Dark/Light Mode

Duryana Bimbang Maju Perang

Senin, 30 Maret 2026 08:38 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dampak perang Amerika dengan Iran semakin rumit. Harga minyak dunia sudah menyentuh harga 100 dolar AS per barel. Akibatnya perekonomian dunia mulai terganggu. Di sisi lain, tekanan untuk segera mengakhiri perang semakin masif disuarakan oleh berbagai pihak. Keadaan ini membuat posisi Trump semakin terpojok. Gagalnya tawaran perundingan dengan Iran merupakan bukti perang akan terus berlanjut.

“Trump mulai bimbang dan ragu, Mo,” celetuk Petruk sok jadi pengamat perang. Romo Semar tersenyum tidak serta merta mau menanggapi celoteh Petruk. Romo Semar sedang prihatin dengan kegaduhan yang terjadi di masyarakat. Yaitu berubahnya status tahanan rumah bagi seorang tersangka KPK pekan silam. Kegaduhan tidak perlu terjadi apabila ada keterbukaan informasi oleh KPK kepada masyarakat.

Baca juga : Berkaca Dari Dendam Perang Wirata

Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Sarapan pagi dengan menu spesial ketupat dan opor ayam menambah nikmat suasana hari raya Idul Fitri. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Duryudana bimbang dan ragu untuk perang melawan Pandawa. Kocap kacarito, Kresna diutus Pandawa untuk melakukan perundingan dengan pihak Kurawa. Diplomasi Kresna sangat penting untuk mencegah terjadinya perang Baratayuda. Yaitu perang saudara antara Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan tahta Kerajaan Hastina. Dalam perundingan damai tersebut, Pandawa diwakili Kresna. Sedangkan Duryudana sebagai wakil dari klan Kurawa. Setidaknya ada empat dewa ikut hadir menyaksikan perundingan damai antara Kurawa dan Pandawa.

Mereka adalah Dewa Narada, Parasu, Janaka, dan Kuwera. Kehadiran para dewa untuk memastikan bahwa para pihak menaati dan menghormati hasil perundingan. Sehingga pertumpahn darah dapat dihindari. Selain para dewa, perundingan dihadiri para pinisepuh kerajaan. Seperti Resi Bisma dan Resi Durna hadir sebagai saksi perdamaian darah Barata.

Baca juga : Puntadewa Memilih Bermain Safe

Awalnya Duryudana setuju dengan pokok-pokok perjanjian ditawarkan. Termasuk untuk menyerahkan kembali kerajaan Amarta dan separuh Kerajaan Hastina kepada Pandawa. Pandawa berhak menerima kembali Amarta setelah selesai menjalani hukuman sebagai buangan di hutan Kamiyaka selama dua belas tahun. Konon Duryudana merampas Amarta karena Pandawa kalah main dadu. Amarta dijadikan objek taruhan permainan dadu.

Namun tiba-tiba Duryudana membatalkan perjanjian secara sepihak. Kerajaan Amarta dan separuh tahta Hastina tidak jadi diserahkan kepada Pandawa. Duryudana bersumpah bahwa kembalinya kerajaan Amarta kepada Pandawa harus melalui Perang Baratayuda.

Baca juga : Intervensi Sengkuni Dalam Tahta Hastina

Pembatalan perjanjian oleh Duryudana membuat marah para dewa dan para pinisepuh yang hadir dalam parepatan agung Hastina. Resi Bisma minta kepada Duryudana untuk menepati janji dengan apa yang sudah diucapkan. Ucapan seorang raja harus jadi panutan. Namun Duryudana bersikeras bahwa penyerahan tahta Amarta dan Hastina kepada Pandawa harus melalui perang.

Prabu Duryudana mencla-mencle ingkar janji, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Akibatnya, perang Baratayuda tidak bisa dihindari,” jawab Romo Semar pendek. Perang terjadi karena gagalnya diplomasi dalam menyelesaikan sebuah konflik. Seperti halnya yang terjadi antara Amerika dan Iran. Gagalnya perundingan membuat perang akan terus berlanjut dan tidak tahu kapan berakhirnya. “Bagi Amerika ibaratnya maju hancur mundur kojur,” papar Romo Semar sambil ngEloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.