Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Seperti kita ketahui, sejak beberapa tahun belakangan ini Indonesia merupakan negara penyumbang kasus tuberkulosis (TB) terbanyak kedua di dunia.
Sejalan dengan itu, upaya mempercepat eliminasi tuberkulosis menjadi bagian dari delapan misi utama atau Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, bahkan ditetapkan sebagai Hasil Terbaik Cepat atau Quick Win yang harus segera direalisasikan. Program ini tentu harus disukseskan melalui berbagai kegiatan yang tertata dengan baik.
Di sisi lain, kita ketahui bersama bahwa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan longsor yang berdampak amat luas di tiga provinsi tersebut. Salah satu dampak yang harus ditangani adalah di bidang kesehatan, termasuk tuberkulosis. Pengalaman lapangan dan berbagai artikel ilmiah menunjukkan bahwa bencana alam dapat berakibat buruk terhadap pelaksanaan program pengendalian tuberkulosis.
Karena tuberkulosis merupakan prioritas penting dalam Hasil Terbaik Cepat Asta Cita Presiden, dan penanganan bencana banjir saat ini juga menjadi salah satu kegiatan utama Pemerintah, maka diperlukan penanganan yang baik agar program pengendalian tuberkulosis tetap dapat berjalan dengan baik walaupun berada dalam situasi bencana.
Baca juga : WNI Dengan Kusta Di Rumania
Untuk itu, perlu diketahui bahwa bencana banjir setidaknya memiliki lima dampak utama terhadap penanganan tuberkulosis di daerah terdampak. Kelima hal inilah yang kini harus menjadi prioritas penanganan di lapangan.
Pertama, kita tahu bahwa pasien tuberkulosis harus mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) selama setidaknya enam bulan, tidak boleh putus atau berhenti di tengah jalan. Jika pengobatan terhenti, maka ada tiga dampak serius. Pertama, penyakit tidak akan sembuh. Kedua, jika penghentian berlangsung cukup lama, maka pengobatan harus dimulai dari awal kembali. Ketiga, jika pengobatan menjadi tidak teratur, dapat terjadi resistensi obat, baik dalam bentuk resisten satu obat (monoresisten) maupun resisten terhadap beberapa obat penting yang dikenal sebagai MDR atau multi-drug resistance.
Dalam kondisi bencana, pasien sering kali tidak dapat datang ke puskesmas atau rumah sakit tempat mereka biasa mengambil obat, baik karena rumah rusak maupun akses jalan terputus.
Selain itu, bencana juga dapat merusak berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk instalasi farmasi yang menyimpan dan menyediakan obat TB, sehingga pasien berisiko putus obat. Bencana juga mengakibatkan terganggunya alur transportasi, sehingga pengiriman obat pengganti untuk obat yang rusak atau hilang menjadi sulit masuk ke sebagian wilayah terdampak. Semua hal ini harus diatasi agar seluruh pasien TB di daerah bencana tetap dapat mengonsumsi obat sesuai jadwal demi kesembuhan mereka.
Baca juga : Pelayanan Rumah Sakit Pascabencana Banjir
Kedua, kita mengetahui bahwa diagnosis tuberkulosis harus ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa cukup banyak alat TCM yang rusak akibat bencana, dan kondisi ini perlu segera ditangani dan diperbaiki. Memang terdapat kemungkinan diagnosis melalui pemeriksaan lain seperti foto rontgen, namun alat rontgen beserta ruangannya juga berpotensi rusak atau terdampak banjir, sehingga memerlukan perbaikan secepatnya.
Ketiga, hal yang juga patut mendapat perhatian adalah kemungkinan peningkatan penularan TB dari pasien ke lingkungan sekitarnya, terutama di lokasi pengungsian yang padat. Untuk mengatasinya, setidaknya diperlukan tiga langkah penting. Pertama, segera menemukan dan mendiagnosis kasus baru agar pengobatan dapat dimulai secepat mungkin. Kedua, jika memungkinkan, dilakukan pemisahan antara pengungsi yang sakit dan yang sehat untuk meminimalkan penularan. Ketiga, perlu upaya serius agar para pengungsi segera mendapatkan hunian yang lebih layak.
Keempat, dampak banjir terhadap tuberkulosis juga berkaitan dengan menurunnya daya tahan tubuh masyarakat terdampak. Kita ketahui bahwa pada sebagian orang terdapat kuman tuberkulosis dalam kondisi dorman atau tidak aktif di dalam tubuh. Ketika daya tahan tubuh menurun karena berbagai sebab, termasuk akibat bencana, kuman yang dorman tersebut dapat kembali aktif dan menimbulkan penyakit tuberkulosis dengan berbagai gejala dan dampaknya.
Kelima, sebagaimana program kesehatan lainnya, pengendalian tuberkulosis memerlukan sumber daya manusia, sarana prasarana, serta sistem kerja yang baik. Dalam situasi bencana seperti sekarang ini, seluruh aspek tersebut harus ditangani dengan sangat cermat. Perlu diingat pula bahwa dampak kesehatan, termasuk terhadap pengendalian tuberkulosis, dapat berlangsung berkepanjangan, setidaknya hingga beberapa bulan ke depan. Oleh karena itu, diperlukan ketahanan atau resiliensi sistem kesehatan yang kuat.
Baca juga : Antisipasi Kemungkinan KLB Penyakit Pasca Banjir Besar
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI - Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular World Health Organization Asia Tenggara
- Mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dari Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.