Sebelumnya
Khusus wilayah Sumatera Barat, kata dia, para tersangka yang sudah ditangkap itu, memberikan keterangan bahwa struktur NII berada pada tingkat cabang/ kecamatan atau CV IV/Padang dalam istilah organisasi terlarang tersebut. Anggotanya mencapai 1.125 orang, tapi hanya sekitar 400 orang yang masuk kategori aktif.
Sisanya, anggota yang sudah dibaiat, tapi belum dilibatkan dalam organisasi. Namun, anggota yang non aktif ini, bisa diaktifkan sewaktu-waktu bila dibutuhkan.
Benarkah tudingan Densus ini? Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Imron Rosyadi percaya dengan data yang disampaikan Densus. Dia pun mengapresiasi gerak cepat Densus mengungkap kelompok ini sebelum melakukan aksinya.
Baca juga : BNPT Kebut Peresmian KTN Di 4 Provinsi
“Nahdlatul Ulama tentu akan terus memberikan dukungan penuh kepada kepolisian dalam upaya penegakan hukum terhadap para pelaku, yang jelas-jelas ingin melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintahan yang sah,” tegas Imron, saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin.
Dia optimis, pemerintah tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok yang mencoba mengganggu keutuhan NKRI. “Siapapun yang ingin melakukan pemberontakan dan menggalang kekuatan untuk mengganti ideologi Pancasila dan NKRI, serta melawan pemerintahan yang sah dengan cara-cara inkonstitusional atas alasan apapun, harus ditindak dengan tegas,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Ketua PBNU, Ahmad Fahrur Rozi. Dia bilang, kelompok dengan visi misi seperti NII berarti bughot, makar terhadap pemerintah. Haram dan wajib ditumpas. Menurutnya, ulama sudah sepakat bahwa tindakan bughot atau pemberontakan terhadap pemerintah yang sah adalah haram.
Baca juga : Sikap Jokowi Tetap Sama
Terpisah, Pengamat Terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Dyah Kartika menilai beberapa kelompok terorisme di Indonesia mempunyai cita-cita yang sama seperti NII. Misalnya Jamaah Islamiah.
“Belakangan ini, tahapan mereka bersiap untuk memiliki banyak pendukung dan simpatisan, sambil mempersiapkan pasukan militer. Makanya, ada pelatihan anggota di sana hingga ke Suriah,” sebut Dyah, kemarin.
Upaya NII menggulingkan pemerintah, diakui Dyah, bukan hal baru. Namun, telah ada sejak masa kemerdekaan Indonesia. “Lalu, aktivitas mereka sempat tiarap selama Orde Baru. Beberapa orang membuat kelompok-kelompok baru (splinters) seperti JI dan sebagainya. Jadi, ini bukan hal baru sama sekali,” jelasnya.
Baca juga : Sah, Maudy Ayunda Jadi Jubir Presidensi G20 Indonesia
Namun, tidak semua pihak percaya dengan tuduhan yang disampaikan Densus. Anggota Komisi I DPR, Fadli Zon meragukan klaim Densus soal NII di Sumbar dan pergerakannya. Dalam sejarahnya, kata dia, Sumbar merupakan provinsi yang menyumbangkan tokoh-tokoh besar dalam kemerdekaan Indonesia.
Politisi Partai Gerindra ini menuturkan, 3 dari 4 pendiri RI berasal dari Sumbar. Yakni, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Tan Malaka. “Yang benar aja ada NII di Sumbar mau memberontak pakai sebilah golok,” cuit Fadli di akun Twitter pribadinya, @FadliZon.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu pun mengaku aneh kalau untuk menggulingkan pemerintah, senjata yang dimiliki hanya berupa golok. “Golok biasanya dipakai untuk ambil kelapa dan berbuka puasa,” ledek eks Wakil Ketua DPR ini. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.