Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Setidaknya ada dua alasan malaikat mempertanyakan kebijakan Tuhan. Pertama, manusia nanti akan merusak alam semesta (yafsidu fiha) dan kedua, manusia akan melakukan pertumpahan darah.
Apa yang diprediksi malaikat memang sudah terbukti kebenarannya. Manusia banyak melakukan perusakan lingkungan alam dan lingkungan hidup dan manusia juga terbukti sepanjang sejarahnya selalu diwarnai pertumpahan darah, mulai ketika Qabil membunuh saudaranya, Habil sampai sekarang manusia menggunakan senjata pemusnah canggih untuk memusnahkan saudaranya sendiri. Sementara para malaikat tetap menjadi hamba setia tanpa pernah melakukan pelanggaran, dosa, dan maksiat.
Menanggapi interupsi dan pertanyaan malaikat sebagaimana diabadikan dalam Q.S. Al-Baqarah/2:30, Allah SWT menjawab dengan tegas: ”Inni a’lamu ma la ta’lamun” (Sesungguhnya Aku lebih tahu daripada apa yang kalian tidak tahu). Dalam ilmu balagah, sastra Arab, ungkapan dengan huruf ta’kid (stressing point word) dapat difahami Tuhan sepertinya tersinggung.
Baca juga : Memaknai Kebebasan Beragama
Bukan karena dua alasan yang dikemukakan malaikat tadi, tetapi ungkapan yang mengklaim dirinya sebagai paling ahli ibadah: Wa nahnu nusabbihu bi hamdika wa nuqaddisu lak (kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan-Mu).
Ungkapan seperti ini sesungguhnya bukan ungkapan kesombongan (istikbar) tetapi hanya mengungkapkan pernyataan diri lebih baik (al-’alin) dalam urusan ibadah dan pengabdian. Namun demikian, bagi Tuhan hal itu tidak pantas diungkapkan. Bukankah Tuhan Maha Tahu segala sesuatu tanpa harus diungkapkan.
Atas jawaban Allah SWT tadi, maka para malaikat mengungkapkan penyesalannya mempertanyakan kebijakan Tuhan dan mengklaim diri sebagai ahli ibadah, dengan cara melakukan ”pertobatan” dengan berthawaf mengelilingi ’Arasy, ”Istana Tuhan” berhari-hari sambil menangis.
Baca juga : Kemurahan Hati (Al-Jud)
Akhirnya pada suatu hari Allah SWT menyapa mereka dan mereka diminta untuk pindah di Baitul Makmur, miniatur ’Arasy, dibangun di bawah Arasy. Di situlah malaikat terus melakukan tawaf dan kemudian nenek moyang kita Adam dan Hawa menyaksikan pemandangan itu lalu keduanya pun menirukan tradisi thawaf itu.
Kita belum mendapatkan kepastian waktu berapa lama malaikat melakukan thawaf memutari ’Arasy ”Istana Tuhan”, tetapi yang pasti, malaikat pun ”jatuh” ke bawah, yakni ke Baitul Ma’mur. Para malaikat tidak jatuh ke lembah paling bawah yakni neraka, karena malaikat langsung melakukan pertobatan setelah itu dan tidak menolak sujud kepada Adam sebagaimana diperintahkan Tuhan: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (Q.S, Al-Baqarah/2:34).
Allah SWT menerima pernyataan penyesalan diri para malaikat karena mereka menyadari kekeliruannya mempertanyakan kebijakan Tuhan dan sekaligus mengikuti perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam sebagaimana diungkapkan dalam ayat tersebut di atas.
Baca juga : Berkepribadian Qana`ah
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Rabu, 23 Oktober 2024 dengan judul "Prediksi Malaikat Tentang Manusia"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.