BREAKING NEWS
 

Heboh Soal Ganja Medis, Ini Penjelasan Prof. Zubairi Djoerban

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Jumat, 1 Juli 2022 12:05 WIB
Ilustrasi ganja medis (Foto: Net)

 Sebelumnya 
Lalu, bagaimana dengan kemungkinan mengalami high? Soal ini, Prof. Beri mengatakan, dosis yang dibutuhkan untuk tujuan medis biasanya jauh lebih rendah, ketimbang untuk rekreasi.

"Yang jelas, saat pengobatan, pasien tidak boleh mengemudi. Penting dicatat, THC dan CBD tidak boleh dipakai sama sekali oleh perempuan hamil dan menyusui," jelasnya.

Aspek Keamanan

Prof. Beri menjelaskan, para ilmuwan tak punya cukup bukti untuk menyatakan konsumsi ganja dengan cara tertentu, lebih aman dari yang lain.

Baca juga : Begini Cara Media Liputan Jakarta Fair Kemayoran 2022

"Yang jelas, merokok ganja ya merusak paru dan sistem kardiovaskular. Sama kayak tembakau. Efek ganja lainnya, bisa Anda cari sendiri," ujarnya.

Bagaimana dengan vaping ganja?

"Ini juga menjadi isu. Banyak sekali laporan produk vaping yang mengandung tetrahydrocannabinol (THC), berkaitan dengan cedera paru paru bahkan kematian," paparnya.

Cerebral Palsy

Baca juga : Bantu Sukseskan Mudik, DLU Raih Penghargaan Dari Kemenhub

Seperti yang saat ini ramai dibicarakan, studi penggunaan THC dan CBD pada cerebral palsy memang ada. Namun, Prof. Beri mengatakan, tingkat manfaatnya masih rendah.

"Karena itu, saya usulkan, ada bahasan khusus untuk menolong buah hati dari Ibu Santi Warastuti oleh para ahli terkait," tuturnya.

Sebagai dokter, Prof. Beri tak mau gegabah soal ganja medis.

"Saya harus benar-benar menimbang, apakah ganja lebih aman, dibanding obat lain yang akan saya resepkan. Saya juga harus tahu, bagaimana kemungkinan interaksi obat? Apakah justru memperburuk kecemasan, atau berpotensi menyebabkan gangguan psikotik. Banyak hal yang mesti diperhatikan," katanya.

Baca juga : Teken MoU Dengan MediSage, PDUI Ingin Tingkatkan Kompetensi Dokter

"Yang terang, setiap obat memiliki potensi efek samping, beberapa di antaranya bahkan serius. Termasuk, ganja medis yang harus diminimalkan. Ketepatan dosis ini krusial untuk menjaga kondisi pasien, supaya bisa mendapatkan efek obat yang dituju," pungkas Prof. Beri. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense