RM.id Rakyat Merdeka - Amnesty International Indonesia menyerukan Israel dan Hamas untuk segera melakukan gencatan senjata, demi mengakhiri bencana kemanusiaan di Gaza.
Warga sipil terus menjadi korban kekerasan, akibat kembali pecahnya konflik antara Israel dengan Hamas dan kelompok bersenjata lainnya, dalam tiga pekan terakhir.
Masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Uni Eropa sebagai sekutu-sekutu dekat Israel harus turut berupaya menghentikan konflik. Termasuk, sesegera mungkin menyerukan gencatan senjata, dan mendesak Israel mencabut blokade bantuan kemanusiaan. Juga sistem Apartheid yang selama ini menindas warga sipil di wilayah pendudukan Palestina (occupied Palestinian territory).
Seruan ini disampaikan Amnesty International Indonesia, saat menggelar aksi unjuk rasa damai menyerukan penghentian kekerasan di Gaza di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Jumat (27/10/2023).
Unjuk rasa ini diikuti oleh berbagai elemen seperti aktivis HAM, mahasiswa dan perwakilan sejumlah organisasi masyarakat sipil.
“Konflik bersenjata antara Israel dan kelompok Hamas telah menghasilkan bencana kemanusiaan bagi warga sipil. Selama tiga pekan terakhir, kita telah menyaksikan dampak mengerikan dari eskalasi bencana ini," ujar Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, yang tampil memberikan orasi.
Baca juga : Soal Kebijakan Kemasan Pangan, Indonesia Diminta Tak Jiplak Negara Lain
"Korban-korban warga sipil terus berjatuhan, baik yang meninggal, luka-luka, maupun yang kehilangan harta benda dan tempat tinggal," lanjutnya.
Pelapor khusus PBB atas HAM di Korea Utara 2010-2016, Marzuki Darusman mengatakan, aksi damai ini penting untuk terus disuarakan masyarakat sipil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Agar komunitas internasional tidak berpangku tangan atas kekerasan yang terjadi di wilayah pendudukan Palestina.
"Kita ingin, AS dan negara-negara di seluruh dapat segera mengambil langkah konkret, untuk segera mengakhiri kekerasan ini. Apa yang terjadi sejak 7 Oktober, merupakan puncak dari krisis HAM. Harus ada solusi yang konkret untuk mengakhiri masalah ini," kata Marzuki.
Sebelumnya, Amnesty International telah mendokumentasikan bukti kejahatan perang yang dilakukan pasukan Israel dan Hamas serta kelompok bersenjata lainnya, terhadap warga sipil.
Sejak serangan tak terduga di Israel selatan pada tanggal 7 Oktober, Hamas dan kelompok bersenjata lainnya membunuh sedikitnya 1.400 orang dan menyandera lebih dari 200 orang. Pihak berwenang Israel menyebut, sebagian besar korban adalah warga sipil.
Pasukan Israel pun membalasnya dengan melancarkan ribuan serangan udara dan darat di Jalur Gaza, hingga menewaskan lebih dari 6.546 orang. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebut, mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk sedikitnya 2.704 anak-anak.
Baca juga : Dubes Gandi Ajak Masyarakat Indonesia Pererat Hubungan dengan Warga Korea
Lebih dari 17.439 orang terluka dan lebih dari 2.000 jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan, sementara sektor kesehatan di Gaza terpuruk.
"Pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, termasuk kejahatan perang, yang dilakukan oleh semua pihak dalam konflik ini terus berlanjut. Dalam menghadapi kehancuran dan penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, kemanusiaan harus menang,” kata Sekretaris Jenderal Amnesty International, Agnès Callamard, dalam pernyataan tertulis.
"Tindakan sesegera mungkin diperlukan untuk melindungi warga sipil, dan mencegah penderitaan manusia yang semakin parah. Kami mendesak semua anggota komunitas internasional untuk bersama-sama menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera, oleh semua pihak yang berkonflik," lanjutnya.
Berlanjutnya serangan pasukan Israel ke Gaza, akan semakin menimbulkan konsekuensi bencana bagi warga sipil setempat.
Perintah evakuasi militer Israel terhadap warga sipil yang bertahan di Gaza utara, tak cukup untuk meminimalisir korban sipil.
Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza, juga perlu mengakhiri serangan mereka ke warga sipil.
Baca juga : Ketua KPK Firli Temui Warga Indonesia Di Korsel Gelorakan Semangat Antikorupsi
Callamard menegaskan, dalam menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza, dan semakin memburuk dari hari ke hari, gencatan senjata harus disegerakan.
Ini penting untuk memungkinkan lembaga bantuan mengirim logistik yang cukup ke Jalur Gaza, dan mendistribusikannya dengan aman, tanpa syarat.
"Rumah sakit akan mendapat kesempatan untuk menerima obat-obatan, air, dan peralatan yang sangat mereka butuhkan serta memperbaiki bangsal yang rusak,” tutur Callamard.
“Gencatan senjata segera juga merupakan cara paling efektif untuk melindungi warga sipil, ketika pihak-pihak yang bertikai terus melakukan pelanggaran berat," imbuhnya.
Menurut Callamard, hal ini dapat mencegah meningkatnya jumlah korban sipil di Gaza, serta memberikan peluang untuk menjamin pembebasan sandera dengan aman.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.