BREAKING NEWS
 

Politik Dadung Awuk & Kebo Danu

Selasa, 5 Mei 2026 07:12 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dinamika politik nasional gaduh beberapa pekan terakhir ini. Perseteruan antar elite melibatkan tokoh bangsa, secara vulgar dipertontonkan ke publik. Rakyat jadi bingung para elite saling menyerang dan menjatuhkan. Tokoh bangsa semestinya memberi teladan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Di sisi lain, merapatnya beberapa aktivis ke dalam lingkaran kekuasaan menyisakan beberapa pertanyaan di masyarakat.

"Mirip intrik politik di Kasultanan Demak, Mo," celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar memilih diam tidak mau menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dampak ekonomi global terhadap perekonomian nasional. Harga minyak dunia terus melambung. Akibatnya biaya produksi dan logistik ikut naik.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus dan jadah bakar menambah nikmat sarapan pagi di Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke abad lima belas, ketika intrik politik dan balas dendam terjadi di Kasultanan Demak.

Baca juga : Miskomunikasi Prabu Matswapati

Kocap kacarito, persaingan antara Joko Tingkir dan Dadung Awuk sudah terasa sejak Joko Tingkir diangkat menjadi kepala tamtama di Kasultanan Demak. Awalnya, keduanya sama-sama aktivis berniat mengabdi kepada Sultan Trenggono. Joko Tingkir berasal dari daerah Pengging. Sedangkan Dadung Awuk dari wilayah Kedu. Raden Nayantaka adalah nama asli Dadung Awuk. Namun nasib menentukan lain, Joko Tingkir diterima lebih dulu pengabdiannya di Demak.

Adsense

Joko Tingkir tidak suka Dadung Awuk masuk seleksi tamtama di Kasultanan Demak. Dadung Awuk berpotensi menjadi pesaing kariernya. Segala cara dicari untuk menyingkirkan Dadung Awuk. Seleksi penerimaan tamtama berubah jadi pertarungan terbuka antara Joko Tingkir dan Dadung Awuk. Keduanya sama-sama tangguh dan sakti mandraguna. Namun, kesaktian Dadung Awuk belum mampu mengalahkan Joko Tingkir. Dadung Awuk tewas di tangan Joko Tingkir.

Berita tewasnya Dadung Awuk terdengar sampai ke Sultan Trenggono. Sultan murka dan Joko Tingkir dipecat sebagai kepala tamtama. Karena dianggap ceroboh menghilangkan nyawa calon tamtama terbaik. Joko Tingkir pergi dari Demak dan berkelana sambil meratapi nasib yang baru saja dialami.

Baca juga : Berebut Komoditas Minyak Hastina

Joko Tingkir menemui Ki Ageng Banyubiru untuk minta saran atas peristiwa yang menimpanya. Ki Ageng Banyubiru merupakan saudara seperguruan dengan Ki Ageng Pengging, orang tua Joko Tingkir. Ki Ageng Banyubiru minta Joko Tingkir untuk kembali ke Demak ditemani oleh saudara seperguruannya yakni Mas Manca dan Ki Wila. Joko Tingkir diberi pusaka berupa tanah sangar untuk ditaruh di kuping Kebo Danu milik Sultan Demak.

Tanah sangar pemberian Ki Ageng Banyubiru ditaruh di kuping Kebo Danu. Akibatnya, Kebo Danu ngamuk punggung. Prajurit Demak tidak mampu mengalahkan amukan kebo keraton yang selama ini jinak. Sultan Trenggono kewalahan menghadapi kekacauan yang terjadi. Sultan berjanji siapa yang dapat menjinakkan Kebo Danu akan diberikan jabatan strategis dan dikawinkan dengan putrinya.

"Sepertinya semua sudah diatur oleh Ki Ageng Banyubiru, Mo,” sela Petruk, membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Manisnya kursi kekuasaan membuat orang gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk meraihnya," jawab Romo Semar, pendek. "Termasuk bagaimana cara menghabisi musuh politik demi melanggengkan kekuasaannya,” imbuh Romo Semar, sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense