Sebelumnya
Demikian pula, ketika mendiang Imam Khomeini (RA) memberikan wawancara kepada reporter koran Singapura, Street Times, di Paris pada 15 Januari 1979, mengatakan:
Setelah menghapuskan pemerintahan kekaisaran, mereka akan meletakkan dasar pemerintahan Islam yang demokratis berdasarkan pendapat bangsa. Dalam sistem yang baru, Iran akan bebas dan mendapatkan kemerdekaan yang sesungguhnya; kemerdekaan politik, kemerdekaan militer, kemerdekaan ekonomi, dan kemerdekaan sosial dan budaya. Setiap orang akan memiliki kebebasan berekspresi dalam pemerintahan ini. (Kutipan dari kitab suci Imam Khomeini (RA)-Urdu (wawancara). Jilid 8, halaman 27).
Pada kesempatan peringatan 2 tahun Revolusi Islam, Imam Khomeini (RA) menyampaikan sebuah pidato yang isinya "Kita harus berusaha keras untuk membuat dunia memahami hakikat revolusi kita dan hakikat ideologi kita. Wahai para pemuda, pertahankanlah martabat dan kehormatan kalian agar tidak ada seorang pun yang bisa merampas dan berkomplot melawan kalian. Berbelas kasihlah kepada teman-teman kalian dan sadarilah bahwa dunia saat ini adalah dunia orang-orang yang tertindas.
Baca juga : Gerakan Global Kaum Tertindas Melawan Kaum Arogan
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, Imam Khomeini (RA) meyakini berdirinya sebuah pemerintahan Islam di bawah ideologi Mahdisme. Karena itu, beliau tidak hanya menginginkan kemerdekaan politik, militer, dan ekonomi bagi pemerintah Iran, tetapi juga bagi setiap negara di dunia. Beliau ingin mendirikan pemerintahan Islam berdasarkan kemerdekaan sejati.
Karena keadilan dan kejujuran merupakan inti dari Mahdisme, ideologi ini menentang segala bentuk tirani. Inilah alasan mengapa Imam Khomeini menentang Israel dan pemerintah Afrika Selatan pada masa itu, yang didasarkan pada diskriminasi rasial.
Pada 23 Januari 1979, sebagai jawaban atas pertanyaan koresponden surat kabar Iran, Kayhan dan Ittelaat, "Jika negara-negara yang telah mendukung Shah melawan revolusi yang sedang berlangsung di Iran menyatakan penyesalan dan penyesalannya, apakah Iran harus melanjutkan hubungannya dengan mereka?"
Baca juga : Pemikiran Politik Imam Khomeini: Inspirasi Era Baru Internasional
Imam berkata: "Ya, tapi Israel, Afrika Selatan, dan negara-negara yang mempromosikan prasangka rasial adalah pengecualian dan tidak akan ada hubungan dengan mereka sampai mereka mengakhiri sistem mereka yang menindas." [Kutipan dari kitab suci Imam Khomeini-Urdu (wawancara). Jilid 8, halaman 41].
Hal ini cukup membuktikan bahwa visi Imam Khomeini tidak hanya terbatas pada wilayah Islam saja, namun beliau mendukung semua orang yang tertindas di dunia.
Berkat Khomeiniisme, saat ini doktrin Vilayat-e Faqih menjadi poros utama pemikiran politik Syiah kontemporer. Doktrin ini menganjurkan sistem politik berbasis perwalian, yang mengandalkan seorang ahli hukum (faqih) yang adil dan cakap untuk mengambil alih kepemimpinan pemerintahan jika tidak ada imam yang maksum (suci).
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.