RM.id Rakyat Merdeka - Kerja sama ekonomi Indonesia dan China terus menunjukkan tren yang positif.
Senin (13/1), telah ditandatangani Kontrak Engineering, Procurement, and Construction (EPC) antara PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) dengan Konsorsium antara PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PT PP), dan China Aluminum International Engineering Corporation Limited (CHALIECO) untuk proyek pembangunan Smelter-Grade Alumina Refinery di KBRI Beijing. Nilai kontraknya sekitar 695 juta dolar AS.
Kesepakatan tersebut dapat dikatakan sebagai buah pertama dari kerja sama ekonomi Indonesia-China di awal tahun 2020.
Momen ini menjadi penting karena 2020 merupakan tahun peringatan 70 tahun hubungan bilateral, antara Republik Indonesia dan Republik Rakyat China.
Baca juga : Kadin dan DSI Dorong Percepatan Industri Berbasis Serat Alam
Hal ini disampaikan langsung oleh Konselor KBRI Beijing Victor S Hardjono. Mewakili Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun, yang sedang berada di Jakarta untuk Rapat Kerja Perwakilan RI sedunia.
"Apresiasi kami sampaikan kepada pihak-pihak yang telah mendukung terwujudnya kontrak EPC, untuk pembangunan Alumina Refinery yang telah lama menjadi cita-cita Indonesia. Demi mewujudkan industri pengolahan alumunium yang mandiri", ujar Victor.
Alumina Refinery yang fase konstruksinya direncanakan selesai pada tahun 2022, Indonesia akan mampu memproduksi alumina dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton per tahun.
Selama ini, Indonesia masih bergantung pada industri pengolahan di luar negeri, dengan melakukan ekspor bijih bauksit. Serta mengimpor alumina sebagai produk olahan bijih bauksit tersebut, untuk kemudian diolah menjadi aluminium di dalam negeri.
Baca juga : Dikunjungi Dubes Djauhari, Xiaomi Janji Tingkatkan Investasi di Indonesia
Hal ini menjadi beban biaya produksi bagi Indonesia, dan rentan terhadap perubahan harga komoditas karena melakukan ekspor bahan mentah.
Refinery baru yang akan dibangun di Kabupaten Mempawah ini akan meningkatkan industri nilai tambah Indonesia, dan menekan defisit neraca perdagangan. Sehingga, berkontribusi positif bagi perekonomian dalam negeri.
PT BAI merupakan anak perusahaan BUMN Inalum dan ANTAM. Sedangkan PT PP merupakan BUMN, yang sudah terkenal kiprahnya di berbagai proyek infrastruktur Indonesia.
ANTAM sebagai BUMN yang melakukan eksplorasi bijih bauksit akan menjadi supplier bagi PT BAI, yang kemudian akan menjual aluminanya kepada PT Inalum.
Baca juga : Perusahaan Jerman Mau Kembangkan Industri Pelumas Berbasis CPO Di Indonesia
Dengan demikian, industri aluminium Indonesia dapat sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, untuk mewujudkan Indonesia Maju 2045.
Proyek ini menjadi bukti bahwa BUMN Indonesia berkontribusi nyata bagi pembangunan nasional. Sejalan dengan semangat perubahan yang sedang digalakkan pemerintah. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.