Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Manusia tidak tepat disebut sebagai makhluk antropomorfis, karena potensi dan keunggulan yang dimilikinya luar biasa besar. Namun demikian, manusia juga tidak dapat disebut sebagai makhluk antroposentris. Meskipun memiliki keunggulan dan keutamaan, manusia tetap memiliki kelemahan fundamental.
Manusia dikaruniai akal pikiran dan intelektualitas yang bertingkat-tingkat, tetapi pada saat yang sama ia memiliki kelemahan dasar sebagai makhluk pelupa (al-ghafil). Seyyed Hossein Nasr menyebut manusia lebih tepat sebagai makhluk teomorfis, yaitu makhluk yang agung namun tetap memiliki kekurangan. Karena kekurangannya itu, manusia membutuhkan Tuhan sebagai kekuatan ekstra untuk mengembalikannya dari kelemahan sebagai makhluk pelupa (al-ghafil) menjadi makhluk yang sadar (al-dzakir).
Baca juga : Teomorfisme Manusia
Manusia memiliki akal pikiran, jiwa, ruh, dan berbagai keunggulan lainnya. Namun, manusia tetap membutuhkan bantuan dan pertolongan Tuhan karena kelemahan tersebut melekat pada dirinya. Kelemahan yang melekat itu sesungguhnya dapat diatasi dengan keunggulan yang juga melekat dalam diri manusia.
Manusia memerlukan petunjuk Tuhan dalam bentuk wahyu yang berfungsi sebagai informasi dan konfirmasi. Wahyu sebagai informasi memberitahukan kepada manusia tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan pemahamannya. Sementara itu, wahyu sebagai konfirmasi berfungsi menguji kebenaran daya intelektualitas manusia, apakah sesuai dengan harapan idealnya atau belum. Dalam hal ini, kehadiran wahyu—khususnya Al-Qur’an—menjadi sarana untuk menguji hasil penalaran manusia.
Tidak cukup dengan wahyu, Allah SWT. juga mengutus para nabi dan rasul untuk membantu manusia memahami wahyu dan kitab suci. Kehadiran wahyu, nabi, dan rasul diharapkan mampu memandu perjalanan hidup manusia secara komprehensif. Sehebat apa pun manusia, ia tidak akan mampu memecahkan seluruh misteri kehidupannya. Oleh karena itu, Allah SWT. menurunkan wahyu serta mengutus nabi dan rasul untuk melengkapi sekaligus mendukung kapasitas manusia sebagai khalifah di bumi. Tanpa petunjuk dan pertolongan Tuhan, manusia tidak mungkin mencapai kesempurnaan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.