BREAKING NEWS
 

3 Buku Seri Pemikiran Menteri Agama Dibedah di UIN Jakarta

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 17 Juli 2026 16:44 WIB
Peluncuran dan bedah buku seri pemikiran Menteri Agama Nasaruddin Umar di UIN Jakarta. (Foto: Dok. Kemenag)

RM.id  Rakyat Merdeka - Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Peluncuran dan Bedah Tiga Buku Seri Pemikiran Menteri Agama (Menag), Prof. K.H. Nasaruddin Umar. Acara berlangsung di Auditorium Harun Nasution, Kampus I UIN Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (16/7/2026).

Tiga buku yang diluncurkan, yakni Pikiran yang Memurnikan: Jejak Mahakarya Prof. Nasaruddin Umar, Simpul Pemikiran Prof. Nasaruddin Umar, dan Artikel & Opini Pilihan Prof. Nasaruddin Umar. Ketiga buku ini merekam perjalanan pemikiran Menag dalam bidang keislaman, kebangsaan, kemanusiaan, dan peradaban.

Hadir dalam acara ini Menko Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia Yusril Ihza Mahendra, jajaran pimpinan Kementerian Agama (Kemenag), para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan perguruan tinggi Islam swasta di lingkungan Kopertais Wilayah I, para guru besar, akademisi, ulama, birokrat, cendekiawan, serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, mengapresiasi penerbitan seri pemikiran Menag ini. Ia menilai, peluncuran karya tersebut sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi literasi, budaya menulis, dan dialog akademik di lingkungan perguruan tinggi.

“Tiga buku karya Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar tidak hanya mendokumentasikan perjalanan intelektual beliau selama puluhan tahun, tetapi juga menghadirkan perspektif baru yang memperkaya khazanah keilmuan Islam kontemporer. Karena itu, peluncuran buku ini tidak semata-mata merupakan seremoni, melainkan bagian dari ikhtiar bersama membangun kembali tradisi intelektual di kampus," ujar Prof. Asep, seperti dimuat di laman kemenag.go.id.

Menurutnya, pemikiran-pemikiran Prof. Nasaruddin yang terangkum dalam ketiga buku tersebut—mulai dari hermeneutika gender, eko-sufisme, hermeneutika sosial, psikosufisme, hingga ekoteologi—merupakan kontribusi ilmiah yang sangat berharga bagi perkembangan studi Islam di Indonesia maupun dunia. Ia berharap, karya-karya tersebut menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya berbagai penelitian, skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, maupun karya akademik lainnya.

Baca juga : 5 Bendungan Diresmikan, Menteri PU Kebut Jaringan Irigasi Hingga Sawah

Prof. Asep menegaskan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab melahirkan generasi akademisi yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kepedulian sosial. Kampus harus terus melahirkan dosen, peneliti, dan cendekiawan yang mampu membimbing mahasiswa, mengembangkan tradisi berpikir kritis, serta mendiseminasikan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Semoga ketiga buku ini menjadi wasilah lahirnya gagasan-gagasan yang mencerahkan, memperkuat peradaban ilmu, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan dunia," harapnya.

Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar mengajak seluruh sivitas akademika menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya gagasan-gagasan besar melalui tradisi membaca, menulis, meneliti, dan menerbitkan buku. Menurutnya, budaya akademik tersebut harus terus ditumbuhkan, khususnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

"Semoga peluncuran buku pada hari ini menjadi bagian dari ikhtiar kita bersama untuk memperkuat tradisi intelektual Islam Indonesia dan melahirkan generasi akademisi yang produktif, terbuka, serta mampu berkontribusi di tingkat nasional maupun global," harapnya.

Adsense

Menag mengenang kuatnya tradisi intelektual yang pernah tumbuh di Ciputat pada masa kepemimpinan Prof. Quraish Shihab sebagai Rektor UIN Jakarta. Saat itu, hampir setiap malam Jumat kampus dipenuhi diskusi ilmiah yang melibatkan profesor, dosen, mahasiswa, dan berbagai komunitas intelektual dari berbagai perguruan tinggi.

