Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Bangsa Indonesia dahulu dikenal sebagai bangsa yang amat menghargai tamu. Menghargai tamu gampang diucapkan, tetapi sulit diwujudkan.
Adalah suatu keistimewaan manakala seseorang diberi kesabaran untuk menerima tamu dengan penuh keikhlasan. Apalagi jika tamu itu betul-betul membebani kita.
Baca juga : Modal Untuk Rakyat Kecil
Masyarakat kota yang sibuk dengan berbagai urusannya biasanya banyak terbebani dengan kehadiran tamu, walaupun itu keluarganya sendiri dari kampung.
Hal yang sangat berbeda, masyarakat pedalaman umumnya sangat ikhlas menerima tamu dari kota. Kalau perlu ayam piaraan yang dimaksudkan untuk dijual guna membayar ongkos pendidikan anaknya dipotong, sebagai tanda penghargaan terhadap tamunya.
Baca juga : Stop Pemborosan, Hentikan Korupsi
Mungkin itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad menegaskan: “Akrim al-dhaif walau kana kafiran“ (muliakanlah tamunya walaupun ia seorang kafir). Dalam kitab-kitab Hadis ditemukan suatu bab khusus tentang kemuliaan tamu (takrim al-dhaif).
Suatu ketika Rasulullah kedatangan tamu non-muslim berjumlah 60 orang, 14 orang di antaranya dari kelompok Kristen Najran. Rombongan tamu dipimpin oleh Abdul Masih. Rombongan ini diterima di Mesjid dengan penuh persahabatan.
Baca juga : Jangan Sampai Rakyat Lapar
Bahkan menurut Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, sebagaimana dikutip Abdul Muqsith dalam kitab “Al-Shirat al-Nabawiyyah”, karya Ibn Hisyam, Juz II, halaman 426-428, ketika waktu kebaktian tiba, maka rombongan tamu Rasulullah ini melakukan kebaktian di dalam mesjid dengan menghadap ke arah timur.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.