Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Desakralisasi alam semesta berarti alam semesta secara keseluruhan hanya dianggap sebagai sebuah fenomena kosmos yang berevolusi dari suatu bentuk ke bentuk yang lain atau dari suatu suatu wujud ke wujud lain yang terjadi dengan sendirinya.
Alam semesta diasumsikan sebagai obyek yang dapat dieksploitasi sedemikian rupa untuk memenuhi hasrat dan keinginan manusia sebagai subyek.
Manusia ditempatkan sebagai subyek yang memegang kendali dalam kapasitasnya sebagai khalifah atau pengganti Tuhan di muka bumi ini. Manusia seolah-olah memosikan dirinya bukan sebagai alam semesta tetapi pengendali dan pengelola alam semesta.
Dengan demikian, manusia memperlakukan alam semesta ini sebagai sarana penunjang guna meraih kebahagian hidup manusia.
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta: Mendamaikan Mitos Dan Logos (2)
Dalam posisi seperti ini manusia dengan leluasa mengeksloitasi alam sesuai dengan keinginannya. Jika manusia sebagai subyek menaruh perhatian terhadap kelangsungan ekosistem alam semesta maka dampaknya perjalanan kelestarian bumi akan lebih lambat.
Akan tetapi jika yang terjadi sebaliknya, manusia mengeksploitasi alam semesta melapaui daya dukung yang sebenarnya maka sudah barang tentu akan merugikan dunia kemanusiaan itu sendiri.
Desakralisasi alam terjadi jika manusia mengelola alam semesta ini tidak memperhatikan dimensi sakralitas sejumlah tempat dan waktu tertentu.
Kehadiran masjid atau rumah-rumah ibadah lain di kawasan ibu kota selain akan menunjukkan adanya kesadaran religi juga dengan sendirinya akan menggambarkan sikap toleransi dan kebersamaan dengan warga lain dari penganut agama yang berbeda.
Baca juga : Resakralisasi Alam Semesta (1) Mendamaikan Mitos Dan Logos (1)
Desakralisasi terjadi jika pintu gerbang Indonesia terbuka lebar. Modernisasi yang berlangsung di segala bidang kehidupan anak manusia yang sofiticatrd bisa mengerogoti nilai-nilai adat istiadat lokal lita.
Perhatikan di sekitar kita, manusia sibuk mengekploitasi alam semesta untuk menutupi harapan-harapan hidupnya yang bersifat matrialistik. Hutan belantara dibabat atau dibakar untuk menanam kelapa sawit atau tanama-tanaman industri lainnya, tanpa memperhatikan ekosistem yang berada di sekitarnya.
Para petani sudah terbiasa dengan kebiasaan baru mengelola sawahnya dengan menghemat tenaga lalu menggunakan bahan-bahan kimia dan pupuk serta alat-alat canggi lainnya. Kesemuanya itu justru menimbulkan dampak yang lebih luas.
Dampak negatif tersebut bukan hanya dirasakan oleh dunia binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia itu sendiri secara kolektif.
Baca juga : Pembelajaran Dari Laut Mati
Profanisasi ruang sacral ikut juga mendukung desakralisasi dalam kedidupan kita. Masjid dan rumah-rumah ibadah lain sudah mulai kehilangan Tingkat ketergantungannya di nesajid. Masjid-masjid lebih terasa sebagai function room. Rumah-rumah ibadah semakin kehilangan daya sakralnya, Tidak heran jika masjid tidak lagi berfunsi untuk mendapatkan ketenangan tetapi sebaliknya kadang-kadang masjid menjadikan arena dakwah dan pengembangan.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu, 14 Januari 2024 dengan judul "Teologi Lingkungan Hidup (109), Resakralisasi Alam Semesta: Dampak Desakralisasi Alam Semesta"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.