BREAKING NEWS
 

Penerima BSBI Kemlu Berlatih Di Sanggar Tari & Musik Sumbar

Diplomasi Indonesia Lewat Tari, Budaya Dan Rendang

Reporter : PAUL YOANDA
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Senin, 31 Juli 2023 00:28 WIB
Para penari asal Slowakia, Mesir, Kepulauan Solomon, Pakistan, Belgia, Ceko, Gambia, dan Vietnam, menunjukkan kemampuan mereka menarikan tari dari Tanah Minang di acara Rapat Kerja Nasional Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Kamis, 27 Juli 2023. (Foto Paul Yoanda/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Diplomasi tak melulu dilakukan dengan memakai jas rapi, atau jamuan makan malam. Seni tari bisa jadi jalan mengenalkan Indonesia kepada dunia.

Pada Kamis, 27 Juli di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), para penari di Sanggar Tari dan Musik Syofyani, dengan luwes berlenggak-lenggok, memperagakan Tari Selendang, asal Ranah Minang.

Ada tujuh penari. Lima perempuan dengan lincah memainkan selendang, dan dua laki-laki sebagai pelengkap tim.

Mereka adalah tujuh dari sembilan penerima Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) yang diberikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk berlatih di Sanggar Tari dan Musik Syofyani. Secara total, tahun ini ada 45 penerima BSBI, yang berasal dari 32 negara, termasuk Indonesia.

Para penerima dibagi ke lima kota. Selain Padang, kota lainnya yakni Jakarta, Banyuwangi (Jawa Timur), Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) dan Bali.

Para penerima BSBI yang berlatih di Padang, yakni Laura Lezovicova asal Slowakia, Omar Yasser Yousef Ali asal Mesir, Sharon Lydia Harikaura Totorea dari Kepulauan Solomon dan Joan Vanessa Mary Kingson dari Pakistan. Kemudian, Tasnim Charif asal Belgia, Hana Dočkalová asal Ceko, Mamadou O Jallow dari Gambia, Hoang Lan Phuong dari Vietnam dan Muhammad Farid Wajdi dari Indonesia.

Di Rakernas Penyandang Disabilitas

Para penari itu sedang melakukan latihan terakhir. Persiapan tampil di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) di Auditorium Gubernuran Sumbar pada malam harinya.

“Jadi, nggak cuma latihan. Mereka juga tampil di acara tertentu supaya bisa mencoba panggung, ekspresi dan kostum, sehingga terbiasa saat nanti tampil di acara puncak di Jakarta,” ujar Sofi Yuanita, pemimpin Sanggar Tari dan Musik Syofyani.

Baca juga : Pertemuan Digelar Hari Ini, Indonesia Sambut Menlu Negara ASEAN

Di malam harinya, para peserta BSBI, berhasil menunjukkan penampilan yang sangat baik. Tak cuma menari, mereka juga memperlihatkan kemampuan memainkan alat musik tradisional asal Sumbar. Mulai dari bansi hingga talempong.

Sharon Lydia Harikaura Totorea asal Kepulauan Solomon, menunjukkan perasaan lega usai tampil.

“Sesudah latihan beberapa hari belakangan ini, dan sejak kami tinggal di Padang selama lebih dari sebulan, sungguh pencapaian luar biasa. Saya benar-benar menikmatinya,” ujar Totorea, yang ditemui usai tampil.

Tak cuma saat tampil, Totorea mengaku sangat menikmati waktunya di Kota Padang. Dia jatuh cinta pada kota itu. Apalagi, orang-orangnya, khususnya di Sanggar, telah memperlakukannya seperti keluarga. Selama tinggal di Padang, mereka saling peduli satu sama lain.

“Meski saya kangen rumah, mereka ada untuk saya sebagai teman. Saya benar-benar menikmati,” ujar Totorea.

Nikmatnya Kuliner Minang

Selama hampir dua bulan tinggal di Padang, Totorea mengaku banyak hal baru yang didapatkan. Selain menyukai bermain talempong yang menantang, tari salendang dan menyanyikan lagu daerah, Totorea juga suka kuliner Minangkabau. Khususnya rendang.

