Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Hampir semua pemimpin di negeri ini mempunyai tujuan luhur yakni ingin menyejahterakan rakyatnya. Berbagai cara dan gaya ditempuh untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Salah satu strategi kepemimpinan adalah bermain aman atau “play safe”. Yaitu suatu strategi untuk mengakomodasi setiap perbedaan. Kelompok yang berbeda pandangan dipanggil untuk diajak kompromi.
Tidak ada yang salah dengan kepemimpinan model play safe. Karena tujuannya untuk menjaga stabilitas politik dan mencegah kegaduhan di masyarakat. Di sisi lain, strategi play safe menciptakan kelompok “Yes Man” atau asal bapak senang. Input dari kelompok Yes Man sangat berbahaya. Karena tidak mencerminkan fakta yang sebenarnya. Akibatnya keputusan yang diambil tidak berbobot.
“Mirip gaya kepepimpinan Prabu Puntadewa, Mo,” celetuk Petruk serius. Romo Semar mesem dan mengamini komentar Petruk tentang gaya pemimpin. Sebetulnya Romo Semar tidak tertarik membahas politik. Semar sedang galau dengan maraknya operasi tangkap tangan (OTT) KPK beberapa pekan terakhir ini. Mulai dari bupati, walikota, pegawai pajak, bea cukai, sampai wakil Tuhan terjaring operasi tangkap tangan.
Baca juga : Intervensi Sengkuni Dalam Tahta Hastina
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Menu kelangenan yaitu nasi pecel menambah nikmat sarapan pagi di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Prabu Puntadewa memilih strategi aman dalam menghadapi krisis politik Pancawati.
Kocap kacarito, Kerajaan Amarta kedatangan tamu dari kerajaan Pancawati yaitu Kapi Anggada. Prabu Rama Wijaya mengutus Kapi Anggada untuk meminjam pusaka Amarta yang bernama Jamus Kalimasada. Menurut wangsit dewa, pagebluk Pancawati bakal sirna kalau dirapal dengan pusaka Amarta.
Sebagai sahabat Prabu Rama Wijaya, Puntadewa tidak keberatan meminjamkan pusaka Kalimasada kepada Prabu Rama. Namun keempat saudaranya berikut Prabu Kresna yang kebetulan berkunjung ke Amarta tidak mengizinkan Pusaka Kalimasada keluar dari kerajaan Amarta.
Baca juga : Dewan Perdamaian Bentukan Duryudana
Kapi Anggada bukan sembarang utusan. Konon Kapi Anggada senopati berhasil mengobrak-abrik Kerajaan Alengka saat terjadi perang brubuh antara Alengka dan Pancawati. Senopati berwujud kera dan anak Subali tersebut terkenal sakti madraguna. Anggada pantang menyerah sebelum berhasil mendapatkan pusaka Kalimasada.
Puntadewa melihat potensi konflik antara Pancawati dan Amarta seandainya tidak diberikan Kalimasada. Secara diam-diam Puntadewa memanggil Kapi Anggada ke gedung pusaka dan menyerahkan Kalimasada dalam kotak pusaka.
Prabu Kresna tahu kalau Anggada sudah berhasil membawa Kalimasada. Kresna menyuruh Gatotkaca dan Antasena untuk merebut kembali Kalimasada tanpa diketahui Anggada. Gatotkaca memukul Anggada dari udara dan mengganti isi kotak pusaka dengan Antasena.
Baca juga : Perebutan Wilayah Otonom Tunggorono
“Lalu hubungannya apa, Mo, dengan gaya kepemimpinan?" sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Prabu Puntadewa walau bermain aman, namun di mata para kawula dianggap cukup berhasil. Karena Prabu Puntadewa memiliki tim yang solid dan mampu menerjemahkan kehendak gusti ratunya. Sehingga apa yang diputuskan dapat dijalankan dengan baik dan bijak,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.