BREAKING NEWS
 

Kajian Teosofi (18)

Antara Denotatif dan Konotatif

Kamis, 9 April 2026 05:46 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Salah satu kesulitan dalam memahami bahasa agama, terutama bahasa Kitab Suci, ialah membedakan kapan sebuah kata dimaknai secara denotatif dan kapan dimaknai secara konotatif. Pemaknaan secara denotatif adalah pengertian yang diperoleh dari teks apa adanya, tanpa mengalihkannya ke makna lain.

Sementara itu, makna konotatif tidak dipahami secara leksikal, melainkan dialihkan kepada makna lain yang bersifat asosiatif.

Baca juga : Teomorfisme Manusia Dan Pertolongan Tuhan

Sebagai contoh, kata “tangan” (al-yad), “mata” (al-‘ain), “makanan” (al-tha‘am), “timur dan barat” (al-masyriq wa al-maghrib), “pertemuan dua laut” (majma‘ al-bahrain), dan lain-lain. Secara denotatif, “tangan” berarti anggota tubuh dari bahu hingga ke bawah.

Namun, secara konotatif dapat berarti “kekuatan” atau “kekuasaan”, seperti dalam ungkapan: Yadullāh fauqa aydīhim (Tangan Tuhan di atas tangan mereka). Sebagian ulama memahami “tangan Tuhan” sesuai dengan kapasitas-Nya, tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Sebagian lainnya memaknainya secara konotatif sebagai “kekuasaan Tuhan”.

Adsense

Baca juga : Teomorfisme Manusia

Kata “mata” (‘ain) secara denotatif berarti “mata kepala”, tetapi secara konotatif dapat bermakna “pengawasan”, seperti dalam ungkapan: bi a‘yuninā (dalam pengawasan Kami). Secara denotatif berarti “dalam penglihatan Kami”, sedangkan secara konotatif berarti “dalam pengawasan Kami”. Ungkapan “si A dalam penglihatan saya” juga dapat berarti bahwa si A berada dalam pengawasan.

Kata “makanan” (al-tha‘am) secara denotatif berarti sesuatu yang dikonsumsi untuk mengenyangkan perut. Namun, secara konotatif dapat dimaknai sebagai “asupan spiritual”, seperti wirid dan zikir yang memberikan kepuasan batin. Kisah makanan yang selalu tersedia di mihrab Maryam yang membuat Nabi Zakaria bertanya, “Dari mana ini?”, lalu dijawab “dari Tuhan”, dapat dimaknai secara denotatif sebagai makanan fisik, atau secara konotatif sebagai makanan spiritual. Penafsiran terakhir dimungkinkan karena Maryam dan Nabi Zakaria dikenal sebagai pribadi yang mendalami praktik spiritual.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense