BREAKING NEWS
 

Denny JA, Fernando Botero Dan Lukisan AI Di Mahakam 24 Residence

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 5 Juni 2024 22:12 WIB
Lukisan AI karya Denny JA. (Foto: Ist)

 Sebelumnya 
Hati saya tergores. Saya membayangkan bocah itu menatap sedih kampung halamannya yang porak poranda akibat serangan bom Israel jahat. Anak itu begitu merindukan langit yang biru. Karena yang ia lihat setiap hari adalah langit berwarna merah dan abu-abu pekat, akibat serangan bom di udara yang entah kapan akan berhenti. Dengan berat hati, ia pun pergi dengan sayapnya meninggalkan kampung halaman yang dicintainya, untuk menemukan langit yang biru di atas sana.

Berada di hotel ini membawa pikiran saya berkelana ke sana kemari, dan membawa kesadaran baru bahwa teknologi menawarkan alternatif  baru untuk berekspresi. Dalam konteks ini adalah AI.

Sebagai manusia, saya memiliki keresahan tersendiri saat mengamati atau membaca fenomena sosial yang terjadi. Misalnya, ketika saya membaca berita mengenai satu keluarga yang memutuskan untuk bunuh diri dari atas gedung apartemen di Jakarta pada Maret 2024 lalu. Hati saya terusik, membayangkan bagaimana percakapan terakhir yang muncul di antara ayah, ibu, dan kedua anaknya itu sebelum akhirnya bunuh diri.

Keterusikan itu rasanya ingin saya ungkapkan dan ekspresikan dalam sebuah karya yang indah, agar perasaan yang sama juga bisa ditularkan ke orang lain yang menikmati karya saya, dalam bentuk lukisan atau tulisan. Saya belum menjadi penulis atau pelukis professional. Dua hal itu baru sebatas hobi bagi  saya. Rasanya suatu saat ingin saya tuangkan dalam lukisan menggunakan AI seperti Denny JA, dan akan memberikan kesenangan kepada saya seperti diungkapkan oleh Botero.

Baca juga : Denny JA Bicara Agama Cinta Dan Paradoks Dunia Modern

Menurut saya Denny JA telah membangkitkan kesadaran baru tentang cara berekspresi, dalam hal ini berkolaborasi dengan AI. Bagi Denny JA melukis bukan soal cat, kuas, dan galeri seni.

Melukis adalah soal kemampuan mengemas keresahan, narasi, cerita, dan sudut pandang seorang pelukis. Jadi, ini bukan soal teknis semata. Juga jiwa dari lukisan itu. Cat dan kanvas adalah salah satu alat saja. Sama dengan Artificial intelligence juga alat.  Sedangkan galeri seni dan museum adalah salah satu media untuk memamerkannya. Di era saat ini, tempat untuk memamerkan karya seni bahkan lebih luas lagi, seperti di hotel. Atau di aneka media sosial. Rasa senang mengalir ketika kita berkarya dan memamerkan karya itu, di mana pun media yang dipakai.

Di sini saya teringat pada Botero tadi. Saya pertama kali jatuh hati pada karya Botero yang khas, yaitu proporsi tubuh dan bentuk yang bervolume saat melihat langsung karya-karyanya di Museo Botero di Kawasan La Candelaria, di jantung Kota Bogotá, Colombia tahun 2015 silam. Saat itu saya sedang mengikuti short course di Universidad Externado de Colombia melalui program ELE Focalae atau Foreign Language Focalae initiative.

Seperti saya sebut di atas, saya juga tertarik pada Botero tentang sudut pandangan tentang lukisan yang tidak umum. Dia mempunyai kutipan yang terkenal: “art was created to give a pleasure”.

Baca juga : Teken MoU, Surveyor Indonesia Dan KIMA Dukung Kawasan Industri Makassar Berstandar Internasional

Banyak seniman yang tidak setuju dengan pandangannya. Tidak heran dia dihujani kritik bertubi-tubi. Dalam wawancara dengan The New York Times, beberapa bulan sebelum ia wafat di akhir 2023 lalu, Botero ditanyakan kembali soal sikapnya mengenai karya seni.

Sang pewawancara menanyakan padanya, banyak kritik seniman menyebut bahwa jika menurut Botero karya seni diciptakan untuk memberikan kesenangan, maka itu adalah pelacuran. Botero menilai bahwa kritik seperti itu konyol. Kritik semacam itu juga yang membuat seni tampak terlalu serius.

Menurut Botero, seni diciptakan untuk memberikan kesenangan. Bahkan panorama sejarah seni rupa, hampir setiap lukisan merupakan potret, atau pemandangan keagamaan, atau lanskap, atau benda mati yang dikemas untuk memberikan kesenangan bagi yang melihatnya.

Saya mengamini pandangan Fernando Botero. Dengan cara ini saya menikmati  setiap lukisan AI di Mahakam 24 Residence. Saya menemukan kesenangan tersendiri. Ada ragam warna rasa yang muncul di hati saya saat mengarahkan mata ke lukisan-lukisan tersebut.

Baca juga : Penambahan Kementerian Bisa Dilakukan, Asal Sesuai Aturan

Oleh: Amelia Fitriani

CEO XYZ+ Agency

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense