RM.id Rakyat Merdeka - Sebanyak 20 kloter dengan total 7834 jemaah, kembali pulang ke tanah air pada Sabtu (14/6/2025). Mereka berangkat dari Bandara Internasional King AbdulAziz, Jeddah, Arab Saudi. Meskipun sudah ada imbauan, banyak jemaah yang bermasalah dengan berat bagasi pesawat.
Hingga hari Sabtu (14/6/2026) pukul 15.20 Waktu Arab Saudi (WAS) sudah ada 44 kelompok terbang (Kloter) yang terdiri dari 17.230 jemaah yang tiba di Tanah Air. Kemarin, ada 20 kloter terbang ke Indonesia dengan total 7834 jemaah.
Tiba di Bandara Jeddah, bus yang membawa jemaah langsung parkir di area parkir bus pintu kedatangan Terminal Haji. Setelah itu, Jemaah diarahkan ke ruang paviliun untuk menunggu waktu boarding. Rata-rata, semua kloter tiba 5-6 jam sebelum keberangakatan.
Di ruang paviliun yang berukuran 30x50 meter persegi, jemaah langsung disibukkan dengan membongkar koper. Pasalnya, hampir semua jemaah keliru dalam menata barang bawaan.
Salah satunya, Abdul Fatin asal Kota Bandung. Dia membawa barang bawaan melebih kapasitas kabin pesawat, harus rela kopernya dibuka kembali. Dengan sigap petugas membantunya. Total ada empat kantong plastik berisi berbagai oleh-oleh, dua koper kabin berisi baju dan dua tas jinjing yang dibawa oleh Abdul Fatin bersama sang istri, Nina Naminah.
Petugas bernama Puji turun tangan. Dia membantu jemaah membuka koper dan langsung mencari baju yang tidak dipakai. Dia menyarankan Abdul Fatin untuk memakai baju berlapis agar kopernya bisa kosong. Benar saja, dia memakai tujuh lapis, sajadah dan jaket istri dia kalungkan dileher dan dua mainan tembak-tembakan sang anak dia bawa dengan diikat.
Baca juga : Golkar Dukung Gaji Hakim Naik Sampai 280 Persen
Setelah 20 menit dibenahi oleh Puji dan kawan-kawan, barang bawaan Abdul Fatin sudah selesai. Semuanya hanya jadi dua koper dan dua tas jinjing saja. Beberapa barang terpaksa dibuang, seperti kaos yang sudah lama, buku dan lain-lain.
Wajah Abdul Fatin langsung sumringah ketika barang bawaannya itu sudah disetujui oleh Staf Operasional Saudi Airlines di Bandara Jeddah Sumarno. Abdul Fatin bilang oleh-oleh ini untuk keluarganya.
“Saya beli banyak buat keluarga. Buat anak-anak saya belikan mainan ini,” ujar Abdul Fatin, Sabtu (14/6/2024).
Muhammad Dimyati, jemaah asal Kloter JKS-07 lainnya juga terlihat gembira saat ditemui Rakyat Merdeka. Dia berangkat bersama kedua orang tuanya. Di tas paspornya, tergantung tiga buah boneka unta. Dia bilang ini titipan sang buah hati.
“Saya senang mau pulang. Ini anak minta boneka unta sama baju gamis,” tutur Dimyati.
Namun terdapat juga kesedihan meliputi penerbangan JKS-07 ini. Salah satu jemaah asal koter ini, Surjana Doli meninggal dunia di klinik bandara sesaat setela tiba di Bandara Jeddah.
Baca juga : Korlantas Mesti Lakukan Upaya Penguatan Kinerja
Hendra, teman sekamar Surjana Doli terlihat berkaca-kaca. Dia terus berdiri di dekat koper milik almarhum. Tangannya pun gemetar saat tim MCH mewawancarai. Hendra yang asli Kota Bandung ini selalu menemani Hendra selama di Tanah Suci. Padahal, keduanya tidak ada hubungan darah dan baru kenal sejak manasik jelang keberangkatan di Indonesia.
Di Tanah Suci, Hendra mengaku selalu sekamar dengan almarhum, pergi bersama ke beberapa tempat ibadah dan tempat wisata. “Saya sering bercanda. Kemana-mana selalu menemani beliau, saya mendorong kursi roda,” katanya.
Koper Surjana Doli pun dipegang dan bawa ke Indonesia. Rencana dia sendiri yang akan mengembalikan ke keluarga Almarhum. “Sangat terpukul, karena saya sudah anggap beliau seperti orang tua sendiri,” ujarnya.
Kesedihan juga terlihat pada jemaah asal Kloter 06 Embarkasi Makassar (UPG-06), Ibu Anisah (53 tahun). Bukan tanpa sebab Ibu Anisah bersedih. Dia terkena musibah rumahnya di kampung tepatnya di daerah Soppeng, Sulawesi Selatan kebakaran. Peristiwaa naas itu terjadi saat ibu Anisah berada di Muzdalifa. Matanya berkaca-kaca. “Ada tiga rumah yang terbakar. Rumah saya yang terakhir namun Alhamdulillah suaki dan anak selamat,” ungkap Anisah.
Selain itu, banyak juga jemaah yang tidak perlu membongkar koper, tas maupun kantong kreseknya. Hal itu terjadi karena jemaah tersebut sudah merapikannya ssjak hotel.
Sementara itu, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kembali mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan. Ditambah suhu panas ekstrem di Kota Makkah dan kepadatan Masjidil Haram menjadi perhatian utama menjelang keberangkatan para jemaah ke bandara.
Baca juga : Gerindra Resmi Laporkan Kades Baturiti Ke Polda Bali
“Cuaca siang hari di Makkah masih mencapai 46 derajat Celcius. Kami mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri melakukan ibadah sunnah, terutama umrah sunnah berulang kali,” ujar Wakil Pengendali Teknis Bidang MCH Akhmad Fauzin, dalam konferensi pers di Makkah, Sabtu (14/6/2025).
Fauzin mengingatkan aktivitas fisik berlebihan pada suhu ekstrem dapat berdampak buruk bagi kondisi kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia, berisiko tinggi, atau yang baru pulih dari kelelahan setelah puncak ibadah haji. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar jemaah lebih bijak mengatur waktu ibadah, termasuk saat akan melaksanakan Tawaf Wada’.
“Sebaiknya pilih waktu yang lebih sejuk seperti pagi hari setelah Subuh atau malam hari. Jemaah juga diimbau tidak bepergian sendiri, tetap bersama rombongan demi keamanan,” tambahnya.
Selain aspek kesehatan, PPIH juga mengingatkan jemaah pengguna Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) agar segera melapor kepada petugas saat tiba di bandara Jeddah atau Madinah. [NNM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.