BREAKING NEWS
 

Junta Makin Sadis Bunuh Pendemo

Myanmar Dibombardir Sanksi

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 6 Maret 2021 05:10 WIB
Tank militer berada di tengah jalanan kota kedua terbesar di Myanmar, Mandalay pada 3 Februari 2021. (Foto : REUTERS).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Amerika Serikat (AS) terus membombardir sanksi terhadap Myanmar agar pemerintah berkuasa saat ini menghentikan kekerasan terhadap demonstran. Namun demikian, junta militer bergeming alias cuek.

Menurut Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Chris­tine Schraner Burgener, Wakil Panglima Militer Soe Win mengatakan, sudah terbiasa dengan sanksi, dan selama ini mereka baik-baik saja, sebagai mana pemberitaan Harian Rakyat Merdeka, kemarin.

Dilansir Reuters, Pemerintah AS mengumumkan sanksi terbaru terhadap junta militer Myanmar, Kamis (4/3). Washington me­masukkan Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Myanmar serta dua peru­sahaan yang dikelola militer ke dalam daftar hitam perdagangan.

Baca juga : KPK Ingatkan Yaqut, Pengadaan Barang Di Kemenag Rawan Korupsi

Dua perusahaan tersebut, yakni Myanmar Economic Corporation dan Myanmar Economic Holdings Limited. Perusahaan besar itu mi­lik militer Myanmar. Perusahaan itu memiliki pengaruh besar terh­adap ekonomi Myanmar, dengan bisnis mulai dari pertambangan, rokok, bir, ban, real estate, hingga telekomunikasi.

AS juga membatasi akses junta militer terhadap kontrol ekspor. Langkah itu bertujuan membatasi militer untuk menda­pat keuntungan atas akses ke banyak barang.

Ini adalah sanksi terbaru untuk junta Myanmar yang terus meng­abaikan anjuran internasional untuk berhenti bersikap sadis pada demonstran anti kudeta.

Baca juga : Junta Burma Dibombardir Sanksi AS, Inggris Dan UE

“Pemerintah AS akan terus meminta pertanggungjawaban pelaku kudeta atas tindakan mereka,” pernyataan Departe­men Perdagangan AS.

Tak hanya itu, AS blokir dana 1 miliar dollar AS (Rp 14,3 triliun) milik junta militer Myan­mar di Federal Reserve Bank New York, tanpa batas waktu.

Adsense

Tiga sumber dari pemerintahan AS yang mengetahui persoalan itu dengan sebutan anonim mengabarkan bahwa mi­liter Myanmar yang dipimpin Min Aung Hlaing, telah berusa­ha untuk memindahkan uangnya yang ditahan di bank sentral AS, setelah terjadi kudeta pada 1 Februari 2021.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense