BREAKING NEWS
 

Membaca Ulang Al-Qur’an (6)

Teomorfisme Al-Qur’an (1)

Selasa, 28 Maret 2023 07:20 WIB
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Dengan demikian, manusia tidak bisa disebut makhluk yang lebih terkesan antroposentris, namun tidak benar juga disebut makhluk teosentris.

Penulis setuju dengan istilah S.H. Nasr yang menyebut manusia sebagai makhluk teomorfis. Menurut Nasr, satu-satunya makhluk Tuhan yang teomorfis ialah manusia.

Baca juga : Antara Makna Eksoterik Dan Esoterik Al-Qur’an

Teomorfisme manusia tentu saja menjadi keutamaan manusia di antara seluruh makhluk. Namun, dibalik keutamaan ini manusia juga memiliki tantangan yang luar biasa. Manusialah satu-satunya makhluk yang mau dan memiliki kemampuan mengemban amanah besar, ketika seluruh makhluk lainnya menolaknya, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh”. (Q.S. al-Ahdzab/33:72).

Salah satu bentuk teomorfisme manusia ialah di dalam diririnya tergabung dua kekuatan besar, yaitu kekuatan maskulin (quwwah jalaliyah) dan kekuatan feminine (quwwah jamaliyyah), sebuah kombinasi yang tidak dimiliki makhluk lain.

Baca juga : Struktur Makna Esoterik Al-Qur’an

Kombinasi inilah yang memberi kemungkinan sekaligus kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah bumi (khalaif al-ardh). Namun, menurut S.H.Nasr kombinasi ini juga menjadikan manusia sebagai makhluk eksistensialisme, yakni makhluk yang bisa turun-naik martabatnya di sisi Allah SWT.

Adsense

Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), tetapi manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/Q.S. al-Tin/95:5, Q.S. al-A‘raf/7:179).

Baca juga : Analisis Makna Isyarah

Makhluk lain tidak terkecuali malaikat tidak mungkin berdosa karena tidak memiliki quwwah jalaliyyah. Mereka hanya memiliki quwwah jamaliyyah. Malaikat dan makhluk lainnya hanya bisa merepresentasikan aspek perbedaan dan ketakterbandingan (tanzih) Tuhan, tetapi tidak bisa merepresentasikan aspek keserupaan dan keterbandingan (tasybih)-Nya.

Dengan kombinasi kedua kekuatan yang dimiliki, manusia mampu mencapai maqam "sintesa ketuhanan" (al-jam'yyat al-ilahiyyah). Manusia mampu menampilkan sifat-sifat jalaliyyah disamping sifat-sifat jamaliyyah Tuhan
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense