RM.id Rakyat Merdeka - Sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) Iran membuat Negeri Para Mullah itu terjepit. Dilansir CNN, Dana Moneter Internasional (IMF) meramalkan pertumbuhan ekonomi Iran pada tahun ini akan berjalan lamban.
IMF memprediksi inflasi di Iran akan melambung sampai dengan 40 persen. Kondisi tersebut kemungkinan besar akan berdampak pada penyusutan ekonomi sampai dengan 6 persen. Direktur IMF untuk Timur Tengah Jihad Azour mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat sanksi ekonomi berat yang dijatuhkan Amerika Serikat (AS).
Baca juga : Insinyur Indonesia-Yordania Jalin Kerja Sama
AS minta negara importir minyak segera menghentikan permintaan mereka dari Iran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi tenggat waktu hingga Mei kepada negara tersebut untuk menghentikan impor mereka dari Negeri Mullah itu.
Kalau tidak, AS akan menjatuhkan sanksi kepada mereka. Menteri Luar Negara AS Mike Pompeo mengatakan penghentian impor dilakukan dengan tujuan sederhana; menghilangkan dana yang digunakan rezim di Iran untuk mengacaukan Timur Tengah selama empat dekade belakangan ini.
Baca juga : PM Singapura Akan Terima Award Negarawan Sedunia
"Jelas pengenaan sanksi dan penghapusan keringanan akan memiliki dampak negatif tambahan pada ekonomi Iran. Dalam hal inflasi, ini bisa mencapai 40 persen atau bahkan lebih tahun ini," kata Jihad Azour, Senin (29/4).
Ia mengatakan tanda-tanda pelemahan ekonomi Iran sudah bisa dirasakan. Salah satunya pada pergerakan mata uang real Iran. Kurs resmi Iran ditetapkan sebesar 42 ribu real terhadap dolar AS. Tetapi menurut situs web valuta Bonbast.com, kurs pasar real Iran dipatok di level 144 ribu per dolar AS. [MEL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.