Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Beragama Dalam Keberagaman (37)
Keberadaan Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Salah satu ajaran Kejawen yang popular di dalam masyarakat Jawa kontemporer ialah Kejawen Ajaran Ki Ageng Surmentaram (KAKAS).
Ajaran ini dikembangkan oleh Ki Ageng Suryomentaram, yang lahir pada tanggal 20 Mei 1928. Ia merupakan putra ke-55 dari 79 putra-putri Sri Sultan Hamengkubuwino VII. Ketika berusia 18 tahun, ia diangkat sebagai pangeran bergelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram.
Ia termasuk rajin mempelajari sejarah, filsafat, dan ilmu agama. Suatu saat, ia meminta untuk berhenti menjadi pangeran karena ia lebih tertarik untuk hidup bebas bersama masyarakat luas.
Ia tidak betah tinggal di istana dan merasa bagaikan hidup di dalam kurungan. Permintaannya baru dipenuhi ketika Sri Sultan Hamengkubowono III. Ia memilih menjadi petani dan membeli tanah di Bringin Salahtiga lalu bertani sebagaimana masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Baca juga : Keberadaan Brayat Agung Mojopahit
Ia lebih dikenal sebagai Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. (Lihat hasil penelitian Kementerian Agama: Direktori Paham, Aliran, dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, 2012).
Dalam melakukan pengembaraan spiritual, ia diidampingi oleh isterinya bernama Nyi Ageng Suryomentaram. Suatu saat Ki Ageng membangunkan isterinya lalu menceritakan pengalaman batinnya bahwa yang selalu tidak puas dan kecewa dengan berbagai hal selama ini dan sudah menemukan cara mengatasinya. Ia pun sepertinya menjalani kehidupannya dengan banyak berjalan dan bepergian sambil memperhatikan lebih mendalam pengalaman batinnya sendiri.
Akhirnya dalam tahun 1928 hasil pengamatan dirinya ditulis di dalam bentuk puisi lalu dijadikan buku dengan judul “Uran-uran Beja”. Kumpulan wejangan-wejangan ini dibukukan oleh putranya, dr. Grangsang Suryomentaram dan Ki Oto Suastika. (Lihat hasil penelitian Kementerian Agama: Direktori Paham, Aliran, dan Gerakan Keagamaan di Indonesia, 2012).
Inti ajaran KAKAS lebih banyak bersifat sufistik yang mengajarkan kesederhanaan, keikhlasan, dan kesabaran. Ketenteraman hidup dapat dirasakan setiap orang manakala mampu mengendalikan berbagai keinginan.
Baca juga : Keberadaan Aliran Among Tani Majapahit
Hidup ini pasti selalu diwarnai oleh hal-hal yang bersifat kotradiksi seperti senang dan sengsara, ketawa dan menangis, serta gembira dan sedih.
Penyebab utama kekecewaan dalam hidup ialah terlalu besarnya tuntutan keinginan. Jika seseorang mampu mengendalikan keinginan maka tingkat kekecewaan hidupnya akan berkurang.
Ajaran lainnya ialah filsafat rasa yang lebih dikenal dengan istilah: Pangawikan Pribadi (Pengenalan diri sendiri). Dalam mengakaji diri ditemukan dua macam obyek, yaitu obyek benda mati dan obyek benda hidup seperti tumbuhtumbuhan, hewan, dan manusia.
Manusia memiliki rasa hidup, dan rasa hidup inilah yang mendorong manusia untuk selalu bergerak. Manusia adalah makhluk yang paling mobile, membutuhkan ruang, dan terikat oleh waktu. Karena itu, manusia membutuhkan bimbingan dan tuntunan agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi ini.
Baca juga : Keberadaan Susila Budhi Dharma (Subud)
Pada umumnya praktek ajaran formal KAKAS sama dengan umat Islam mainstream. Umumnya mereka menggunakan praktek ajaran Islam seperti shalat lima waktu dan rukun Islam lainnya. Mereka umumnya menolak untuk tidak disebut muslim.
Apa yang dipraktekkan dalam kehidupan seharihari dianggap tidak ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, meskipun dari kalangan umat Islam sering ada yang menudingnya sebagai kelompok aliran kepercayaan.
Jika diianalisis hasil penelitian Kementerian Agama, maka KAKAS tetap berada di dalam koridor Islam. Apalagi mereka tetap memilih Islam sebagai agama resmi dan tertera di dalam KTP mereka. KAKAS mungkin lebih tepat disebut kelompok Islam yang bercorak tasawuf.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Rabu, 11 Desember 2024 dengan judul "Beragama Dalam Keberagaman (37) Keberadaan Kejawen Ajaran Ki Ageng Suryomentaram"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.