RM.id Rakyat Merdeka - Lulusan perguruan tinggi didorong untuk tidak berfokus mencari pekerjaan. Namun, mereka harus bisa menciptakan lapangan kerja baru berbekal dari pengetahuan yang didapat di bangku kuliah. Selain itu, untuk dapat menciptakan lapangan kerja baru, mereka juga perlu meningkatkan literasi.
Untuk menciptakan hal, perpustakaan telah menyediakan berbagai fasilitas. "Perpustakaan menangkap dua peran penting tersebut, yakni kemakmuran/kesejahteraan dan juga intelektualitas," ujar Direktur Politeknik Negeri Jember Saiful Anwar, ketika membuka talkshow Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Auditorium Vokasi Politeknik Negeri Jember (Polije), Senin, (24/7).
Kehadiran perpustakaan membawa gairah berliterasi. Dalam berbagai kesempatan, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menyampaikan, literasi sebagai kedalaman ilmu pengetahuan yang dapat diimplementasikan dengan inovasi dan kreativitas untuk memproduksi barang/jasa yang berkualitas.
Dalam kesempatan itu, Syarif Bando menyebutkan, penguatan literasi ini sangat penting agar bangsa Indonesia tidak terus menjadi konsumen. "Indonesia sudah 77 tahun merdeka namun masyarakatnya masih berbasis konsumen. Belum berani menjadi masyarakat produktif," ujarnya.
Syarif Bando menantang para mahasiswa berani terjun langsung mempraktikkan pengetahuan yang diperolehnya untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dengan literasi yang kuat, dia yakin, para mahasiswa bisa melakukan itu.
Baca juga : Kepala Perpusnas Dorong Lulusan Unimen Ciptakan Lapangan Kerja
"Satu peluru hanya sanggup menembus satu kepala dan ampuh digunakan di medan perang. Namun, satu buku justru sanggup menembus jutaan kepala, dan bahkan menumbuhkan keilmuan baru," terang Syarif Bando.
Hal senada disampaikan anggota Komisi X DPR Muhammad Nur Purnamasidi. Dia menjelaskan, urusan literasi bukan main-main lagi. Tidak bisa dipandang enteng, karena menyangkut pembangunan sumber daya manusia.
"Undang-Undang Dasar sudah menyiratkan jelas bahwa tujuan bernegara salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, justru alokasi anggaran literasi tidak sampai Rp 1 triliun," sesalnya.
Indonesia dengan segala potensi kekayaan alamnya sering disebut akan mampu menghasilkan beragam komoditas unggulan. Idealnya, masyarakat Indonesia punya kemampuan mengelola sumber daya alam dengan baik. Sayangnya, hal tersebut belum nampak.
"Kita masih lebih berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik dibanding infrastruktur sumber daya manusia. Masih berpikir jangka pendek," ucapnya.
Baca juga : Netralitas ASN Masuk Kerawanan Luar Biasa
Infrastruktur pembangunan manusia seperti literasi manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang. Sebab, maju mundurnya negara bisa ditentukan dari investasi keilmuan yang ditumbuhkan dari saat ini. "Saya sering sampaikan dalam pembahasan anggaran agar Pemerintah turut memprioritaskan pembangunan SDM sebagai upaya memanfaatkan bonus demografi penduduk," imbuhnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jember Yuliana Harimurti, yang ikut menjadi narasumber talkshow, mengakui bahwa ikhtiar meningkatkan literasi tidak semudah yang dipikirkan. Selama ini, mengajak orang untuk tertarik dan mencintai buku seperti menempuh jalan terjal.
Yuliana lantas mengisahkan ketika berkeliling dengan Mobil Perpustakaan Keliling (MPK) di salah satu wilayah Jember bagian utara. Saat itu, armada perpustakaan kelilingnya tidak ada yang mendatangi. Setelah ditunggu beberapa lama, tidak ada yang datang. Hingga akhirnya ia pun mencoba untuk mencari tahu penyebabnya.
Jawabannya cukup mengejutkan. Warga di sana beranggapan bahwa membaca tidak penting. Padahal keadaan ekonomi dan sosial mereka dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. "Ini mengindikasikan bahwa upaya menumbuhkan literasi (pemahaman yang baik) itu sulit," ungkap Yuliana.
Perguruan tinggi yang merupakan kawah candradimuka lahirnya intelektual masa depan, mesti menyadari kalau lulusan mereka nantinya adalah penerus estafet pembangunan. Tidak bisa berdiam diri menunggu orang lain berbuat.
Baca juga : Cegah Politik Uang Pemilu 2024, KPK Kampanyekan Hajar Serangan Fajar
"Mereka adalah generasi Z yang menjadi bagian dari keuntungan bonus demografi penduduk yang dialami Indonesia. Tidak semua negara mengalami posisi demikian. Jadi, beranikan diri mengubah mind set, melakukan inovasi dan hal produktif luar biasa lainnya," ucap dosen Politeknik Negeri Jember Budi Hariono.
Pada kesempatan yang sama, turut dilakukan penandatanganan MoU antara Perpusnas dengan Politeknik Negeri Jember dan penyerahan bantuan buku komunitas oleh anggota Komisi X DPR disaksikan Kepala Perpusnas kepada lima komunitas di wilayah Jember, yaitu In-Terest (Institute for Sosial and Rurel Potential Studies), JDC (Jember Development Center), PRAMITA (Perempuan Mandiri Tercinta), Lembaga Pemuda Kreatif, dan Karya Buntaran Kidul.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.