Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Manusia sebagai hewan berpikir (al-insān ḥayawān al-nāṭiq) telah lama menjadi perdebatan konseptual di kalangan filosof, teolog, dan sufi. Inti perdebatan tersebut adalah keberadaan roh dalam diri manusia.
Para filosof dan teolog mengakui bahwa manusia memiliki dua dimensi, yaitu lahir dan batin, atau jasad dan roh. Namun, mereka tetap menempatkan roh sebagai bagian inheren dari diri manusia.
Roh dipandang sebagai kelengkapan manusia sebagai makhluk utama ciptaan Tuhan, tetapi bukan sebagai unsur suci Tuhan yang masuk ke dalam diri manusia. Dengan demikian, manusia tetap sepenuhnya makhluk yang harus mempertanggungjawabkan seluruh ikhtiar dan perbuatannya.
Berbeda dengan itu, kalangan sufi cenderung memandang roh dalam diri manusia sebagai unsur suci (lāhūt) yang terselip dalam diri manusia. Pandangan ini tidak hanya menempatkan manusia sebagai makhluk istimewa, tetapi juga sebagai maẓhar, tajallī, atau manifestasi Tuhan. Manusia dipandang sebagai mikrokosmos, miniatur alam semesta, bahkan sebagai insān kāmil (manusia paripurna).
Menurut Ibn ‘Arabi, manusia diciptakan berdasarkan kehendak Tuhan, bukan berdasarkan kehendaknya sendiri. Dengan mengutip berbagai ayat dan hadis, Ibn ‘Arabi memandang manusia bukan sekadar mikrokosmos, melainkan juga “cermin” Tuhan. Hal ini merujuk pada hadis: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam berdasarkan ṣūrah-Nya.”
Allah juga memerintahkan para makhluk-Nya untuk bersujud kepada Adam setelah ditiupkannya roh ke dalam dirinya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan termasuk golongan orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 34)
Selain itu, Allah SWT. menegaskan kemuliaan manusia dalam firman-Nya:
Baca juga : Antara Hukama dan Kuhana
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 70)
Manusia jelas berbeda dengan binatang dan makhluk lainnya, termasuk jin dan malaikat. Penunjukan manusia sebagai representatif (khalifah) di muka bumi menjadi bukti bahwa manusia lebih dari sekadar makhluk biasa. Roh yang “ditiupkan” ke dalam diri Adam mengandung dimensi ilahiah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. Al-Hijr [15]: 29)
Roh inilah yang menyebabkan para malaikat—kecuali Iblis—bersujud kepada manusia. Lebih lanjut, dalam karyanya Futūḥāt al-Makkiyyah, Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa bukan hanya roh, tetapi juga substansi jiwa manusia diciptakan mengikuti asmā’ dan sifat-sifat Allah SWT.
Baca juga : Antara Epistemologi Sains dan Agama
Sifat-sifat tersebut memiliki dua aspek utama, yaitu ketegasan (jalāliyyah) dan kelembutan (jamāliyyah). Tidak ada makhluk lain yang mampu merepresentasikan kedua aspek ini secara utuh selain manusia. Malaikat, misalnya, hanya merepresentasikan sifat jamāliyyah, sehingga tidak mengenal dosa dan pelanggaran. Sementara manusia, selain merepresentasikan jamāliyyah, juga mewarisi sifat jalāliyyah, yang menjadikannya representasi paling lengkap dari sifat-sifat Ilahi.
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Selasa, 7 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (16) Teomorfisme Manusia"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.