BREAKING NEWS
 

Kajian Teosofi (20)

Berguru Dari Pohon

Sabtu, 11 April 2026 05:51 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Nabi Musa dikenal sebagai sosok nabi yang sangat cerdas. Kecerdasannya demikian menonjol hingga ia mampu berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung.” (QS An-Nisa’/ 4:164).

Nabi Musa juga dikenal sebagai satu-satunya nabi yang secara langsung mampu menaklukkan rezim Fir’aun dengan menenggelamkannya di laut. Barangkali karena keistimewaan yang dimilikinya itu, pada suatu saat ia larut dalam pujian sebagai penakluk Fir’aun dan nabi paling cerdas. Maka Allah SWT menegurnya dengan memerintahkannya untuk terus belajar.

Ia kemudian ditunjukkan seorang guru yang sama sekali tidak populer. Sang guru ini dalam kesehariannya hanyalah seorang nelayan kumuh, yang tidak dikenal sebagai seorang pengajar. Kisah ini diabadikan dalam Surah al-Kahfi / 18:60–82. Inti dari kisah tersebut menunjukkan bahwa meskipun Nabi Musa telah berusaha, ia belum berhasil menjadi murid yang baik.

Baca juga : Antara Denotatif dan Konotatif

Ia terus diajarkan tentang kearifan dan diingatkan agar tidak memandang enteng orang yang tampak sederhana. Bisa jadi, seseorang yang sepi dari perhatian publik justru terkenal di langit. Sebaliknya, ada yang terkenal di bumi, tetapi tidak dikenal di langit.

Perjalanan Nabi Musa berlanjut hingga ia ditunjukkan “guru” lain yang lebih unik—bukan manusia, melainkan sebatang pohon. Dari pohon inilah ia menerima pelajaran kearifan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat:

Adsense

“Maka ketika Musa sampai ke (tempat) api itu, ia diseru dari arah pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon: ‘Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.’” (QS Al-Qashash/ 28:30).

Tempat tumbuhnya pohon itu digambarkan sebagai wilayah yang penuh berkah dan kesucian. Ketika Nabi Musa mendekatinya, ia diperintahkan untuk melepaskan alas kakinya, sebagaimana disebutkan dalam ayat:

Baca juga : Teomorfisme Manusia Dan Pertolongan Tuhan

“Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: ‘Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.’” (QS Thaha/ 20:10–13).

Menurut Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan, suara yang berasal dari pohon yang memanggil Nabi Musa dan mengajarinya kearifan itu adalah Kalam Allah SWT yang tersembunyi (mahjub) di baliknya. Kalam Ilahi memang kerap diperdengarkan kepada hamba-hamba pilihan dari balik hijab (min wara’i hijab), sebagaimana dijelaskan dalam ayat:

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata-kata dengannya kecuali melalui wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat), lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS As-Syura/ 42:51).

Sebuah kisah menarik pernah diceritakan oleh murid Syekh Thabathaba’i. Ketika penulis berkunjung ke rumah beliau, dikisahkan bahwa saat sang murid mengalami kesulitan memahami suatu ayat, tiba-tiba ia “diajari” oleh ranting pohon yang menjulur di depan jendela kamar belajarnya. Subhanallah.*

Baca juga : Teomorfisme Manusia

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Sabtu, 10 April 2026 dengan judul "Kajian Teosofi (20) Berguru Dari Pohon"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense