Sebelumnya
Sesuai Target
Direktur Utama (Dirut) PT Jakpro Iwan Takwin mengatakan, untuk merealisasikan rencana tersebut pihaknya intens berkomunikasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kini, pihaknya masih menunggu rekomendasi izin trase Fase 1B dari Dirjen Perkeretaapian Kemenhub.
“Alhamdulillah, terakhir minggu lalu ketemu sama Dirjen Perkeretaapian itu tidak ada isu. Prosesnya berjalan sesuai target,” kata Iwan.
Iwan bilang, dua bulan lagi rekomendasi izin trase itu terbit. Dia memastikan, pembangunan jalur LRT Jakarta trase Velodrome-Manggarai tidak akan berdampak pada penggusuran warga.
Sebab, tiang rel serta stasiun LRT Jakarta fase 1B tersebut dibangun di atas jalur hijau, bukan lahan pemukiman. “Jalurnya itu semua di tengah jalan, di median jalan. Jadi, tidak terdampak rumah,” kata Iwan.
Baca juga : Peternak Terdampak PMK Bandung Barat Kembali Terima Bantuan Kementan
Hanya saja, lanjut Iwan, pembangunan ini kemungkinan akan berdampak pada penebangan sejumlah pohon. Namun, Jakpro berkomitmen melakukan penggantian pohon sesuai regulasi.
“Itu sudah di-mapping dan didesain, kelihatan ada berapa pohon,” bebernya.
Selain itu, dia tak menampik pengerjaan konstruksi LRT fase 1B ini akan mengganggu lalu lintas. Namun, sebisa mungkin, pihaknya berupaya mengatur metode pekerjaan untuk mengurangi dampak kemacetan yang akan terjadi.
Direncanakan, LRT Jakarta fase 1B ini memiliki panjang 6,4 kilometer dengan 5 stasiun. Yakni Stasiun Pemuda, Stasiun BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai. Saat ini, baru 6 stasiun LRT yang telah beroperasi dengan panjang 5,2 kilometer pada fase 1.
Untuk melanjutkan pembangunan LRT Jakarta trase Velodrome-Manggarai, Pemprov DKI memberikan PMD sekitar Rp 900 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2023.
Baca juga : Resmi Dilantik, Srikandi Donor Darah Indonesia Bantu Edukasi Masyarakat
Direktur Utama LRT Jakarta Hendri Saputra mengatakan, pihaknya membutuhkan investasi Rp 5,5 triliun untuk proyek tersebut. Anggaran itu Rp 5,2 triliun untuk infrastruktur dan sistem dan Rp 300 miliar untuk rolling stock.
Nilai investasi ini lebih kecil dibandingkan LRT fase 1 rute Kelapa Gading-Velodrome yang menghabiskan Rp 6 triliun. Hendri mengaku, seluruh kajian studi kelayakan proyek ini sudah siap untuk basic design-nya.
“Nanti kontraktor bisa melakukan pengembangan pada tahap selanjutnya,” ucapnya.
Hendri mengakui, seluruh titik integrasi terhadap stasiun ini sudah didiskusikan dengan seluruh stakeholder. Seperti Dinas Perhubungan DKI Jakarta dan Kemenhub.
Dia menyebut, fase 1B ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan sudah masuk ke Permenko Perekonomian Nomor 21 Tahun 2020 serta sudah di-kick off oleh Kementerian Perekonomian dan Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Nantinya, LRT akan terintegrasi dengan BRT Transjakarta dan KAI. “Harapannya ini meningkatkan trase LRT Jakarta,” ujarnya.
Baca juga : Kendaraan Listrik, Kearifan Lokal Bertransportasi Masyarakat Asmat
Hendri optimistis LRT dapat mengangkut 80–100 ribu penumpang per hari. Target penumpang LRT ini merupakan hasil kajian feasibility study dalam proyek LRT Jakarta dari Velodrome-Manggarai.
“Ini target optimis ridership sekitar 180 ribu,” ujarnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.