RM.id Rakyat Merdeka - Perdanal Menteri Malaysia Mahathir Mohamad memutuskan melanjutkan pembangunan proyek kereta cepat East Coast Rail Link (ECRL). Padahal sebelumnya, dia paling keras menolak proyek yang didanai utang China itu, karena bisa memiskinkan negara. Tapi kini, Mahathir ingkar.
Proyek ECRL diluncurkan kembali secara resmi di Dungun, Terengganu, Malaysia, kemarin. Tepat di depan mulut Terowong Dungun. Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke mengatakan, proyek yang didanai dari pinjaman China 10 miliar dolarAS atau Rp 155 triliun itu penting bagi Malaysia.
Menurut dia, jalur kereta api sepan jang 640 kilometer tersebut akan menghubungkan bagian timur laut Malaysia dengan pelabuhan utama negara yang terletak di bagian barat. Proyek ini akan memperbaiki keterhubungan di daerah yang dilalui jalur kereta tersebut.
“Jalur kereta tersebut akan memperbaiki sistem transportasi di daerah yang dilintasi, terutama di sepanjang Pesisir Timur Semenanjung Malaysia,” katanya seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/7).
Baca juga : Modernisasi Tingkatkan Produktivitas Tenaga Kerja Sektor Pertanian
Duta Besar China untuk Malaysia Bai Tian yang turut hadir dalam peluncuran kembali proyek ECRL mengatakan kelanjutan proyek ini akan meningkatkan kepercayaan investor asing di Malaysia. Menurut Bai Tian, akan banyak calon investor China yang masuk ke Malaysia dengan jalan proyek ini.
Bagi Malaysia, selain sebagai salah satu mitra dagang terbesar, China juga merupakan pemberi utang terbanyak bagi negeri jiran itu. Kedua negara ini juga memiliki ikatan budaya yang erat. Dia optimistis, proyek ECRL dapat rampung pada Desember 2026.
Proyek kereta cepat ini juga dapat mendongkrak jumlah wisatawan China menjadi lebih dari dua kali lipat. Selain itu, dari pihak Malaysia Rail Link, mitra lokal proyek tersebut menyinggung soal tenaga kerja. Mereka mengatakan, hampir 70 persen dari total pekerja merupakan orang lokal. Sementara kontraktor domestik akan mendapatkan 40 persen dari pekerjaan sipil.
Seperti diketahui, proyek ini sebelumnya banyak menuai kritik. Tak terkecuali dari Mahathir. Sejumlah kalangan menilai proyek ter se but penuh permainan dan bisa menjatuhkan Malaysia ke dalam kubangan hutang. Mahathir ketika itu juga menilai proyek kereta cepat yang menghubungkan Kuala Lumpur dan Singapura saat ini belum diperlukan. Ia sempat memutuskan untuk meng hentikan proyek ini karena khawatir bisa memiskinkan Malaysia.
Baca juga : Grab Melanggar Aturan Perlindungan Konsumen
Saat diputuskan untuk ditunda pembangunannya sejak Juli 2018, proyek tersebut baru rampung 15 persen. Namun, saat ini keputusan Mahathir itu dicabut. Sebab, Malaysia terancam denda 5 miliar dolar AS atau setara Rp 77 triliun jika proyek tersebut dihentikan.
Seperti dilansir Bernama, Pemerintah Malaysia akhirnya melakukan negosiasi ulang dengan pengembang. Selain negosiasi biaya, rute baru kereta cepat ini juga diperpendek hingga 40 kilometer (km) dari total jalur sebelumnya sepanjang 688 km. Rute ECL dimulai dari Kota Bahru, Mentakab, Jelebu, Kuala Kelawang, Bangi/Kajang, Putrajaya dan berakhir di Port Klang.
Proyek ini diluncurkan pada 2017. Salah satu proyek utama dari program Belt and Road China di Asia Tenggara. Proyek yang dipegang China Communications Construction Co Ltd sebagai kontraktor utama itu bertujuan untuk menghubungkan pantai timur Malaysia di Laut China Selatan dengan jalur perairan yang sibuk di Selat Malaka di barat. Bisa dikatakan, proyek kereta ECRL merupakan bagian dari proyek jalur sutera modern yang direncanakan pada masa pemerintahan Per dana Menteri Nazib Razak.
Soal utang ke China, Mahathir se llama ini termasuk orang yang paling getol menyerukan penolakan. Ia bahkan turut angkat suara mem pengaruhi negara-negara tetangga untuk menghindari jebakan utang China. Antara lain menyikapi kebijakan Filipina yang membuka pintu bagi China untuk menanamkan modal di negeri yang dipimpin Rodrigo Duterte itu. Saat itu, Mahathir menyarankan agar Filipina meregulasi dan membatasi pengaruh China di negara mereka.
Baca juga : Ngomong Terus, BW Sampai Mau Diusir Dari Ruang Sidang
“Jika meminjam uang dalam jumlah besar dari China, kemudian tak sanggup melunasi, pihak peminjam di bawah kontrol pemberi pinjaman,” kata Mahathir kepada ABS-CBN News beberapa waktu lalu. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.