BREAKING NEWS
 

Jaga Kelestarian Penyu

Indonesia Power Lepas Tukik Di Pantai Saba, Bali

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : FAZRY
Selasa, 2 Juli 2019 19:49 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Seekor tukik atau anak penyu tampak kepayahan. Tubuhnya terperosok ke dalam lekukan pasir, laju gerakannya tertahan di bibir pantai. Nahas, tukik ini gagal berenang ke laut bebas di perairan Pantai Saba, Bali.

Petugas Konservasi Saba Asri I Made Kikik terlihat menunjuk-nunjuk, memberi isyarat, tukik itu butuh bantuan. General Manager Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Bali, IGAN Wardiana Yasa dengan sigap langsung membenarkan posisi tukik tersebut, menempatkannya lebih dekat ke perairan.

Akhirnya, Tukik itu berhasil masuk kedalam laut bersama sapuan ombak. Semua yang menyaksikan moment ini campur aduk, ada yang tertawa, lucu lihat tukik berjalan lambat, kasihan juga lihat tukik yang kebalik disapu ombak.

PT Indonesia Power UP Bali bersama para wartawan melepas ratusan Tukik ke pantai Saba, Bali. 

Rakyat Merdeka bersama para wartawan, dan Anak Usaha PLN (Persero), Indonesia Power UP Bali, berkesempatan melihat langsung proses pelepasliaran tukik di Pantai Saba, Jum'at (28/6/2019).

Sekitar 100 ekor tukik jenis Lekang dilepas ke laut menggunakan perantara batok kelapa. Pelepasliaran dipandu langsung oleh Ketua Kelompok Konservasi Saba Asri, I Made Kikik atau yang akrab di sapa Kikik.

"Harus pakai batok karena sebenarnya tukik ini tidak boleh dipegang, sensitif. Pengunjung yang datang kan tangannya kadang-kadang pakai body lotion, sunblock, itu yang juga menyebabkan nanti dia (tukik) kena penyakit," ujar Kikik.

Dana CSR Indonesia Power

Baca juga : Dubes Polandia Pengen Bikin Konser Chopin Di Pulau Dewata

Acara pelepasan tukik ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Anak Usaha PLN (Persero), Indonesia Power Unit Pembangkitan (UP) Bali pada kelompok Saba Asri, yang berdiri sejak 2014. Bahkan CSR sudah diberikan sejak 2016.

"Sejak 2016 kami melakukan pendampingan pada kelompok Saba Asri, dan itu berlanjut hingga sekarang," tutur IGAN.

Pendampingan dilakukan dengan harapan kelompok Saba Asri bisa mandiri dalam melakukan penangkaran penyu. Apalagi penyu merupakan spesies langka dan dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Pelaku perdagangan penyu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp100 juta. 

"Penyu ini jumlahnya sudah langka dan hampir punah, kami punya kewajiban ikut serta menjaga ekosistem biota Laut,” tutur IGAN.

Selain pendampingan, PT Indonesia Power juga memberikan bantuan peralatan seperti pompa air, pakan penyu, membangun fasilitas toilet, juga membantu membangun kolam-kolam penetasan agar telur lebih aman ditempatkan dipenangkaran Saba Asri, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh.

Adsense

"Kami berharap masyarakat khususnya lingkungan pendidikan dapat memahami pentingnya menjaga hewan langka ini," jelasnya.

Baca juga : Indonesia Harus Menjadi Negara Adidaya

Ratusan Telur Dikubur

Kikik menyampaikan ucapan terimakasih atas berbagai bantuan PT Indonesia Power, karena telah banyak membantu konservasi penyu di Kelompok Saba Asri.

"Sekarang saya berharap pembatas kolam retak ini bisa diperbaiki," katanya. Mendengar itu, IGAN berjanji, lewat dana CSR, Indonesia Power bakal membantu untuk memperbaikinya.

Kikik mengaku pihaknya lebih senang dengan bantuan berupa infrastruktur, seperti pembangunan kolam penetasan atau toilet. Dia beralasan sebagai tamatan SD, bantuan fisik lebih mudah dikelola dibandingkan uang.

Selama sekitar 12 tahun terakhir menggeluti dunia penyu dan tukik, Kikik menilai saat ini, masyarakat Bali sudah lebih paham pentingnya menjaga penyu dan kelestarian alam.

GM Indonesia Power UP Bali IGAN Wardiana Yasa (kiri) bersama Humas PLN Pusat Agus Trimukti tengah menanam telur penyu dilokasi Konservasi Saba Asri, Bali. (Foto : Agus Trimukti/Humas PLN)

Kelompok Konservasi Saba Asri menjadi garda terdepan dalam pelestarian penyu di Pantai Saba, Gianyar, Bali. Ditangan Kikik, ratusan telur penyu di sarang konservasi berhasil menetas. Telur-telur yang dikubur berasal dari pantai-pantai sekitar Gianyar yang diserahkan oleh warga dan wisatawan.

Dalam sehari kata Kikik, bisa ada ratusan butir telur yang diserahkan. Telur-telur itu kemudian dikubur agar bisa menetas. Diatas kuburan telur tersebut diberi tanda, berapa jumlah telur dan perkiraan tanggal menetasnya. 

Baca juga : Indonesia Power Operasikan PLTA Rajamandala Kapasitas 47 MW

Kata Kikik, dalam satu lubang bisa diisi hingga 50 butir telur. "Kalau lebih dari 50 telur, nanti tukiknya susah keluar," katanya.

Adapun musim penyu bertelur biasanya pada Maret-Agustus. Tukik yang sudah menetas ditempatkan di kolam air selama 4 minggu-4 bulan. Jika tukik mengonsumsi udang yang dicacah, maka makanan penyu dewasa bervariasi yaitu rumput laut hingga spons karang.

Area penetasan telur penyu. (Foto : Fazry/Rakyat Merdeka)

Jika sudah cukup umur, ratusan tukik itu bakal segera dilepasliarkan agar kembali ke habitat aslinya. Umur tukik yang dilepas biasanya sudah berusia tiga hingga empat bulan.

Empat bulan adalah usia ideal untuk melepas tukik karena mereka sudah bisa makan, berenang, bisa mencari makanannya sendiri di laut, dan diyakini sudah bisa menghindar dari predator.

Kikik mengelola Konservasi Saba Asri bersama tiga orang rekannya. Keempatnya berprofesi utama sebagai nelayan dan belajar merawat penyu secara autodidak.

“Ada empat relawan yang mengelola lokasi ini. Terkadang ada tambahan calon relawan tapi tak bertahan lama, karena tenaganya memang tak dibayar,” katanya. [FAZ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense