BREAKING NEWS
 

Kiai Said Usul Presiden Kembali Dipilih MPR

Warga NU Berduka

Reporter : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 29 November 2019 06:53 WIB
Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Usulan Ketua PBNU Said Aqil Siradj agar Pemilihan Presiden mendatang dikembalikan ke MPR, membuat banyak pihak berduka. Termasuk, warga NU sendiri.

Beberapa tokoh NU mengungkapkan kekecewaan dan kesedihannya lewat cuitan di media sosial Twitter. Salah satunya datang dari intelektual muda NU Ulil Abshar Abdalla. “Saya amat sedih sekali karena PBNU mendukung pemilihan presiden melalui MPR. Pemilu langsung adalah salah satu capaian penting reformasi kita. Ini adalah kemunduran besar bagi demokrasi. NU tak boleh menjadi bagian dari kekuatan konservatif,” cuit Ulil di akun Twitternya, @ulil yang di retweet oleh pengamat politik Burhanuddin Muhtadi di Jakarta.

Ulil mengingatkan, pilpres langsung adalah salah satu penanda, negara ini benar-benar demokratis. “Kita selama ini melakukan diplomasi keluar, menjual Islam khas Indonesia yang ditandai dengan kompatibilitas Islam dan demokrasi. Kalau pilpres langsung diakhiri, maka diplomasi Islam kita akan “ambyar”!” imbuhnya.

Menantu dari KH. Mustofa Bisri itu pun mengimbau para pengurus NU untuk tidak menjadi bagian dalam menyusun rencana sebagaimana dimaksud. “Ini adalah kemunduran besar bagi demokrasi. NU tak boleh menjadi bagian dari kekuatan “konservatif” untuk memundurkan demokasi kita,” tegas Ulil.

Baca juga : PBNU Dianggap Aneh

Tokoh intelektual muda NU Akhmad Sahal juga tak sepakat dengan usulan PBNU itu. “Pemilihan Presiden oleh MPR itu kemunduran bagi demokrasi. Saya sangat tidak sepakat! Pemilihan Presiden langsung itu keputusan rakyat. Suara rakyat adalah suara Tuhan,” kicau @sahaL_AS.

Usulan itu juga dikritik oleh Partai Demokrat. Wasekjen Demokrat Andi Arief menyebut, dia tidak menemukan satu kalimat pun dalam dokumen Munas NU tahun 2012 yang me nyebutkan, pemilihan Presiden kembali dipilih MPR seperti jaman Orba. Yang ada, soal Pilkada.

Adsense

Dia pun mengingatkan, NU adalah salah satu yang berjuang agar Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR. “Tahun 1990an tokoh dan intelektual NU termasuk berjuang agar Presiden tidak dipilih MPR. Ada apa NU sekarang?” tanya Andi.

Pengamat Politik, Yunarto Wijaya juga mengingatkan, PBNU sistem pemilihan presiden via MPR-lah yang membuat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, lengser dari kursi presiden. “Semoga para senior di PBNU gak lupa tentang sejarah kejatuhan Gus Dur yang disebabkan oleh sistem pemi lu seperti apa,” cuitnya lewat akunnya @yunartowijaya.

Baca juga : Presiden Milenial, Wapres Kolonial

Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini juga menyebut, berkaca dari pelengseran Gus Dur oleh MPR, dia menilai pilpres yang digelar secara langsung pada periode 2004-2019 jauh lebih stabil ketimbang saat presiden dan wapres dipilih MPR pada kurun 1999-2004. “Otoritas MPR yang besar bisa menimbulkan kekisruhan dalam kehidupan politik. Sebab ketidakpuasan elite bisa dengan mudah disalurkan pada keputusan politik yang belum tentu sejalan dengan kehendak rakyat,” ujar Titi, kemarin. Usulan ini, disebutnya akan membawa bangsa ini kembali ke zaman kegelapan, masa orde baru.

PKB menerima usulan Kiai Said sebagai masukan, nasehat, dan arahan. Usulan ini akan dikaji. “Kami akan berpikir, apakah nanti ide atau arahan dari PBNU akan diterima dari semua fraksi yang ada,” ujar Wakil Ketua MPR dari Fraksi PKB Jazilul Fawaid, kemarin. Tapi dia memastikan, MPR akan mengikuti aspirasi masyarakat.

Sementara Golkar mengusulkan agar dilakukan survey terhadap masyarakat. “Perlu tahu dulu kalau bangsa ini menginginkan seperti itu ya pembuktiannya seperti apa? Artinya ada survei yang resmi untuk kita tahu,” ujar Sekjen Partai Golkar Lodewijk Freidrich Paulus, kemarin.

Ketua DPR RI Puan Maharani juga menegaskan, harus ada kajian terkait manfaat dari usulan Kiai Said itu. “Itu akan dibahas di Komisi II. Wacana tersebut kan masih menjadi satu wacana, yang harus kita lihat itu kajiannya, apakah kita kembali ke belakang, mundur, apakah itu akan ada manfaat ke depan,” ujar Puan.

Baca juga : CT Semoga Puas

Menurut Puan, meskipun dalam pelaksanannya masih ada sejumlah permasalahan, sistem pemilihan presiden yang kini berlaku telah berjalan dengan baik. “Walau ada case by case yang tidak sesuai harapan kita, itu bukan berarti pemilu tidak berjalan baik dan lancar,” tandasnya. [OKT]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense