RM.id Rakyat Merdeka -
Oleh: Prof Tjipta Lesmana
Pengamat Politik Senior
Di luar soal politik, khususnya politik yang terkait pemilu, fenomena PHK sangat merisaukan dan memprihatinkan masyarakat luas.
Baca juga : Abraham Samad, Calon Gubernur DKI?
Pabrik sepatu Goodyear terpaksa ditutup, 550 pekerja terpaksa di-PHK. Pabrik sepatu yang pernah kondang, Nike, mengalami nasib serupa, ditutup dan 740 pekerjanya di-PHK. PT Dean Shoes di Karawang harus tutup dan 350 karyawannya di-PHK. Sepatu Bata yang sempat legendaris di negara kita harus menghentikan produksinya di daerah Purwakarta, Jawa Barat, dengan memberhentikan 233 pekerjanya.
Kenapa pabrik-pabrik itu harus ditutup dan memberhentikan hampir semua pekerjanya? Jawabannya sederhana: karena penjualannya makin merosot, sehingga menderita kerugian. Kenapa penjualan merosot dan merosot? Karena rakyat lebih mengutamakan “perut” daripada sepatu baru. Dalam situasi keuntungan makin merosot, investor lama kelamaan emoh suntik dana segar.
Baca juga : Amran Berjuang Keras Tahan Impor Beras
Penyebab lain: diam-diam sejumlah pabrik dari luar negeri juga menyerbu produk mereka ke Indonesia, mencari pasar. Dalam “pertempuran” antara made-in impor dan buatan domestik, yang impor biasanya mengungguli pasar.
Pemerintah, dalam hal ini, Menteri Tenaga Kerja dan kebanyakan Menteri lain, tampaknya sangat sibuk dengan urusan politik. Mereka mencaci-cari kursi Menteri pimpinan Prabowo Subianto. Alhasil, urusan kementeriannya kurang mendapat atensi yang serius. Enggak ada pemikiran yang sungguh-sungguh untuk menyelamatkan pabrik lokal yang nyaris tenggelam.
Baca juga : Mekanisme Teknologi Pertanian
Maraknya pabrik-pabrik yang harus tutup pintu dan menghentikan sekian banyak pekerjanya, tidak boleh dianggap sepi oleh pemerintah. Dalam situasi politik yang masih panas ditambah perekonomian yang kian memprihatinkan juga, pemimpin harus waspada; jangan sampai situasi politik “meledak” karena perut rakyat makin “kempes” dan ada pihak-pihak yang diam-diam main “kucing-kucingan”. Buruh dan mahasiswa, di mana-mana, dua elemen masyarakat yang setiap saat mudah “dikilik-kilik” untuk kepentingan makro yang buruk.
Para pemimpin nasional kita atau calon pemimpin nasional juga perlu waspada jangan seenaknya obral janji-janji kepada rakyat. Janji kosong bisa jadi “peluru” dahsyat untuk meledakkan masyarakat!
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.