BREAKING NEWS
 

Wadas Adem, Parigi Memanas

Ya Allah, Karena Tambang, 1 Nyawa Rakyat Melayang

Reporter : M ADE AL KAUTSAR
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 15 Februari 2022 08:35 WIB
Beginilah suasana saat warga menggelar aksi unjuk rasa di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Minggu (13/2). Mereka menolak aktifitas tambang yang dilakukan PT Trio Kencana. Dalam aksi ini, seorang warga tewas kena timah panas. (Foto: Istimewa).

 Sebelumnya 
Hingga saat ini, belum diketahui pelaku penembakan tersebut. Ia berharap, ada langkah saintifik yang ditempuh kepolisian untuk mencari tahu perjalanan peluru di ruang udara dari senjata api pada sasaran tertentu. Salah satunya lewat uji balistik. Tujuannya untuk membandingkan peluru yang ditemukan di TKP dengan peluru pada senjata yang dicurigai. Dari sana, diharapkan dapat ditemukan siapa pelaku penembakan dan dari jarak tembak berapa, pelaku melepaskan tembakannya.

Mendapat kabar mengenaskan itu, Mabes Polri tak tinggal diam. Satu tim Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri langsung dikerahkan guna mengusut kematian Erfadi. "Perintah Bapak Kapolri," kata Kepala Divisi Humas Polri (Kadiv) Irjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, kemarin.

Baca juga : Hadapi Omicron, Vaksin Masih Efektif Cegah Tingkat Keparahan

Tim Propam akan membantu Divisi Propam Polda Sulawesi Tengah dan tim yang sudah dibentuk untuk mengusut penembakan tersebut. "Tim yang sudah dibentuk Kapolda ada Dirkrimum, ada Inafis. Kemudian hari ini juga didatangkan tim Labfor (Laboratorium Forensik) dari Polda Sulteng," jelasnya.

Sebelum Parigi, bentrok antara warga dan aparat juga terjadi di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah (Jateng). Puluhan warga ditangkap karena membawa senjata tajam pada Selasa (8/2). Namun, keesokan harinya, mereka dilepas.

Baca juga : Tommy Tak Punya Waktu Melawan

Kini, kondisi di Wadas mulai berangsur-angsur adem. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Komnas HAM, hingga tim dari Kantor Staf Presiden (KSP) sudah turun ke sana. Penjagaan dari aparat keamanan dilaporkan tak lagi terlihat, warga juga mulai beraktivitas seperti biasa.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menyayangkan cara negara yang dinilainya sangat represif dan eksesif menangani masyarakat yang melakukan protes terhadap aktivitas tambang di wilayahnya. "Dalam sepekan terakhir, negara begitu represif dan eksesif dalam menangani masyarakat yang memprotes tambang," kritik Usman dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Baca juga : Insya Allah, Gelombang Ketiga Covid Tak Datang

Ia tidak ragu menyatakan bahwa upaya penegakan hukum yang dilakukan pihak kepolisian itu brutal dan merendahkan martabat manusia. Kepolisian dinilai berlebihan dalam menanggapi protes rakyat. "Siklus kekerasan ini harus dihentikan. Negara wajib melindungi mereka yang berbeda pendapat dengan negara," pungkasnya. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense