Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 24 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Dokter Nasional. Kalau kita lihat sejarahnya, pada 24 Oktober 1950, dr. Soeharto, mewakili Panitia Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bersama pengurus lain seperti dr. Sarwono Prawirohardjo, dr. Pirngadi, dr. Puw Eng Liang, dr. Tan Eng Lie, dr. Aziz Saleh, dan dr. Adrianus Sinaga, mengunjungi notaris R. Kadiman di Yogyakarta.
Tujuan mereka adalah untuk mengesahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi melalui akta notaris. Sehingga memiliki legalitas hukum yang sah. Selanjutnya, pada Muktamar IDI XXII tahun 1994 di Ujung Pandang, ditetapkanlah 24 Oktober sebagai Hari Dokter Nasional.
Laman Pusat Krisis Kementerian Kesehatan, 24 Oktober 2025, menuliskan bahwa bangsa Indonesia memperingati Hari Dokter Nasional sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi, pengabdian, dan perjuangan para dokter dalam menjaga kesehatan masyarakat. Tahun 2025 ini, peringatan Hari Dokter Nasional mengusung tema “Dokter Berbagi untuk Negeri”. Tema ini menggambarkan semangat para dokter untuk terus memberikan ilmu, tenaga, dan waktu demi meningkatkan derajat kesehatan bangsa.
Sementara itu, laman Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menulis bahwa pada peringatan HUT IDI ke-75 tahun 2025 ini, IDI mengusung tema “75 Tahun IDI Berkarya, Membangun Kesehatan Bangsa.” Tema ini mencerminkan komitmen IDI dalam terus berkarya melalui peran aktif para dokter, membangun sistem kesehatan yang lebih baik, serta mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat secara berkelanjutan.
Baca juga : Lima Hal SPPG Polri
Saya berterima kasih dan berbesar hati karena pada 24 Oktober 2025, tepat di Hari Dokter Nasional, saya dan beberapa sejawat dokter menerima FIMMA (Fellow of Indonesia Military Medicine Association), yang diserahkan oleh Ketua Perdokmil Mayjen (Purn) dr. Prihati Pujowaskito, Sp.JP(K), FIHA, MMRS, dan Sekjen Perdokmil Mayjen (Purn) dr. Dian Andriani R.D., Sp.DVE, M.Biomed, MARS, S.H., M.H., FINSDV, FAADV.
Acara ini diselenggarakan dalam ajang “2nd International Military Medicine Symposium and Workshop (IMEDIC) 2025.” Perdokmil (Perkumpulan Kedokteran Militer) sendiri merupakan organisasi profesi yang mendukung ketahanan nasional melalui pelayanan kesehatan militer dan pengembangan ilmu kedokteran militer di Indonesia.
Sebelum menerima pengalungan dan sertifikat FIMMA, saya menyampaikan presentasi berjudul “Next Pandemic.” Saya membahas beberapa hal tentang kedokteran militer dan antisipasi pandemi mendatang. Mulai dari kaitan pandemi dengan ketahanan kesehatan, pengalaman pandemi 1918 dalam konteks Perang Dunia, proses penyebaran wabah yang memiliki aspek intelijen kesehatan, hingga usulan agar Perdokmil terus mendalami dan melakukan kegiatan dalam kerangka “One Health.”
Konsep One Health menekankan kerja bersama antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan. Kita tahu, kesehatan manusia tidak lepas dari kesehatan hewan (terkait penyakit zoonosis, penyakit dari hewan ke manusia) dan kesehatan lingkungan. Lingkungan yang buruk jelas akan memengaruhi kesehatan manusia, apalagi jika kita berbicara tentang perubahan iklim (climate change) dan dampaknya terhadap kesehatan serta kehidupan.
Baca juga : MBG Dan Penuntasan Tuberkulosis
Di bagian akhir, saya sampaikan bahwa dalam Asta Cita, setidaknya ada tiga aspek yang berkaitan dengan kesehatan.
Aspek pertama adalah Asta Cita ke-4, yang secara jelas menyebutkan: “Memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, dan seterusnya.” Jadi, kata kesehatan memang tercantum secara eksplisit.
Aspek kedua adalah Asta Cita ke-8, yang antara lain berbunyi: “Kehidupan yang selaras dengan lingkungan, dan seterusnya.” Hal ini berkaitan dengan konsep One Health yang harus dikuasai dan dijalankan oleh jajaran kesehatan kita di berbagai tingkatan, menggambarkan hubungan penting antara lingkungan dan kesehatan.
Aspek ketiga adalah Asta Cita ke-2, yang antara lain mencakup: “Sistem pertahanan dan keamanan negara.” Hal ini jelas terkait dengan ketahanan kesehatan (health security), yang merupakan ruang lingkup penting dari Perkumpulan Kedokteran Militer, sekaligus aspek strategis dalam kesehatan masyarakat nasional maupun global. Aspek ketiga dalam Asta Cita ke-2 ini juga sejalan dengan tema IMEDIC 2025, yaitu “sBiosecurity and Biosafety in Healthcare Services.”
Baca juga : MBG Dan Harapan Guru-Orang Tua
Sebagai penutup, sebagai dokter yang telah 45 tahun berkarya di dalam negeri dan dunia internasional, saya yakin bahwa dokter Indonesia akan selalu membaktikan diri sepenuh hati demi kesehatan bangsa.
Prof Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, FIRS, FIMMA
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
-Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes dan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI (April 2024), Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia, dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.