Sebelumnya
Sudah ada pembahasan ke sana?
Sudah. Tapi belum kita godok.
Lalu, bagaimana mengantisipasi maraknya hoaks di medsos?
Itu sudah sejak dulu. Itu karena tidak adanya pembinaan. Selama ini, mereka bukan bagian dari kita. Karena di Dewan Pers belum ada kamarnya. Sehingga ini bagian yang berkembang secara mandiri di masyarakat.
Baca juga : Jadi Ketua Kelas, Pram Bongkar Rahasia Dapur Kabinet Jokowi
Selain itu, saran saya, masyarakat harus semakin cerdas. Sehingga bisa melakukan self censoring, atau self filtering. Kalau masyarakat sudah mampu melakukan self censoring, mereka tidak sembarang ambil berita. Dengan kondisi ini, hoaks akan jadi sampah dengan sendirinya.
Tapi, kalau masyarakatnya belum bisa melakukan atau belum punya kompetensi atau kemampuan self censoring, ya mereka bisa termakan informasi yang sesat dan menyesatkan. Akhirnya, mereka bisa terkontaminasi.
Jadi, saya kira paralel. Teman-teman penggerak media sosial juga kita imbau jangan mengeluarkan bledug yang sesat-menyesatkan. Kapasitas masyarakat pun harus ditingkatkan untuk melakukan self censoring.
Mengenai tingkat kesejahteraan dan kemerdekaan pers, bagaimana perkembangannya?
Baca juga : Ketuaan, Hibah Kapal Korvet Sebaiknya Ditinjau Ulang
Indeks kemerdekaan pers, alhamdulillah terus menerus meningkat. Setiap tahunnya kita ukur melalui indeks kemerdekaan pers. Tetapi kan tidak serta merta dengan indeks itu selesai.
Mengenai kesejahteraan, kita sama-sama tahu, tidak hanya jurnalis, perusahaannya juga kena imbas akibat pandemi ini. Kita harus sama-sama saling memahami. Semuanya berada di masa sulit.
Tapi, sekali lagi, informasi nggak boleh berhenti. Oleh karena itu, alhamdulillah meskipun berat, dengan segala macam ikhtiar, masih bisa bertahan. Meskipun ada juga yang meninggal perusahaannya. Karena itu, tema-tema kita adalah yang terkait dengan sustainability, keberlangsungan media dalam suasana pandemi ini.
Kalau di internal Dewan Pers, seperti apa?
Baca juga : Jadi Dewan Penasihat, Ridwan Kamil Siap Berkontribusi Di ICMI
Semua tahu, bahwa kita dalam dua tahun terakhir ini mengalami pandemi. Sehingga perubahan harus kita lakukan. Roda organisasi ini kan nggak boleh berhenti. Maka, the way-nya itu harus berubah.
Hal apa yang harus diubah?
Yang tadinya itu kita mengelola organisasi dengan cara face to face, fisik, sekarang ada yang sudah masuk ke wilayah cyber. Oleh karena itu, harus kita manfaatkan, bagaimana caranya organisasi tetap jalan. Kita harus melakukan perubahan atau mengubah diri, yang tadinya mengelola secara physical space, sekarang harus memanfaatkan cyber space.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.