BREAKING NEWS
 

Migor, Daging, Gas dan Cabe Mahal

Harga Sembako Bikin Kantong Rakyat Boncos

Reporter & Editor :
MARULA SARDI
Sabtu, 5 Maret 2022 09:00 WIB
Pedagang menjual cabai merah di Pasar Palmerah, Jakarta, Jumat (4/3/2022). Berdasarkan Survei Pemantauan Harga Bank Indonesia (BI), inflasi pada Maret 2022 diperkirakan sebesar 0,32 persen secara bulanan (month-to-month) dengan penyumbang utama inflasi yakni cabai merah sebesar 0,07 persen mtm. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj).

RM.id  Rakyat Merdeka - Jenis bahan kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga, terus bertambah. Tak hanya minyak goreng (migor), harga gas elpiji dan sayuran juga terkerek. Warga Ibu Kota merasa hidup makin sulit.

Seorang pedagang cabe bernama Herman mengatakan, harga cabe yang dia jual naik hingga 2 kali lipat. “Cabe rawit dari Rp 40 ribu per kilogram (kg) jadi Rp 80 ribu, cabe keriting dari Rp 30 ribu jadi Rp 50 ribu, cabe besar merah dari Rp 30 jadi Rp 50 ribu, cabe besar hijau dari Rp 20 ribu jadi Rp 40 ribu,” rinci Herman di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, kemarin.

Baca juga : Bikin Aturan Kok Nyusahin Rakyat

Tak hanya cabe, harga tomat juga naik dari Rp 10 ribu menjadi Rp 20 ribu per kg. Kenaikan ini berdampak pada berkurangnya jumlah cabe dan tomat yang dibeli pelanggan. “Kami berharap harga balik dan kembali stabil. Apalagi mau Ramadhan, semua harga bahan pokok naik,” harap lelaki berusia 28 tahun ini.

Sedangkan, pedagang tahu dan tempe, Duriah mengeluhkan harga kedelai yang meroket. Dia terpaksa memangkas ukuran tahu dan tempe agar pelanggan tetap membeli di lapaknya. “Saya jual tahu tetap Rp 4.000 dapat 10 potong tapi kecil-kecil potongannya. Lalu tempe beda-beda ada yang seharga Rp 5.000, Rp 7.000, Rp 10.000,” katanya.

Baca juga : Airlangga Rajin Sapa Rakyat

Sebagai ibu rumah tangga, Duriah mengaku pusing menghadapi naiknya harga bahan pokok. Harga minyak goreng masih mahal. Sementara, untuk dapat migor yang disubsidi harus antre. “Pemerintah tolong lah gimana caranya ya, ini kan rakyat, tolong jangan sampai melejit gitulah, kan pemerintah yang bisa menentukan (harga bahan pokok),” ujarnya.

Para pembeli ikutan menderita imbas meroketnya harga sembako ini. Supri, pedagang Warung Tegal (Warteg), salah satunya. Dia mengaku pusing. “Masalah minyak goreng belum kelar, kedelai mahal. Eh kemudian daging sapi dan sekarang gas elpiji,” keluhnya. Pria 45 tahun yang memiliki Warteg di Kemayoran, Jakarta Pusat, kini menjadi serba salah. “Bingung saya. Kalau harga makanan saya naik, nanti pelanggan kabur.

Adsense

Baca juga : Menpora Tegaskan Program Olahraga Kemenpora Kudu Mengacu Pada DBON

Tapi kalo nggak naik, yah nggak ada untungnya. Lama-lama (kantong) bisa boncos ini mah,” curhatnya. Selain harga, Supri mengkhawatirkan kelangkaan barang. “Kayak minyak goreng, itu saya nyari-nyari ke sana kemari. Kalau pun ada, antre minta ampun. Saya kan jualan, kalau ikut antre yang berjam-jam gitu, gimana jualan saya,” ucapnya. Begitu juga ketika para produsen tahu-tempe mogok.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense