RM.id Rakyat Merdeka - Mantan Presiden Rusia (2008-2012) yang kini menjabat Deputi Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev (57) membuat 10 prediksi global, yang akan terjadi di tahun 2023. Dari sisi ekonomi, juga politik.
Hingga saat ini, ramalannya itu telah dilihat 34,8 juta netizen, di-retweet 10.400 kali, dan dijadikan quote tweet 10.800 kali.
Cuitan yang paling banyak mendapat tanggapan adalah tebakannya tentang Elon Musk, yang disebutnya bakal menang Pilpres AS.
Kicauan itu disukai 11.500 orang, di-retweet 3.962 kali, dan dikomentari 2.240 kali.
Berikut 10 ramalan Medvedev, yang dicuitkan via akun Twitter-nya:
1. Harga minyak akan naik menjadi 150 dolar AS atau Rp 2,37 juta per barel. Sementara harga gas, akan mencapai 5.000 dolar AS atau Rp 78,91 juta per 1.000 meter kubik.
Baca juga : Ungkit Soal HAM Di Qatar, Presiden FIFA Sebut Negara Barat Munafik
2. Inggris akan bergabung kembali dengan Uni Eropa.
3. Uni Eropa akan runtuh setelah Inggris kembali. Euro akan berhenti digunakan sebagai mata uang Uni Eropa.
4. Polandia dan Hongaria akan menempati wilayah barat Ukraina.
5. Reich Keempat akan dibentuk, meliputi wilayah Jerman dan satelitnya. Yaitu Polandia, negara-negara Baltik, Cekoslowakia, Slovakia, Republik Kiev, dan negara-negara buangan lainnya.
6. Perang akan pecah antara Prancis dan Reich Keempat. Eropa akan terbagi, Polandia akan mengalami repartisi.
7. Irlandia Utara akan berpisah dari Inggris, dan bergabung dengan Republik Irlandia
Baca juga : Golkan Pertemuan Jokowi Dengan Presiden FIFA, Erick Banjir Pujian Netizen
8. Perang saudara akan pecah di AS. California dan Texas akan menjadi negara merdeka. Texas dan Meksiko akan menjadi negara sekutu. Elon Musk diprediksi memenangkan pemilihan presiden AS di sejumlah negara bagian, setelah perang sipil berakhir.
9. Semua pasar saham terbesar dan aktivitas keuangan akan meninggalkan AS dan Eropa, dan pindah ke Asia.
10. Sistem manajemen moneter Bretton Woods akan runtuh, hingga menyebabkan kehancuran Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.
Medvedev mengatakan, euro dan dolar AS akan berhenti beredar sebagai mata uang cadangan global. Sebagai gantinya, mata uang fiat digital akan digunakan secara aktif.
Untuk diketahui, Bretton Woods (1944-1976) adalah sistem perekonomian dunia yang dihasilkan dari konferensi yang diselenggarakan di Bretton Woods, New Hampshire pada tahun 1944.
Konferensi ini merupakan produk kerja sama antara Amerika Serikat dan Inggris, yang memiliki beberapa fitur kunci yang melahirkan tiga institusi keuangan dunia. Yaitu Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Baca juga : Kumpulan Ustadz Langkat Dukung Ganjar Jadi Presiden, Ini Alasannya...
Sistem Bretton Woods bubar pada tahun 1976, setelah beberapa negara di Eropa mengalami kehancuran ekonomi. Sehingga, tidak lagi bisa menjadi partner perdagangan AS.
Resesi ekonomi dunia yang berlangsung besar-besaran pada periode itu, telah mendorong negara-negara di dunia untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya masing-masing.
Secara sepihak, Amerika membatalkan Sistem Bretton Woods melalui Dekrit Presiden Nixon pada 15 Agustus 1976. Salah satu isinya, dolar AS tidak lagi dijamin dengan emas.
Istimewanya, dolar AS tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia.
Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.