BREAKING NEWS
 

Warga Diimbau Tetap Pake Masker

Awas, Virus Mematikan Marburg Masuk Jakarta

Reporter : DEDE ISWADI IDRIS
Editor : MARULA SARDI
Rabu, 5 April 2023 07:30 WIB
Kepala Seksi Surveilans Epi­demiologi dan Imunisasi Dinkes DKI Ngabila Salama. (Foto: Ist).

 Sebelumnya 
Virus ini satu family dengan virus ebola. Penularan kepada manusia terjadi melalui kontak langsung dengan orang ataupun hewan yang terinfeksi, atau melalui benda yang terkontaminasi oleh virus Marburg.

Marburg menular lewat cairan tubuh langsung dari kelelawar/primate. Kelelawar host alami virus Marburg yaitu Rousettus aegyptiacus bukan merupakan spesies asli Indonesia. Meski begitu, Indonesia masuk jalur mobilisasi kelelawar ini.

Gejala penyakit virus Mar­burg mirip dengan penyakit lain seperti malaria, tifus dan demam berdarah, yang banyak ditemukan di Indonesia. Hal ini, menurut Syahril, menyebabkan penyakit virus Marburg susah diidentifikasi.

Gejala penyakit tersebut beru­pa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual muntah, diare dan perdarahan. Penyakit ini juga dapat menyebabkan perdarahan pada hidung, gusi, vagina atau melalui muntah dan feses.

Baca juga : Warga Desa Kepet Madiun Antusias Ikuti Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Oleh GGN Dukung Ganjar

Belum ada vaksin untuk mencegah penularan virus ini. Dan, belum ada obat khusus dalam penyembuhan.

“Pengobatan bersifat sim­tomatik dan suportif, yaitu mengobati komplikasi dan menjaga keseimbangan cairan serta elek­trolit,” ucap Syahril.

Epidemiolog Griffith Univer­sity Australia, Dicky Budiman mengatakan, dengan mere­baknya Covid-19 varian XBB 1.16 dan virus Marburg, warga harus menerapkan pola hidup sehat dan disiplin bermasker.

Menurut Dicky, dari beberapa laporan menyebutkan varian XBB 1.16 berpotensi menyebar lebih cepat.

Baca juga : Orang Pajak Pake Konsultan Pajak Ramaikan Jagat Maya

“Di India dan Amerika ka­susnya cepat sekali menyebar. Artinya kemampuan varian ini dalam menginfeksi luar biasa lebih cepat,” kata Dicky.

Meski begitu, lanjut Dicky, tidak perlu panik karena imu­nitas masyarakat saat ini masih cukup efektif dalam mencegah keparahan dan kematian akibat berbagai varian Covid-19. Na­mun begitu, masyarakat tetap harus waspada.

Soal virus Marburg, Dicky menilai, berpotensi menjadi pandemi dengan angka kematian yang tinggi. Hal ini mengingat karakteristik virus Marburg yang sangat cepat menular. Dan, belum tersedia vaksin dan obatnya.

Diungkap Dicky, dari delapan kasus yang ditemukan di Guinea Khatulistiwa, lima di antaranya meninggal dunia.

Baca juga : Sukarelawan Nelayan Pesisir  Pendukung Ganjar Membagikan Jaring Untuk Nelayan Indramayu

“Luar biasa besar sekali ke­matiannya atau fatality rate,” katanya.

Menurut dia, Indonesia tidak bisa dianggap aman dari Mar­burg. Sebab, virus ini bisa diba­wa pelaku perjalanan interna­sional dari luar negeri. Kondisi ini, menunjukkan dunia kian rentan terhadap wabah.

Meski begitu, terang dia, virus ini bisa dilokalisir. Caranya, setiap orang harus tetap meng­gunakan masker, rajin mencuci tangan dan menjaga pola hidup sehat. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense