BREAKING NEWS
 

Moderasi Beragama Di Indonesia (32)

Syahid = Patriot?

Minggu, 23 Februari 2025 06:20 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Syahid ialah orang yang berjuang semaksimal mungkin di jalan Allah untuk meraih kemenangan. Patriot biasa diartikan sebagai perjuangan anak bangsa untuk meraih kemerdekaan dan mengejar cita-cita luhur bangsa dan negerinya. Orang yang korban atau mati di dalam memperjuangkan ideologi agama biasa disebut syahid atau mati syahid; sedangkan orang yang korban atau gugur di medan juang mempertahankan ideologi negara lazim disebut patriot.

Orang yang membela dan mempertahankan kedaulatan bangsa dengan jihad memperoleh predikat ganda sebagai syuhada dan pahlawan kusuma bangsa. Di taman makam pahlawan para almarhum dan almarhuma selalu didoakan sebagai syuhada sekaligus pahlawan kusuma bangsa.

Dalam masa damai seperti sekarang, tidak ada lagi musuh secara fisik yang harus dilawan dan diusir, maka bintang penghargaan dan definisi pahlawan mengalami pergeseran. Dalam masa perjuangan fisik, para pahlawan identik dengan ujung pedang yang berlumuran darah. Sekarang, pahlawan disimbolkan dengan ujung pena yang basah dengan tinta.

Yang pertama meraih gelar pahlawan karena membebaskan bangsa dari penjajah asing dan yang kedua menjadi pahlawan karena membebaskan masyarakat dari kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Keduanya dalam bahasa agama disebut jihad. Bahkan Rasulullah pernah bersabda: “Kita baru pulang dari peperangan kecil menuju peperangan yang lebih besar”. 

Baca juga : Dampak Pengosongan Kolom Agama Dalam KTP

Para sahabat menjawab apa masih ada perang lebih dahsyat dari perang ini (Perang Badr). Di jawab Rasulullah SAW: “Iya, yaitu perang dalam melawan hawa nafsu.”

Perang melawan diri sendiri jauh lebih besar daripada melawan musuh dari luar. Pernyataan Nabi ini melampaui masa Nabi, dan pernyataan ini sangat universal.

Yang lebih penting untuk dicermati ialah fenomena bangkitnya kekuatan emosi keagamaan atau jihad. Kekuatan emosi ini luar biasa dan lebih sensitif dibanding emosi primordial, semisal kesukuan dan kekeluargaan. Emosi keagamaan bisa menjadi pemicu adrenalin paling dahsyat. Gugur karena membela etnik dan keluarga bagi mereka tidak ada jaminan syurga.

Adsense

Akan tetapi gugur karena membela panji-panji agama adalah mati syahid dan dijanjikan masuk surga tanpa proses perhitungan surat amal. Untuk jihad berlaku sebuah motto: ‘isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Tidak heran jika ada perang membela jalan Tuhan selalu ramai dan bahkan dicari.

Dalam lintasan sejarah perang agama, seringkali orang-orang yang tampil paling depan ialah mereka yang bukan praktisi agama, seperti para ulama atau pemimpin agama tetapi pemeluk agama yang biasa dan mungkin di antara mereka ada yang berlumuran dosa. 

Baca juga : Hukum Negara = Hukum Agama?

Mereka berharap menjadi syuhada, mati di dalam membela agama Tuhan, untuk menebus dosa masa lampau dengan cara menjadi syahid.

Para teroris tidak semuanya ahli ibadah yang tekun menjalankan amalan wajib dan sunnat, tetapi sebagian di antaranya terbebani dengan dosa besar masa lampau, sehingga mereka ingin menebusnya dengan mati syahid.

Masalahnya ialah, mereka menilai mati dengan meledakkan diri bersama bom ditujukan kepada sekutu-sekutu kaum kafir dianggap pula mati syahid. Padahal boleh jadi mereka hanya mati konyol bukan mati syahid.

Kategori syahid kriterianya sangat panjang. Yang pasti tidak boleh nekat melibatkan diri di dalam suatu peran yang mengancam jiwa, seperti meledakkan diri dengan bom untuk membunuh musuh.

Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah mencontohkan suatu kejadian yang dapat membenarkan bom bunuh diri atau semacamnya. Bahkan dalam hadis ditemukan orang yang bunuh diri sama dengan mati kafir. Orang yang nekat dapat dianalogikan dengan bunuh diri. Dan orang bunuh diri dianggap mati kafir, dan orang kafir tidak boleh dishalati. Itulah sebabnya ada fatwa yang pernah menyatakan jenazah para teroris tidak perlu diurus secara Islam karena perbuatannya sudah keluar dari koridor Islam.

Baca juga : Dampak Pengisian Kolom Agama

Pembakar emosi umat tidak akan pernah hilang. Semenjak masa Nabi sampai sekarang selalu ada saja orang yang menjadi faktor dalam terbakarnya emosi umat. Salah satu contohnya ialah pembuatan film The Innocence of Muslims dan film Fitnah serta beberapa film karton yang pernah membuat kemarahan umat Islam di seluruh dunia. Semua bentuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW selalu membangkitkan emosi destruktif umat.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 8, edisi Minggu, 23 Februari 2025 dengan judul "Moderasi Beragama Di Indonesia (32) Syahid = Patriot?"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense