri AS menyebut memotong jumlah penerimaan visa dari mahasiswa China yang belajar Ilmu alam dan mekanika.
Saat sejumlah pelajar China masih berharap bisa mendapat visa ke AS, para peneliti China yang dipecat AS pun mendapat tawaran di dalam negeri untuk "membuat Silicon Valley" versi mereka sendiri. "Tentu saja kami senang jika mereka mau bergabung. Kami membutuhkan pemikir hebat di sini," ujar salah satu pendiri Huawei Technology Ren Zhengfei. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.