Sebelumnya
“Termasuk yang ada di Indonesia, seperti perusahaan sebesar GoTo sekalipun,” ucapnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Dari pengamatan Nailul, tak heran mengapa akhir-akhir ini tak sedikit pula perusahaan teknologi yang memberlakukan biaya-biaya tambahan, atas layanan yang diberikan kepada pelanggan. Biaya-biaya dari layanan itu dibutuhkan untuk membuat perusahaan lebih sustain dan arus kas mereka membaik.
Ia berharap, seluruh karyawan yang terdampak PHK diberikan kompensasi atau pesangon yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Baca juga : 600 Karyawan Segera Di-PHK, GoTo Pastikan Tak Pengaruhi Layanan
“Supaya kehidupan karyawan yang terkena PHK tidak langsung terganggu,” kata Nailul.
Lebih jauh, ia menyampaikan, kenaikan tingkat suku bunga acuan menyebabkan investasi akan berkurang dan konsumsi juga akan melemah. Akibatnya, kemampuan perusahaan untuk ekspansi bisnis akan menurun.
Di saat yang sama, beban perusahaan akan bertambah dan memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi, salah satunya melalui PHK.
Baca juga : Pengacara Nggak Dampingi, Penyidik KPK 2 Kali Batal Periksa Ricky Ham
“Di Amerika Serikat pun banyak perusahaan besar yang melakukan efisiensi karyawan, karena efek kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral,” sebutnya.
Indonesia juga merasakan fenomena serupa seiring kebijakan suku bunga acuan yang progresif oleh Bank Indonesia (BI). Alhasil, banyak sektor industri yang mulai kelimpungan. Tak terkecuali perusahaan teknologi digital.
Artinya, masa sulit mulai memasuki bisnis digital di Tanah Air. Perusahaan tersebut melakukan efisiensi karyawan supaya mampu bertahan secara berkelanjutan. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.