”Saya suka makanan Minang, rasanya cukup pedas. Negara saya tidak punya makanan pedas. Rendang makanan favorit saya selama di Padang,” katanya.

Adsense

Menurut Totorea, mengikuti program BSBI membantunya melihat kehidupan orang lain dari beragam perspektif. Memahami kebudayaan, nilai-nilai, dan kepercayaan mereka.

Baca juga : Startup Studio Indonesia Gelar Milestone Day Batch 6

Hal tersebut akan membantunya dalam melakukan konseling kepada kliennya yang juga punya latar belakang beragam.

”Pengalaman di sini akan menambah pengetahuan saya untuk melihat, menghargai, memahami nilai-nilai dan keunikan masing-masing,” ujarnya.

Peserta asal Ceko, Hana Dočkalová mengatakan, belajar di Sanggar Tari dan Musik Syofyani sangat menyenangkan. Dia antusias mengikuti tahap demi tahap.

Dia mengaku baru pertama kali datang ke Sumbar. Dan hal yang membuatnya menikmati program BSBI di Padang, tidak hanya soal seni dan budaya, tapi juga menikmati kuliner dan wisata.

“Makanan di sini enak-enak dan saya suka. Bila nanti kembali ke Ceko, saya sangat merindukan Minangkabau,” sebutnya.

Sofi Yuanita menambahkan, sanggar yang dipimpinnnya telah menerima para peserta penerima BSBI sejak 2016. Tak cuma berlatih seni dan budaya, sanggar tersebut juga kerap mengajak para peserta menikmati pariwisata Sumbar.

“Sejak 2016, kami sudah mengajak mereka melihat hampir seluruh Sumbar,” ujar wanita yang akrab disapa Ade itu.

Koordinator Fungsi Isu-isu Aktual dan Strategis, Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu, Cherly N. Palijama mengatakan, BSBI adalah program beasiswa non-gelar yang diberikan Pemerintah kepada para pemuda di negara-negara sahabat.

Baca juga : Komitmen Kapolri Lestarikan Budaya Indonesia Lewat Wayang Kulit Banjir Apresiasi

"Program ini merupakan upaya untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada masyarakat internasional," katanya.

 Dia berharap, agar para peserta bisa menjadi sahabat Indonesia yang menyampaikan betapa beragam dan harmonisnya kebudayaan di Indonesia. Banyak hal mereka pelajari selama dua sampai tiga bulan berada di Indonesia.

“Hal itu bisa mereka ceritakan kepada orang-orang di negara asal mereka,” kata Cherly.

Menurutnya, para penerima BSBI berasal dari latar belakang yang beragam, dalam rentang usia 18-30 tahun. Program ini juga berdampak positif bagi promosi seni dan budaya Indonesia di negara asal peserta. Cherly mengatakan, ada beberapa alumni yang membuat sanggar seni tari Indonesia terkenal sampai ke luar negeri, salah satunya di Serbia.

Selain itu, ada yang membuat sanggar kesenian angklung di Benin. Ada pula influencer di Korea Selatan membuat lagu dengan lirik bahasa Indonesia. BSBI 2023 mengangkat tema Indonesia, Home of Diversity.

Untuk memberikan gambaran bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya budaya daerahnya. Pada setiap budaya daerahnya memiliki keberagaman dan keunikan yang menjadikan Indonesia rumah bagi berbagai macam budaya daerah.

Setelah belajar di sanggar masing-masing pada 6 Juni-6 Agustus 2023, para peserta program BSBI akan menampilkan pertunjukan dalam pergelaran Indonesia Channel (Inchan) pada 12 Agustus 2023 di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka akan menampilkan kesenian yang dipelajari selama dua bulan.

Inchan telah menjadi penutup kegiatan BSBI sejak tahun 2006. Menurut rencana, gelaran itu akan dibuka Menlu Retno Marsudi, Pimpinan Daerah dari masing-masing sanggar dan Duta Besar negara sahabat. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense