Dark/Light Mode

Intervensi Sengkuni Dalam Tahta Hastina

Senin, 2 Februari 2026 08:20 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Mundurnya beberapa pejabat otoritas keuangan pekan lalu, mengingatkan peristiwa 20 mei 1998. Di mana, 14 menteri bidang ekonomi serentak mengundurkan diri, mereka dianggap gagal mengatasi krisis ekonomi dan politik. Di sisi lain, gonjang-ganjing pasar keuangan minggu lalu dipicu oleh peringatan penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI mengingatkan pentingnya tata kelola yang lebih baik pada pasar modal Indonesia untuk menjaga kepercayaan publik.

“Bukannya mereka mundur karena intervensi, Mo?" celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak mau menanggapi lebih jauh celoteh Petruk. Romo Semar sedang prihatin dengan cuaca ekstrem beberapa pekan terakhir ini. Dampak nyata dari iklim salah mongso, seperti banjir bandang dan tanah longsor terjadi di beberapa wilayah Nusantara.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang dan jagung rebus menambah nikmat sarapan pagi Padepokan Klampis Ireng. Walau udara terasa dingin, tidak menyurutkan para kawula melakukan aktivitas di pagi hari. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Patih Sengkuni melakukan intervensi terhadap tahta Hastina untuk kepentingan politiknya.

Baca juga : Dewan Perdamaian Bentukan Duryudana

Kocap kacarito, dalam klan tahta Hastina, Patih Sengkuni adalah paman dari Prabu Duryudana. Karena ibunda Duryudana yakni Dewi Gendari adalah kakak Sengkuni. Konon Dewi Gendari dan Sengkuni bersama kakaknya Gendara datang dari kerajaan Ploso Jenar. Kedatangan mereka bertiga untuk mengikuti sayembara perebutan Dewi Kunti dari Kerajaan Mandura.Tapi sayang kedatangan mereka terlambat. Pandu dari Kerajaan Hastina lebih dulu berhasil memenangkan sayembara rebut putri Mandura.

Dalam perjalanan ke Mandura, Gendara menghadang dan menantang duel Pandu untuk menyerahkan Dewi Kunti. Gendara kalah sakti dan tewas melawan Pandu. Sedangkan Dewi Gendari dan Sengkuni menjadi rampasan perang Pandu. Dewi Gendari diberikan kepada Drestarastra yang tidak lain adalah kakak Pandu.

Perkawinan Dewi Gendari dengan Drestarastra menurunkan Kurawa berjumlah seratus orang. Sedangkan perkawinan Pandu dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim menurunkan satria Pandawa berjumlah lima orang.

Baca juga : Perebutan Wilayah Otonom Tunggorono

Gendari dan Sengkuni memendam rasa dendam kepada Pandu atas tewasnya Gendara. Mereka berdua bersumpah untuk membalas keturunan Pandu dan merebut tahta Hastina dari Pandawa. Segala cara ditempuh untuk memuluskan rencana jahat Sengkuni. Termasuk intervensi dalam permainan dadu antara Kurawa dan Pandawa.

Permainan dadu didesain untuk mengambil alih tahta Hastina dari Pandawa dengan cara paksa atau “ hostile takeover”. Sengkuni menyiapkan beberapa strategi mulai dari papan dadu sampai penunjukan bandar dadu. Sebagai taruhan permainan dadu adalah tahta Kerajaan Hastina.

Kurawa berhasil memenangkan permainan dadu dengan curang. Pandawa harus menyerahkan tahta Hastina dan Amarta kepada Kurawa. Selain itu, Pandawa masih harus menjalani hukuman hidup mengembara di tengah hutan selama 12 tahun lamanya.

Baca juga : Jarasanda Merusak Tatanan Dunia

“Lalu apa hubungannya Sengkuni dengan gonjang-ganjing pasar modal, Mo?" sela Petruk penasaran. “Perilaku Sengkuni di balik kisruh mundurnya pejabat otoritas keuangan Tole," jawab Romo Semar pendek. "Kelompok Sengkuni menginginkan pasar modal hancur. Waktu harga saham jatuh, saham diborong dan diambil paksa sekaligus mandor pasarnya mau diambil alih ,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.