"Di kawasan ini tumbuh berbagai komunitas akademik yang aktif berdiskusi dan berdebat secara sehat. Persaingan yang terjadi bukanlah persaingan politik semata, melainkan persaingan intelektual yang melahirkan gagasan-gagasan besar. Saya berharap semangat akademik seperti itu dapat kita hidupkan kembali," katanya.

Baca juga : Menkop Resmikan Pembukaan Kampus Pasca Sarjana Unpad di Jakarta

Menag juga menilai, Ciputat memiliki posisi strategis sebagai ruang perjumpaan tradisi pemikiran Timur dan Barat. Dari kawasan inilah lahir banyak pemikir yang mampu menjembatani tradisi keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

"Bagi saya, sudah saatnya Indonesia mengambil peran yang lebih besar dalam membangun peradaban Islam dunia. Timur Tengah telah menunaikan peran historisnya sebagai tempat lahirnya Islam. Kini estafet pengembangan peradaban Islam yang maju, damai, dan berkemajuan memiliki peluang besar untuk tumbuh dari Indonesia," tegasnya.

Menko Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Yusril Ihza Mahendra mengapresiasi produktivitas intelektual Prof. Nasaruddin. Ia mengaku telah membaca ketiga buku tersebut sebelum peluncuran dan menilai karya-karya itu mencerminkan keluasan perspektif keilmuan penulisnya.

Menurut Yusril, Nasaruddin merupakan sosok intelektual yang memiliki fondasi kuat dalam ilmu-ilmu keislaman sekaligus mampu mengembangkan pendekatan multidisipliner melalui kajian ilmu sosial, humaniora, dan metodologi modern.

"Seorang intelektual tidak boleh berhenti pada teks semata, tetapi harus mampu membaca dinamika sosial dan persoalan zaman. Dari situlah lahir karya-karya Prof. Nasaruddin Umar yang mampu menjembatani ajaran Islam dengan realitas kehidupan masyarakat modern," ujarnya.

Yusril menilai, keluasan perspektif Nasaruddin menunjukkan bahwa pengembangan ilmu keislaman tidak dapat dilepaskan dari dialog dengan berbagai disiplin ilmu. Pendekatan multidisipliner tersebut, menurutnya, menjadi modal penting dalam menghadirkan pemikiran Islam yang kontekstual, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan dan kemanusiaan.

Baca juga : Pramono Perluas Syarat Penerima Transportasi Umum Gratis di Jakarta

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peluncuran simbolis ketiga buku, penandatanganan poster buku, serta penyerahan buku kepada sepuluh tokoh nasional sebagai simbol penyebarluasan gagasan dan penguatan tradisi literasi.

Kesepuluh tokoh tersebut ialah Alwi Abdurrahman Shihab (mantan Menteri Luar Negeri dan Staf Khusus Presiden untuk Dunia Islam), Prof. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Franz Magnis-Suseno, S.J. (Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta), Prof. Hafid Abbas (Direktur Indonesia Study Center for Religion and Peace), Prof. Asep Saepudin Jahar (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Musdah Mulia (cendekiawan Muslim dan tokoh perempuan), Prof. Nurhayati (Rektor UIN Sumatera Utara Medan), Mochammad Afifuddin (Ketua KPU), Soraya Kaoroptham (Bendahara Pengurus Indonesia Association of Connecticut/IAC, Amerika Serikat), serta Prof. Muhammad Jafar Hafsah (mantan Sekretaris Jenderal ICMI).

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bedah buku yang menghadirkan Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof. Amin Suyitno, Rektor UIN Sumatera Utara Prof. Nurhayati, Pengajar Islamologi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Budhy Munawar Rachman, serta Rahmat Taufik Sihaputar selaku penulis buku. Diskusi dipandu Prof. Ali Munhanif.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense