Sebelumnya
Publikasi lain dari badan yang sama menyebutkan, risiko masuk rumah sakit akibat infeksi Omicron turun 65 persen pada mereka yang sudah divaksin dua kali, dan turun 81 persen pada yang sudah divaksin 3 kali, dibanding mereka yang tidak mendapat vaksin sama sekali.
Penelitian lain dari Skotlandia juga menunjukkan bahwa mereka yang sudah mendapat vaksinasi dosis ketiga/booster memiliki risiko bergejala 57 persen lebih rendah, bila terinfeksi Omicron.
Di Australia, Kelompok Penasihat Teknis Australia tentang Imunisasi (ATAGI) memberikan rekomendasi penggunaan vaksin Moderna dan Pfizer sebagai booster pada mereka berusia di atas 18 tahun. Termasuk, pada wanita hamil.
Baca juga : Jokowi Tahu Isi Dompet Rakyat
Pihak Otoritas Kesehatan Australia baru akan menggunakan vaksin AstraZeneca sebagai booster, pada mereka yang menerima vaksin primer AstraZeneca dan memiliki kontraindikasi untuk mendapat booster dengan vaksin mRNA.
Kebijakan di Indonesia
Secara umum, pemberian booster dengan vaksin mRNA memang untuk meningkatkan antibodi, yang disebut imunitas humoral. Serta mengaktifkan sel T, yang dikenal dengan imunitas seluler.
Baca juga : Pemerintah Jamin Vaksin Booster Cukup Dan Tak Basi
Beberapa negara juga menggunakan vaksin Moderna setengah dosis, untuk pemberian booster. Di samping memberikan efek proteksi yang tetap terjamin baik, pemberian booster setengah dosis ini juga bisa mencakup lebih banyak orang.
Kebijakan di negara kita tentu sudah berdasar kajian oleh BPOM dan ITAGI.
Berhubung pemberian vaksin booster di dunia juga baru berjalan beberapa bulan, maka sejauh ini, dunia belum punya bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan apakah booster ulangan kelak diperlukan. Kalau memang diperlukan, berapa lama jaraknya.
Baca juga : KSP: Jangan Khawatir, Manfaat Vaksin Booster Sudah Dikaji Secara Ilmiah
Di sisi lain, kita juga tahu bahwa sudah ada negara yang memulai pemberian vaksin Covid-19 dosis keempat pada warganya.
Kita tunggu data ilmiah lebih lanjut, yang tentunya menjadi dasar pengambilan kebijakan publik di negara kita. ■
Penulis adalah Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Guru Besar FKUI, mantan Direktur WHO Asia Tenggara, dan mantan Dirjen P2P & Kepala Balitbangkes
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.