Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Kita semua dikejutkan dengan letusan Gunung Anak Krakatau sejak kemarin. Berdasarkan berita terakhir, erupsi masih terjadi hingga pukul 03.53 pagi tadi.
Di dunia dilaporkan terdapat sekitar 1.500 gunung api yang berpotensi aktif. Secara umum, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa ketika gunung api meletus, dapat dikeluarkan abu, gas, lava, dan partikel padat. WHO juga menyampaikan tentang letusan piroklastik (pyroclastic) yang mengeluarkan material vulkanik bersama gas.
Hal yang kini banyak dibicarakan sehubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau adalah debu atau abu vulkanik (volcanic ash). Laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa pada hari Minggu, 6 September 2026 pukul 08.00, teridentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang mencakup sebagian wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Menurut National Geographic Society, abu vulkanik merupakan campuran mineral, bebatuan, dan partikel kaca yang keluar saat terjadi letusan gunung berapi. Ukuran abu atau debu ini dapat sangat kecil, yang dikenal sebagai Particulate Matter 2,5 (PM2.5). Partikel tersebut dapat masuk hingga ke bagian terkecil paru-paru, yaitu alveolus, tempat terjadinya pertukaran gas dalam tubuh manusia.
Setidaknya ada lima dampak kesehatan dari abu vulkanik ini. Pertama, gangguan pada paru-paru dan sistem pernapasan. Mereka yang terpaksa menghirup abu vulkanik dapat mengalami keluhan batuk, iritasi tenggorokan, gangguan seperti bronkitis (bronchitis-like illnesses), serta perburukan kondisi pada mereka yang memiliki penyakit paru kronis seperti asma bronkial dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Baca juga : Musim Panas Panjang
Kedua, partikel padat yang terkandung dalam abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, bahkan hingga menimbulkan peradangan dan konjungtivitis.
Ketiga, apabila debu mengotori sumber air dan makanan, dapat terjadi gangguan pada saluran pencernaan. Keempat, gas yang mungkin terkandung bersama abu, seperti sulfur dioksida dan lainnya, dapat menyebabkan keluhan sakit kepala, pusing, serta gangguan pernapasan.
Kelima, dalam kondisi ekstrem ketika kadar abu yang terhirup sangat banyak, terutama bagi mereka yang berada sangat dekat dengan lokasi letusan, dapat terjadi kondisi asfiksia atau sesak napas berat yang terasa seperti tercekik.
Lalu, apa yang harus kita lakukan? Setidaknya ada tujuh langkah yang dapat dilakukan.
Pertama, kita harus mengikuti informasi dari BMKG atau institusi resmi lainnya mengenai situasi letusan gunung api yang sedang terjadi dan kadar abu vulkanik di wilayah tempat kita berada. Artinya, pemerintah diharapkan terus memberikan informasi terkini kepada masyarakat luas agar semua pihak dapat mengambil sikap yang tepat dan sesuai.
Baca juga : Kandungan & Dampak Kesehatan Asap Kebakaran Hutan
Kedua, penggunaan masker tentu baik dilakukan, terutama jika kadar abu cukup mengkhawatirkan dan bagi mereka yang memiliki penyakit paru kronis. Apabila jumlah abu cukup banyak, bahkan ada anjuran menggunakan kacamata pelindung dan pakaian berlengan panjang ketika berada di luar rumah.
Ketiga, apabila kadar abu cukup mengkhawatirkan, batasi aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan.
Keempat, jika di luar terdapat cukup banyak abu vulkanik, setelah kembali ke rumah dari aktivitas di luar ruangan, segera bersihkan diri dengan baik. Pakaian yang digunakan juga sebaiknya segera dicuci hingga bersih.
Kelima, apabila kadar abu memang mengkhawatirkan, ada anjuran untuk menutup rumah dengan rapat agar abu dari luar tidak masuk. Untuk situasi pada Minggu pagi, 6 September 2026, di Jakarta dan sekitarnya, langkah ini tampaknya belum perlu dilakukan. Mudah-mudahan situasi tidak memburuk pada hari-hari mendatang.
Keenam, mereka yang memiliki penyakit kronis dan sedang mengonsumsi obat secara rutin sebaiknya berkonsultasi dengan dokter masing-masing mengenai kemungkinan perlunya penyesuaian pengobatan, baik jenis obat, dosis, maupun frekuensi penggunaannya.
Baca juga : Pelayanan Kesehatan Primer
Ketujuh, apabila muncul keluhan kesehatan, segeralah berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat. Artinya, pemerintah perlu menyediakan pelayanan kesehatan yang mudah diakses dan memiliki fasilitas yang memadai.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
- Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.