Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Tidak sedikit kelompok garis keras atau sering disebut radikal melakukan aksinya sebagai reaksi dari kecemasan mereka terhadap gerakan liberalisasi di dalam berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara.
Meskipun kelompok liberal juga beralasan sama, gerakan liberal yang dilakukan sebagai antitesa terhadap maraknya gerakan radikalisme di dalam masyarakat.
Kedua kelompok ini sama-sama melibatkan agama sebagai salah satu sasaran dan sekaligus dasar gerakan.
Kelompok garis keras khawatir akan terjadi pendangkalan aqidah umat dengan semakin meluasnya gerakan liberal. Kekhawatiran mereka terlalu jauh membayangkan akan terjadi deislamisasi jika tidak dilakukan proteksi dalam bentuk gerakan. Seiring dengan itu, kelompok-kelompok garis keras juga diduga dipicu dengan maraknya ideologi trans-nasional.
Baca juga : Iblis Dan Malaikat Penguji Iman
Terlepas ada atau tidak adanya hubungan ideologi trans-nasional, perkembangan sains dan teknologi juga memungkinkan kelompok garis keras lokal mengidentifikasikan diri dengan kelompok yang sama yang ada di luar negeri.
Semakin kuat gerakan liberal semakin kuat pula respons kelompok garis keras melancarkan proteksinya. Karena itu, salah satu upaya untuk meredam semangat dan kekuatan garis keras atau radikal ialah mengatur laju perkembangan masyarakat tanpa kesan kuat terjadinya liberalisasi. Dengan kata lain, deliberalisasi bisa menjadi salah satu upaya menekan dan mengeliminir kelompok garis keras atau radikalisme di dalam masyarakat.
Bagi bangsa Indonesia, kedua kelompok ini lebih “membebani” kehidupan berbangsa dan bernegara, kerena keduanya bukan merupakan watak dasar bangsa Indonesia. Bahkan watak dasar budaya Indonesia ialah menganut sistem kekerabatan dan kekeluargaan.
Segala sesuatu dapat diselesaikan dengan prinsip musyawarah dan mufakat. Adat-istiadat lokal bangsa Indonesia tidak pernah mentolerir cara-cara kekerasan di dalam menyelesaikan persoalan. Pada saat bersamaan, watak dasar bangsa Indonesia yang dikenal menjunjung tinggi etika ketimuran dalam arti mengedepankan kesantunan publik dan kesantunan sosial.
Baca juga : Keberadaan Islam Wetu Telu Di Lombok
Liberalisasi gaya hidup dan tidak sejalan dengan watak dan budaya bangsa. Namun, tidak berarti Indonesia anti perkembangan dan kemoderenan. Indonesia berkembang di antara kedua aliran yang sering berhadap-hadapan ini.
Radikalisme adalah sebuah faham yang berusaha memahami dalil-dalil dan ajaran agama lebih ketat sehingga melahirkan pandangan dan perilaku keagamaan yang tegas dan keras (radikal). Sedangkan liberalisme adalah sebuah paham yang berusaha memahami dalil-dalil dan ajaran agama lebih longgar sehingga melahirkan pandangan dan perilaku keagamaan yang sangat moderat (liberal). Kedua aliran ini mempunyai kelompok pendukung di dalam masyarakat. Bahkan keduanya memiliki kelompok fanatik yang mengklaim alirannyalah yang paling benar dan berusaha merumuskan logika untuk memperkuat pendapatnya sambil mencari kelemahan kelompok selainnya.
Kelompok radikal, yang biasa juga disebut garis keras atau fundamentalis, selalu berusaha dan berjuang untuk membentengi umat dengan berbagai jargon, seperti kembali kepada Qur’an dan sunnah, kelompok pembela Islam, amar makruf nahi munkar, fi sabilillah, kelompok mujahidin, pembela Islam, dan berbagai jargon keagamaan lainnya. Yel-yelnya juga menggunakan kalimat-kalimat suci seperti “Allahu akbar”, dan yel-yel lainnya. Sedangkan kelompok liberal selalu berusaha untuk memperkenalkan ide-ide di dalam masyarakat bahwa Islam adalah agama kemanusiaan. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai logika dan kemanusiaan.
Jika seandainya ada dalil-dalil agama yang bertentangan atau tidak sejalan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan maka yang harus dimenangkan ialah pemahaman yang pro-kemanusiaan.
Baca juga : Keberadaan Paham Kasepuhan Ciptagelar
Sebagai bangsa dan negara religius, Indonesia membutuhkan pola manajemen tersendiri di dalam mengatasi kemungkinan timbulnya ketegangan konseptual antara kedua aliran tersebut. Diperlukan peraturan dan perundang-undangan yang tepat guna mengatasi hubungan antar aliran di dalam kehidupan bermasyarakat.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Selasa, 17 Desember 2024 dengan judul "Deliberalisasi Untuk Deradikalisasi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.