BREAKING NEWS
 

Rektor UNHAN, Amarulla Octavian

Covid-19 Ancaman Senjata Biologi

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Jumat, 3 Juli 2020 05:54 WIB
Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Madya TNI Dr Amarulla Octavian dalam acara Ngopi Pagi yang diselenggarakan Rakyat Merdeka secara virtual, Kamis (2/7). (Foto: Tangkapan Layar Youtube)

 Sebelumnya 
Mekanisme mobilisasi pengaktifan komponen cadangan ini, kata dia, sudah diatur dalam Undang-undang Pengelolaan Sumber Daya Nasional (PSDN) yang disahkan DPR pada September 2019.

"Apabila kita mampu menangani Covid-19 ini, otomatis kita bisa menyelenggarakan kegiatan ekonomi," lanjut dia.

Sejauh ini, pemerintah masih terus menggodok protokol Corona untuk penyelenggaraan ekonomi. Agar memastikan protokol kesehatan itu berjalan dengan baik, komponen cadangan bisa diaktifkan untuk mengawasi.

Selain itu, kampus yang dipimpinnya itu juga berinisiatif mendirikan fakultas kedokteran militer dan fakultas farmasi militer pada tahun ini. "Utamanya untuk menghadapi senjata biologis Covid-19 ini," tandasnya.

Baca juga : Alhamdulillah, Obat Covid-19 Ditemukan

Sementara jurusan farmasi militer dibuka untuk memproduksi obat-obatan yang bisa digunakan oleh bangsa Indonesia, tanpa tergantung dari negara lain. Bahkan sejumlah dosen dan mahasiswa, lapor Octavian, yang saat ini sudah menyelenggarakan proses belajar-mengajar diarahkan juga untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dalam menangani Covid-19 ini.

Di sesi diskusi, Ratna Susilowati mempertanyakan pengaruh anggaran pertahanan yang dipangkas terhadap patroli keamanan, khususnya di sektor maritim. "Selama wabah corona, kami juga mendengar banyaknya manuver di Laut China Selatan. Itu bagaimana strategi pertahanan laut kita," tanya Ratna.

Oktavian memastikan anggaran untuk kegiatan operasional tidak dipotong. Yang dipangkas hanya kegiatan-kegiatan non-operasional. "Jadi patroli laut kita tetap sesuai ketentuan," terangnya.

Namun, ia membenarkan, frekuensi pelanggaran memang meningkat selama pandemi. Sebabnya, karena banyak negara tidak mau mengambil tindakan penangkapan. Karena setelah ditangkap, pelanggar harus diperlakukan sesuai dengan protokol Covid-19. Antara lain melakukan rapid-test hingga PCR. Untuk memastikan para pelanggar tidak membawa virus. Sementara, kebutuhan masyarakat akan pemeriksaan Covid-19 saat ini masih tinggi. "Kebijakan dari pimpinan itu lebih banyak mengusirnya saja," lanjut Oktavian.

Baca juga : Alhamdulillah, Pasien Corona Yang Sembuh Tambah Banyak

Pertanyaan selanjutnya dari Firsty Hestyarini. Dia mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang menyebutkan Covid-19 bisa mengancam stabilitas negara. "Sebagai rakyat apa yang bisa kita bantu?" tanya Kak Belen, sapaan akrabnya.

Oktavian menyebutkan, ada dua stabilitas keamanan yang perlu dijaga. Pertama, internal. Kedua, eksternal. Selama wabah, stabilitas internal lebih diutamakan. Sebab diperkirakan angka kriminalitas akan meningkat akibat banyaknya warga yang kehilangan pekerjaan. Sementara, di sisi lain pemerintah juga tidak ingin pelaku kriminal yang dipenjara malah membuat epicentrum Covid-19 baru.

Untuk itu, Presiden, kata Octavian, sudah memerintahkan TNI/Polri menjalankan manajemen krisis untuk memotong garis birokrasi. "Misalnya, prosedur penanganan biasanya melakukan 4 atau 5 tahapan birokrasi, sekarang dipotong, sehingga langsung dilakukan apa menjadi tindakan nyatanya," tandas Octavian.

Selain itu, lanjut dia, Unhan melakukan beberapa riset dan penelitian untuk menggenjot sektor produksi, terutama terkait sembako. "Kita harus betul mandiri dengan sembako, terutama beras," harapnya.

Baca juga : Bertahan dari Covid-19 dengan Mengubah Pola Hidup

Selain itu, diversifikasi pangan juga terus digalakkan di daerah-daerah yang sebelumnya menjadikan sagu, umbi-umbian sebagai makanan pokok. Pabrik gula juga harus diaktifkan semuanya. Termasuk garam dan telur.

"Lauk pak Kiki, kita nggak usah tergantung lagi dengan daging sapi. Kita utamakan sekarang adalah daging ikan-ikan, itu di laut melimpah ruah. Sekarang bapak bisa bayangkan kalau semua pasar-pasar tradisional dipenuhi oleh pedagang ikan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, akan mengkonsumsi ikan," sebutnya.

Soal sinkronisasi antara TNI dan Polri, aku Octavian, sudah lebih solid. Koordinasi dilakukan melalui pusat komando pengendalian (Puskodal). Manajemen yang memonitor situasi Indonesia 24 jam dari Mabes TNI dan Mabes Polri.

"Begitu ada indikasi, kita langsung bergerak. Ini adalah salah satu hikmah di balik Covid-19," tuturnya sambil tersenyum. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense