Dark/Light Mode

Strategi Geopolitik Dalam Penguatan Nilai-Nilai Pancasila Untuk Pengembangan Karakter Bangsa

Kamis, 27 Agustus 2026 08:02 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Pendidikan tinggi harus ditempatkan sebagai salah satu instrumen utama strategi geopolitik Indonesia dalam membangun karakter bangsa. Geopolitik tidak semata-­mata berbicara tentang wilayah, kekuatan militer, sumber daya alam, atau posisi strategis suatu negara, tetapi juga tentang kualitas manusia yang mampu menge­lola seluruh kekuatan tersebut untuk mencapai kepen­tingan nasional.

Dengan begitu, perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat menentukan: membentuk generasi yang bukan hanya ­unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki orientasi kebangsaan, integri­tas, daya tahan ideologis, dan kemampuan membaca perubahan lingkungan strate­gis global.

Baca juga : Dalam Perspektif Geopolitik: Membangun DKI Jakarta Menunaikan Kemerdekaan RI

Maka dari sini kecerdasan tanpa karakter dapat melahirkan manusia yang cakap secara teknis, tetapi mudah ­kehilangan arah ketika ber­hadapan dengan kepentingan global. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Undang-­Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasio­nal, telah memberikan landasan ­bahwa pendidikan harus mengembangkan kecerdasan sekaligus akhlak, ­tanggung ­jawab, dan kemampuan menghadapi perubahan. Dalam ke­rangka inilah penguatan nilai-nilai Panca­sila harus dipandang sebagai strategi geopolitik: membangun manusia Indonesia yang memiliki kemampuan ­untuk berkompetisi secara global tanpa kehilangan identitas dan kepen­tingan nasional.

Tambahan pula di mana lingkungan strategis yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Globalisasi, revolusi tek­nologi informasi, kecerdasan buatan, kompetisi kekuatan besar, perang ekonomi, perang informasi, dan perubahan pola kekuasaan global telah membuat batas antara ancaman internal dan eksternal semakin kabur. Bersamaan pula mahasiswa hidup dalam ruang digital yang memungkinkan gagasan, ideo­logi, propaganda, disinformasi, ujaran kebencian, intoleransi, dan berbagai kepentingan geopolitik masuk tanpa mengenal batas wilayah.

Baca juga : Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung

Dalam kondisi demikian, karakter bangsa menjadi bagian dari pertahanan nasional. ­Negara dapat memiliki kekuatan militer yang besar, tetapi akan tetap rentan apabila masyarakatnya mudah dipolarisasi, kehilangan kepercayaan terhadap institusi, atau tercerabut dari identitas ­nasional. Strategi geopolitik Indonesia karena itu harus memiliki dimensi ideologis dan pendidikan. Pancasila menjadi fondasi untuk membangun ketahanan masyarakat agar keterbukaan terhadap dunia tidak berubah menjadi kerentanan nasional.

Dalam strategi geopolitik, Pancasila berfungsi sebagai sumber kekuatan internal se­kaligus landasan orientasi eksternal. Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan batas moral bagi penggunaan ke­kuasaan dan teknologi. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan bahwa kepentingan nasio­nal tetap berpijak pada penghormatan terhadap mar­tabat manusia. Persatuan ­Indonesia menjadi modal kohesi bagi negara kepulauan yang sangat majemuk. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebi­jaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan membentuk budaya dialog dan penyelesaian konflik secara damai. Keadilan Sosial bagi ­Seluruh Rakyat Indonesia menga­rahkan pembangunan agar kekuatan ekonomi dan teknologi tidak hanya ter­konsentrasi pada kelompok tertentu.

Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara

Kelima sila tersebut membentuk karakter strategis ­bangsa: bermoral, berperikemanusiaan, bersatu, demokratis, dan ber­keadilan. Karakter semacam inilah yang diperlukan agar Indonesia mampu menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, menjaga kedaulatan, serta membangun kerja sama internasional tanpa kehilangan kepen­tingan nasional.

Karena itu, strategi penguatan Pancasila di perguruan tinggi harus dirancang sebagai strategi geopolitik yang konkret. Panca­sila tidak cukup diajarkan melalui hafalan sejarah, rumusan sila, atau teori ideologi negara. Mahasiswa perlu dilatih membaca persoalan nasional dan global melalui perspektif kepen­tingan Indonesia. Kemiskinan, ketimpangan, korupsi, konflik identitas, perubahan iklim, keamanan siber, kecerdasan buatan, ketahanan pangan dan energi, ekonomi digital, rivalitas Amerika Serikat dan China, dinamika Indo-Pasifik, hingga keamanan maritim harus menjadi bahan pembelajaran.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.