Dark/Light Mode
Road-Map Menuju Langit (16)
Tahap Pertama: Dari al-Khalq Menuju al-Haq (5)
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Meskipun masih berada di dalam safar awal, tetapi maqam ini sudah bisa disebut maqam luar biasa. Amat sulit seseorang untuk sampai ke maqam ini. Di antara kekhususan (untuk tidak mengatakan kelebihan) maqam ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.Musafir/salik sudah berusaha meninggalkan dunia fisik dan materi menuju maqam Haqqani (Divine space). Ia semakin sadar kalau perjalanan dan pendakiannya sudah mengerucut, menyempit, dan pada saatnya melihat segala sesuatu sebagai satu. Dirinya pun hilang di dalam kesatuan itu. Di dalam maqam ini, musafir/suluk sudah ‘menghancurkan’ dirinya sebagai al-khalq lalu kini beralih secara batin menjadi bagian inti dari Al-Haq.
Baca juga : Tahap Pertama: Dari al-Khalq Menuju al-Haq (4)
Ungkapan syathahat/theopatical stammering dari mulut sang salik sering terdengar, seperti ungkapan Abu Yazid al-Busthami: “Yang ada dalam baju ini hanya Allah”, “Maha Suci Aku , Maha Besar Aku”, “Tidak ada Tuhan selain Aku maka sembahlah Aku”, “Seseorang bertamu ke rumah Abu Yazid dan mengetuk pintu, Abu Yazid bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Jawab sang tamu: “Abu Yazid” Lalu dijawab oleh Abu Yazid: “Pergilah, di rumah ini tak ada siapa-siapa kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”, “Tuhan berkata: “Semua mereka kecuali engkau adalah makhlukku” Akupun berkata: “Aku adalah Engkau, Engkau adalah aku dan aku adalah Engkau”.
2. Musafir/salik sudah terbebas dari maqam juz’i karena sudah berada di maqam kulli. Ia tidak lagi melihat alam ini beragam atau banyak (manyness), tetapi sudah melihatnya sebagai satu (oneness).
Baca juga : Tahap Pertama: Dari al-Khalq Menuju al-Haq (3)
Ia sudah terbebas dari hijab al-katsrah karena sudah berada di dalam al-wahidiyah. Tantangan terberat di dalam safar awal ini ialah hijab katsrah (manyness). Jika musafir/salik sudah mampu melewatinya maka hilanglah yang ‘banyak’ ini karena sudah tersedot menjadi ‘satu’.
3. Musafir/salik sudah menyadari sepenuhnya kalau yang banyak itu sesungguhnya adalah manivestasi (tajalli) dari al-wahidiyyah. Ia menyaksikan alam merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan dirinya, dan alam secara keseluruhan disadari juga sebagai bagian dari diri-Nya.
Baca juga : Tahap Pertama: Dari al-Khalq Menuju al-Haq (2)
Ia sudah berada dalam keadaan seperti yang dilukiskan di dalam ayat: “(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. (Q.S. Ghafir/40:16).
Dalam kitab-kitab tafsir Isyari, ayat ini ditafsirkan panjang-lebar, yang intinya penggambaran orang-orang yang sudah masuk ke dalam alam Haqqani.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.