BREAKING NEWS
 

Moralitas Politik Dalam Islam (5)

Bertoleransi Secara Tulus

Sabtu, 5 November 2022 06:32 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Menarik untuk kita kaji, Nabi pernah mengangkat panglima seorang anak muda yang bernama Usamah, relatif masih di bawah 20 tahun.

Suatu ketika ia menjebak seorang musuh sehingga terpojok lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia dilaporkan kepada Nabi oleh sahabat tertentu terhadap kejadian ini.

Baca juga : Memberi Kebebasan Beragama

Nabi memanggil Usamah dengan marah dan bertanya kenapa engkau membunuh orang yang sudah bersya­hat? Dijawab oleh Usamah dengan mengatakan ia bersyahadat karena terpaksa, hanya ingin cari selamat. Nabi menjawab, sebagaimana dikutip di dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik: Nahnu nahkumu bi aldhawahir wa Allahu yatawalla al-sarair (Kita hanya menghukum apa yang tampak dan Allah menentukan apa yang tersembunyi di dalam hati).

Hadis ini amat penting diaktualkan maknanya dalam masyarakat maje­muk seperti Indonesia tercinta.

Baca juga : Batas Kepatuhan Terhadap Pemimpin

Amat banyak pelajaran penting dari Nabi soal ini. Pelajaran penting yang dapat diperoleh dari hadis ini ialah kalau orang sudah bersyahadat dengan benar, tidak perlu lagi dihakimi dengan kekerasan karena secara formal orang itu sudah muslim. Tugas berikutnya ialah bagaimana mengis­lamkan mereka secara utuh.

Banyak lagi hadis yang dapat ditemukan yang menggam­barkan bagaimana Nabi penuh toleransi terhadap mukallaf. Bahkan termasuk memberikan zakat sekalipun ia kaya. Orang mukallaf ialah orang yang sudah bersyahadat. Apapun isi hatinya, itu urusan Allah. Kita jangan mengurus sesuatu yang menjadi hak proregatif-Nya, nanti akan merepotkan diri sendiri.

Baca juga : Memilih Pemimpin Yang Adil

Ia juga banyak menyelesaikan konflik antara petani dan pemilik atau pengendali pengairan, menyelesaikan pasca panen, menyelesaikan persoalan okulasi penanaman ko­rma, menyelesaikan masalah kewarisan, harta pungutan, perkawinan antar umat beragama, dan persoalan pertet­anggaan antar kabilah.

Bahkan konflik negara-negara besar sesama non mulim juga meminta jasa Nabi untuk menyelesaikannya. Jadi Nabi Muhammad SAW betul-betul sebagai Nabi yang layak disebut sebagai Bapak Toleransi, Bapak Perdamaian, Bapak HAM, Bapak Kemanusiaan, dan Bapak Pembebasan. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense